
Malam sudah berganti pagi. Rembulan yang semalam bersinar sempurna sudah lenyap dari pandangan dan digantikan dengan sorot sinar mentari yang menerangi bumi dengan semangat.
Burung-burung berkicau merdu bersama hembusan angin pagi yang membelai mesra. Harum bunga dari taman istana semerbak bersama hembusan angin itu.
Saat ini semua orang-orang penting yang masih hadir di istana kekaisaran sedang melakukan sarapan bersama.
Kondisi di istana kekaisaran sudah berjalan semakin baik dan semakin normal. Tidak ada masalah berarti, tidak ada tindakan kejahatan.
Tapi itu hanyalah sementara saja. Karena selama kehidupan berlangsung, kejahatan akan selalu ada seiring adanya kebaikan. Mereka para petinggi tidak tahu bahwa beberapa saat lagi masalah akan segera datang kembali.
Disebuah tempat ditengah hutan belantara yang rimbun akan pepohonan dan rumitnya jalur hutan, tiga orang pendekar sedang berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
Ketiganya akan menuju ke istana kekaisaran Wei dengan dendam yang menggebu-gebu. Mereka tak lain adalah Pangeran Iblis dan dua orang pengawal setianya.
"Berapa lama lagi kita akan sampai di istana kekaisaran?" tanya Pangeran Iblis ditengah-tengah berlarinya.
"Sekitar lima belas menit lagi pangeran," jawab salahseorang pengawalnya.
"Baiklah, mari kita percepat perjalanan," kata Pangeran Iblis lalu mempercepat larinya.
Ketiganya semakin kencang. Mereka bagaikan tiga bayang-bayang hitam yang menembus seramnya hutan.
Tak terasa lima belas menit sudah berlalu. Pangeran Iblis dan dua anak buahnya sudah sampai didepan gerbang istana kekaisaran yanh pertama.
Para penjaga yang melihat kedatangan mereka langsung mengambil sikap waspada. Para penjaga itu ingin bertanya sesuatu. Tapi belum sempat bicara, tiba-tiba para penjaga itu tewas dengan kondisi leher hampir putus.
Entah bagaimana caranya, yang jelas kejadian itu cukup mengerikan. Pelakunya adalah pengawal Pangeran Iblis.
Setidaknya para pengawal itu berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap tiga. Karena mereka bisa dengan muda membunuh para penjaga yang kekuatannya sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap lima.
Beberapa saat sudah berlalu, ketiganya sudah sampai digerbang ketiga. Semua penjaga yang menghalangi mereka, dibunuh dengan cara yang sama.
Para petinggi yang sedang asyik melakukan sarapan bersama, tidak ada yang menyadari kehadiran iblis ini kecuali Shin Shui.
__ADS_1
Ketika sedang makan, Shin Shui menghentikannya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kaisar, aku harus keluar dulu," kata Shin Shui.
"Ada apa pahlawan?" tanya kaisar.
"Ada tamu tak diundang. Selesaikan saja dulu sarapan kalian, biarkan aku yang menyambut tamu ini," kata Shin Shui lalu secepat kilat keluar ruangan.
Shin Shui sudah keluar, hal pertama yang dia lihat adalah kehadiran tiga pendekar aliran hitam. Musuh bebuyutannya.
"Apa kabar Pangeran Iblis? Ada perlu apa kau repot-repot kesini? Tidakkah kau ingin sarapan dulu sebelum kepada tujuan utamamu?" tanya Shin Shui sambil memberikan senyuman.
"Kau jangan banyak omong kosong. Aku kesini bukan untuk mengemis minta sarapan. Aku datang kesino untuk membalaskan dendam kedua orang tuaku," kata Pangeran Iblis dengan sorot mata yang tajam.
"Tidak perlu dibicarakan pun aku sudah tahu. Tatapan matamu yang memberitahuku," ucap Shin Shui.
"Baguslah kalau begitu. Jangan lama-lama lagi, kita selesaikan urusan kita," kata Pangeran Iblis.
Pemuda biru itu lalu melompat ke tengah-tengah istana kekaisaran yang memiliki halaman sangat luas. Diikuti oleh Pangeran Iblis dan dua pengawalnya.
Sebenarnya Shin Shui merasa heran, dia tahu betul bahwa Pangeran Iblis terluka parah. Bahkan cacat seumur hidup.
Pemuda biru itu ingin menanyakan hal tersebut sebenarnya, tapi dia membatalkan niatnya itu. Yang jelas, semua ucapan gurunya terbukti benar bahwa para pendekar alira hitam memiliki seribu satu cara untuk membalas dendam.
Andai saja kekuatan Shin Shui belum kembali normal, pasti dia akan merasa gentar jika ditantang olehnya. Tapi sekarang lain lagi ceritanya.
Kekuatannya saat ini sudah kembali pulih, bahkan lebih hebat lagi. Tentu saja tidak ada rasa gentar dihatinya.
"Siapa yang ingin menjadi lawanku dulu?" tanya Shin Shui.
"Kau harus melawanku. Biarkan pengawalku melawan orang-orangmu," kata Pangeran Iblis.
"Tidak perlu repot-repot. Ini masalah pribadiku, jadi aku sendiri yang akan melawan kedua pengawalmu itu," jawab Shin Shui memberikan senyuman ejekan.
__ADS_1
Mendengar perkataan Shin Shui, kedua pengawal pangeran Iblis tersulut amarahnya. Keduanya langsung menyerang Shin Shui tanpa menunggu perintah dari Pangeran Iblis dulu.
"****** kau bocah sombong …"
"Rasakan ini …"
Kedua pengawal sudah menyerang menggunakan senjatanya masing-masing. Yang satu menggunakan pedang, dan satulagi menggunakan trisula kembar.
Gerakan keduanya cukup cepat jika bagi pendekar lain. Tapi tidak bagi Shin Shui. Dua senjaya pusaka sudah berkelebatan menyerang Shin Shui.
Tapi dengan mudah pemuda biru itu bisa menghindari serangan dari kedua musuhnya tersebut. Semakin lama, gerakan kedua pengawal itu semakin cepat.
Ayunan keduanya mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi. Sayangnya lawan mereka sekarang adalah Shin Shui, seorang pendekar muda yang sudah terkenal ke seluruh pelosok negeri
Shin Shui yang sedaritadi hanya menghindar, kini mulai membalas serangan kedua pengawal itu dengan menggunakan tangan kosong.
Pemuda biru itu penasaran dengan kekuatan barunya. Shin Shui mulai menyalurkan tenaga sejati kepada kedua tangannya. Kedua tangan pemuda biru itu lalu mengeluarkan kilatan cahaya biru.
"TRANGG …"
"TRANGG …"
Dua senjata beradu dengan tangan Shin Shui. Bukannya putus, yang ada malah tangan itu terasa begitu keras bagaikan sebuah baja.
Shin Shui mulai memberikan serangan tapak yang cukup berbahaya. Cahaya biru perlahan menyelimuti ketiganya.
"Tapak Gelombang Tsunami …"
"WUSHH …"
Tanah bergerak bergelombang bagaimana tsunami. Kedua pengawal yang tidak siap itu terpental hingga beberapa tombak.
Keduanya merasakan bahwa tubuh mereka seperti remuk. Tapi buru-buru keduanya bangun kembali dan sudah siap melanjutkan pertarungan.
__ADS_1