
Raja dari kerajaan hutan perbatasan merasa sangat kesal melihat hal ini. Para prajurit setianya tewas, dan sekarang para petinggi tangguh dan sama-sama setia, juga tewas. Bahkan didepan matanya sendiri.
Amarahnya sudah memuncak. Aura hitam berputar mengelilingi seluruh tubuhnya. Raja itu semakin terlihat mengerikan ketika kedua matanya dibuka dan ternyata berubah jadi merah menyala.
Mahkotanya hancur. Rambut panjang dan kusutnya terkulai berkibar. Tapi rambut kusut itu terlihat seperti duri.
Dua buah senjata pusaka yang terbuat dari tulang siluman tiba-tiba muncul di tangan kanan dan kirinya. Entah tulang siluman apa, yang jelas terlihat sangat tajam sekaligus berbahaya.
Udara tiba-tiba terasa sesak ketika raja itu bergerak. Bahkan angin pun terasa sangat tajam. Shin Shui dan tiga hewan peliharaannya merasaka hal yang sama. Nafas mereka terasa sesak.
Tapi apa boleh buat, belum sempat Shin Shui bersiap kembali, tiba-tiba saja raja itu sudah ada didepannya lalu menendang tubuh pemuda biru itu hingga terpental ke pinggir cukup jauh.
Ketiga hewan peliharaannya panik. Mereka ingin membantu, tapi segera dicegah oleh phoenix biru.
"Jangan menganggunya. Biarkan dia bertarung, kita harus yakin bahwa dia bukanlah pendekar yang mudah dikalahkan. Shui'er pasti akan menang, lebih baik kita masuk ke dalam lalu cari dimana Bunga Seribu Khasiat berada," kata phoenix biru kepada San ong dan Ong san.
Kedua siluman kera itu nampak ragu. Apalagi ketika mereka melirik dan melihat Shin Shui terus dihajar oleh raja hutan perbatasan tersebut.
"Tapi …"
"Tidak ada kata tapi-tapian. Percayakan saja semuanya pada Shui'er," kata phoenix biru memotong.
"Ba-baiklah. Mari kita masuk ke dalam untuk mencari Bunga Seribu Khasiat," kata San ong.
Lalu ketiganya masuk ke dalam kerajaan hutan perbatasan itu. Ketiganya mulai mencari dimana adanya Bunga Seribu Khasiat.
Keadaan didalam kerajaan ternyata tidak buruk. Bahkan terbilang unik. Semua kursinya terbuat dari kayu. Sedangkan kursi rajanya terbuat dari berbagai tulang siluman.
Ada juga kepala siluman yang dipajang pada dinding-dinding kerajaan. Kerajaan itu terbilang luas. Ketiganya terus mencari kesemua sudut ruangan. Tapi nihil.
Phoenix biru tidak mau menyerah, dia masuk semakin dalam hingga akhirnya menemukan sebuah lokasi di taman yang dikelilingi pagar tanaman berduri dan beracun.
"San ong, Ong san, kemari! Aku menemukan Bunga Seribu Khasiat," teriak phoenix biru.
__ADS_1
Kedua siluman kera itu lalu menghampiri phoenix biru. Ketiganya lalu mendekati pagar tanaman tersebut.
Benar saja, ditengah-tengah pagar berduri itu terdapat sebuah tanaman yang indah dan menyebarkan bau harum yang memanjakan penciuman.
Ternyata tanaman Bunga Seribu Khasiat itu sangat mirip dengan bunga mawar. Hanya saja setiap helai kelopaknya memiliki tujuh macam warna.
Bahkan bunga itu hanya ada satu saja. Tidak kurang dan tidak lebih. San ong lalu mengambil bunga itu ketika mendapat perintah dari phoenix biru.
"Benar, ini tanaman yang kita cari. Mari kita pergi dari sini dengan segera," ajak phoenix biru.
Mereka lalu pergi lagi keluar dengan membawa Bunga Seribu Khasiat. Tanaman yang mereka cari selama ini.
Ketika sampai diluar, terlihat Shin Shui masih saja dihajar tanpa diberi ampun. Seluruh tubuhnya sudah menerima luka yang tak ringan.
Melihat tanaman pusaka kerajaannya diambil, raja hutan perbatasan itu marah bukan main. Dia hendak menyerang phoenix biru dan dua siluman kera bersaudara.
Tapi buru-buru Shin Shui bangkit dan menghalanginya.
"Cepat pergi dari sini. Bawa bunga itu, jangan pikirkan aku. Nanti aku akan menyusul," kata Shin Shui menyuruh ketiga hewan peliharaannya pergi.
"Jangan banyak bicara. Pergi sebelum terlambat, aku akan segera menyusul kalian. Tunggu aku diluar hutan ini," kata Shin Shui dengan tegas.
"Ba-baiklah. Kami akan menunggu tuan muda disana," jawab Ong san.
Ketiganya lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa menengok lagi ke belakang. Mereka khawatir tidak jadi pergi jika melihat keadaan Shin Shui lagi.
Sampai saat ini Shin Shui masih terus dihajar habis-habisan. Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan. Pakaiannya sudah terkoyak lebih parah lagi.
Diseluruh tubuhnya terdapat luka, baik itu tusukan ataupun sayatan. Bahkan wajahnya menjadi lebam membiru.
Hal ini karena kecepatan yang dimiliki oleh raja hutan perbatasan itu benar-benar cepat sekali. Sehingga sebelum Shin Shui menghimpun kekuatan, raja hutan itu sudah kembali menghujaninya dengan serangan-serangan mematikan.
Memang raja hutan perbatasan ini bukanlah lawan yang mudah. Kekuatannya setara dengan Pendekar Dewa tahap enam pertengahan. Cukup jauh diatas Shin Shui.
__ADS_1
Tapi Shin Shui bukanlah pendekar yang mudah menyerah. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.
Sifat mudah menyerah hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan dan tidak percaya akan kemampuan. Dan tentunya Shin Shui tidak termasuk dalam golongan orang seperti ini.
Shin Shui melompat mundur cukup jauh ke belakang ketika melihat kesempatan baik. Dengan gerak cepat dia menghimpun tenaga dalamnya secara maksimal.
Sehingga hasilnya adalah aura biru yang menyelimuti tubuhnya kembali berkobar hebat setelah beberapa saat meredup.
Tepat ketika baru selesai menghimpun tenaga dalam, raja hutan perbatasan itu sudah berada didepan Shin Shui lagi.
Dia langsung memberikan serangan dengan senjata tulang pusakanya dan sebuah tendangan keras mengarah ke pinggang.
Tapi kali ini, serangan raja itu gagal mengenai sasarannya. Shin Shui ternyata dapat lebih cepat untuk menghindari kedua serangan berbahaya tersebut.
Pemuda biru itu mencabut Pedang Halilintar lalu maju menyerang raja hutan perbatasan. Dua senjata pusaka tingkat tinggi beradu hingga menimbulkan suara nyaring yang mampu memekakkan telinga.
Keduanya sama-sama memiliki kecepatan yang luar biasa. Sehingga yang terlihat hanyalah sinar putih dan biru yang menggulung kedua pendekar tersebut.
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"WUSHH …"
Dia mengubah gaya serangannya dengan perpaduan dua jurus pedang tingkat tinggi. Tapi sayangnya kali ini tidak berhasil sama sekali, semua serangan Shin Shui bisa digagalkan dengan mudah.
Tiga puluh lima jurus sudah berlalu, tenaga dalam Pendekar Halilintar itu mulai menulis. Nafasnya sudah sedikit terengah-engah. Keringat sudah bercampur dengan darah yang perlahan mulai mengering.
Begitupun dengan raja hutan perbatasan tersebut. Keringat sudah keluar deras dari tubuhnya. Tapi anehnya adalah nafas raja itu sama sekali tidak terlihat memburu.
Bahkan dia terlihat seperti tidak kelelahan meskipun secara perlahan kecepatan dan kekuatan serangan perlahan mengendur.
"TRANGG …"
Dua pusaka itu kembali beradu. Shin Shui tergetar tangannya. Begitupun dengan raja perbatasan hutan. Masing-masing tangan mereka bergetar dan merasa sedikit nyeri.
__ADS_1
Semakin lama tekanan dalam peraduan senjata pusaka semakin ditekan kuat-kuat. Hingga pada akhirnya mereka terpental ke belakang.