Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kami Datang Kesini Untuk Menuntut Balas


__ADS_3

Didalam sekte, para murid saat ini sedang beristirahat. Ada yang tiduran, bercerita bersama rekannya, dan lain sebagainya. Sedangkan para tetua saat ini sedang melakukan tugasnya masing-masing. Jadi keadaan di sekte Bukit Halilintar terlihat sepi dari biasanya saat ini.


Para murid yang tadinya bersantai mendadak bersiap siaga ketika menyadari adanya sekelompok orang yang datang memasuki sekte. Mereka mengambil langkah itu karena merasa curiga dengan penampilan sekelompok orang tersebut.


"Tenang anak-anak, aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin bertemu kepala tetua kalian. Tolong panggilkan segera," kata salahsatu dari sekelompok orang itu.


Karena merasa ketakutan. Anak-anak itu langsung menuruti permintaan sekelompok orang-orang tersebut. "Ba-baik paman."


Segera saja dia berlari menuju ke ruangan para tetua. Dimana Shin Shui juga ada disana. Tak perlu waktu lama, murid itu sudah tiba didepan ruangan para tetua.


"Permisi," kata murid itu sebelum memasuki ruangannya. "Masuk." terdengar ada jawaban dari dalam ruangan.


"Ada apa?" tanya Yashou ketika murid itu sudah masuk ruangan.


"Ada sekelompok orang yang mencari kepala tetua. Dilihat dari pakaiannya mereka merupakan pendekar, yang satu memakai pakaian berlambang sekte Macan Kumbang," lapor murid tersebut.


Para tetua saling berpandangan satu sama lain ketika mendengar laporan tersebut. Semuanya memikirkan hal sama. Yaitu menuntut balas. Jika benar salahsatu diantara mereka ada yang berpakaian sekte Macan Kumbang, sudah pasti kedatangannya akan menuntut balas, pikir para tetua.


"Hemmm … bawa aku kesana." kata Shin Shui singkat. Kepala tetua itu tidak mau berlama-lama. Terlebih karena dia sudah tahu maksud tujuan sekelompok orang itu ke sekte Bukit Halilintar untuk apa.


Murid tersebut menurut. Dia langsung kembali ke lapangan dengan membawa Shin Shui. Tapi tak lama para tetua juga ikut kesana. Mereka tidak bisa tinggal diam jika ada orang yang mencari masalah dengan sektenya.


Shin Shui sudah tiba dilapangan. Dia melihat sekelompok orang-orang itu sedang menunggunya. Ketika Shin Shui datang pun mereka menatapnya dengan sangat tajam. Bahkan tatapan itu memperlihatkan kebencian yang dalam. Tapi di sisi lain Shin Shui masih terlihat santai, bahkan dia berjalan dengan tangan ditaruh dibelakang.

__ADS_1


"Salam hormat untuk senior sekalian. Maaf, ada keperluan apa kalian mencariku?" tanya Shin Shui basa-basi.


"Apakah kau benar pendekar muda yang berjuluk 'bocah gila'?" tanyanya.


"Benar, itu julukan ku. Memangnya kenapa?" Shin Shui berbalik tanya.


"Satu persatu dari kami ingin menantang berduel denganmu," ucapnya dengan nada percaya diri.


"Apakah aku pernah mempunyai masalah dengan senior ini? Bisa perkenalkan diri dulu?" tanya Shin Shui.


Sebenarnya orang-orang itu sudah agak kesal karena Shin Shui terus banyak bicara. Mereka ingin segera mengajaknya bertarung, tapi dibatalkan ketika melihat Yashou menghampirinya. Mau tidak mau mereka harus memperkenalkan dirinya.


"Baiklah. Kami merupakan perwakilan dari masing-masing sekte yang dulu tergabung dalam alian sekte Lembah Beracun. Kami datang kesini ingin menuntut balas, sehingga mengajak berduel denganmu. Tapi aku tidak ingin ada yang ikut campur dalam pertarungan nanti," ucapnya agak sedikit marah.


"Hemmm. Begitu ya, baik … baik. Padahal kejadiannya sudah tiga tahun lalu, tapi kalian masih menuntut balas padaku. 'Ketika nafsu sudah menguasai diri, memang manusia bisa lebih hina daripada binatang'. Aku terima tantangan kalian," kata Shin Shui dengan tegas.


Matanya langsung menatap tajam. Angin mendadak berhembus kencang kearahnya bersamaan dengan datangnya burung phoenix biru. Seperti biasa, burung phoenix biru itu langsung hinggap di bahunya.


Suasana menjadi tegang. Tidak ada yang bicara diantara mereka. Semua orang-orang disana saling berpandangan. Para murid dan yang lainnya keluar satu-persatu karena penasaran dengan apa yang terjadi.


"Senior, jangan ada yang ikut campur. Biar aku yang menghabisi semua manusia binatang ini," kata Shin Shui dengan tegas. Matanya menatap tajam kepada sekelompok tetua yang akan menuntut balas.


"Siapa yang ingin kau lawan?" tanya salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Semua pun aku berani. Tahap tertinggi diantara kalian hanyalah Pendekar Dewa tahap empat? Dan kalian berani menantangku satu-satu? Hahaha …" Shin Shui berucap dengan penuh nada ancaman.


Aura pembunuh mulai merembes keluar dari tubuhnua dengan kuat. Burung phoenix biru pun langsung terbang saat menyadari Shin Shui mulai mengambil tindakan. Burung itu hinggap di pundak Yashou.


"Haaa …"


Tanpa banyak bicara, Shin Shui langsung menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras. Sehingga keenam tetua itu kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh. Mereka cukup kaget dengan kekuatan Shin Shui. Terlebih karena pemuda itu bisa mengetahui tahapannya masing-masing.


Shin Shui langsung maju menyerang. Pemuda biru itu benar-benar menyerang keenam orang tersebut tanpa banyak basa-basi lagi. Dia tidak ingin membuang waktu terlalu lama.


Keenam tetua tersebut kaget, tapi dengan segera mereka mengambil tindakan. Mereka langsung membagi tugas, keenamnya berpencar. Mereka berniat untuk menyerang Shin Shui dari segala arah.


Keenam tetua itu langsung mencabut senjatanya masing-masing yang dari tadi tersimpan rapi. Kilatan cahaya karena senjatanya tersorot sinar matahari tampak berkelebat kesana kemari.


Tapi di sisi lain, Shin Shui belum mengeluarkan Pedang Halilintar yang dia simpan di Cincin Ruang. Pemuda itu masih menyerang menggunakan tangan kosong. Tapi setiap serangannya mengandung hawa halilintar yang mengerikan.


Baru sekejap saja, puluhan jurus sudah mereka lalui. Tapi sampai sekarang keenam tetua itu belum bisa memojokkan Shin Shui. Yang ada malah mereka yang sedikit kerepotan. Untung saja keenam kepala tetua itu melakukan kerja sama dengan baik. Jadi ketika salahsatu dari mereka mulai terpojok, maka yang lainnya akan datang membantu.


Shin Shui mundur beberapa tombak ke belakang. Sekarang kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu tidak mau terlihat lemah. Dia ingin membuktikan kepada keenam tetua itu seperti apa kekuatan aslinya.


Shin Shui mulai memejamkan mata dan berkonsentrasi. Tak lama langit mendung, angin mulai berembus kencang. Kilatan halilintar pun kembali keluar dari zubah perangnya. Kalung Kristal Halilintar menyala dengan terang.


Perlahan tubuh Shin Shui sudah diselimuti halilintar. Dia langsung mengibaskan tangannya ke arah keenam tetua. Tiba-tiba angin kencang dan sambaran halilintar terdengar dan menyerang mereka semua. Buru-buru keenam tetua itu menghindari serangan yang diberikan oleh Shin Shui.

__ADS_1


Pertarungan berhenti sejenak. Keenam tetua itu sungguh kaget dengan kemajuan Shin Shui yang sangat signifikan. Harapan akan keluar menjadi pemenang telah sirna. Bahkan saat ini mereka mulai kehilangan kepercayaannya. Tapi sayang, semuanya sudah terlambat.


__ADS_2