
Pertarungan terhenti sejenak. Masing-masing saling mengukur sampai dimana kekuatan musuhnya tersebut. Bwe Li sedikit terperanjat ketika tidak bisa mengukur sampai dimana kekuatan burung phoenix biru itu.
Begitupun Ling Zhi, dia kaget karena ternyata tidak bisa mengukur kekuatan Shin Shui. Tapi apa mau dikata? Semuanya sudah terjadi. Mereka tidak bisa lagi berlari. Dan meskipun bisa, pasti kedua musuhnya itu tidak akan melepaskan dirinya.
Shin Shui pun sama, dia mengukur sampai dimana kekuatan Dua Bidadari Iblis itu. Menurut penglihatannya, Bwe Li berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap lima pertengahan. Sedangkan Ling Zhi berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap tiga akhir. Sedikit menguntungkan, pikirnya.
"Hemmm … baru Pendekar Dewa tahap tiga dan Pendekar Dewa tahap lima saja kalian sudah sombong. Bahkan berani memandang remeh diriku," kata Shin Shui sambil tersenyum mengejek.
"Tutup mulutmu bocah. Jangan kau kira bahwa kami takut padamu dan burung sialan ini," kata Bwe Li dengan marah. Kini perasaannya kepada Shin Shui sudah berubah menjadi rasa benci.
"Iblis seperti kalian mana berani berkata jujur," kata Shin Shui memancing amarah musuhnya.
"Keparat … ****** kau …"
Bwe Li dan Ling Zhi sudah kembali menyerang. Pertarungan pun berlanjut. Shin Shui masih menghadapi Ling Zi dengan Pedang Halilintar miliknya.
Sebelumnya Bwe Li memang berniat untuk menyerang Shin Shui, tapi buru-buru ditahan oleh phoenix biru. Alasannya karena burung itu tahu apa yang sudah terjadi kepada Shin Shui.
Jika dahulu mungkin dua musuhnya ini bukanlah masalah baginya. Tapi sekarang, jika Shin Shui memaksa melayani keduanya, maka kemenangan pun akan sedikit atau bahkan tidak ada.
Pertarungan Shin Shui dan Ling Zi berjalan semakin seru. Meskipun gadis itu berada dibawahnya, tapi kekuatannya lebih besar daripada pendekar yang setara dengannya.
Hal ini terjadi mungkin karena Dua Bidadari Iblis itu memakai cara berbeda untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Cahaya biru dan hijau beradu hingga menimbulkan warna yang indah. Ling Zhi terus memberikan serangan jarak jauh dengan selendang itu.
Untuk sementara Shin Shui tidak bisa melangkah semakin maju karena selendang hijau milik Ling Zhi tidak memberikan kelonggaran baginya.
Shin Shui mundur beberapa langkah ke belakang. Jika tidak menggunakan jurus-jurus tingkat tinggi, maka semuanya akan percuma, pikir Shin Shui.
"Langkah Kilat … Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"WUSHH …"
Shin Shui menghilang dari pandangan hingga membuat Ling Zhi kebingungan. Tapi tak berapa lama, pemuda biru itu sudah berada tepat dihadapannya sehingga membuat Ling Zhi kerepotan.
Buru-buru dia menarik selendang pusakanya. Shin Shui sudah memberikan sebuah serangan pedang yang membuatnya kewalahan.
__ADS_1
Gerakan itu selalu berubah-ubah, kadang cepat bukan main. Kadang lambat dan berat. Tapi tentunya mematikan karena selalu mengincar titik rawan.
Pedang Halilintar sudah diselimuti aura biru yang lebih besar. Sehingga membuat kesan tersendiri. Shin Shui terus berusaha mendesak gadis itu hingga akhirnya berhasil memberikan sebuah luka sabetan.
"SRETT …"
Bagian perut Ling Zhi sedikit robek bajunya, hingga terlihat sebuah sayatan yang agak lebar dan darah sudah keluar.
Buru-buru dia mundur ke belakang untuk menghentikan darah yang mulai deras keluar sambil menutupi bagian perutnya yang sedikit terluka. Antara marah dan malu menjadi satu. Wajahnya memerah, tapi sinar matanya tajam.
"Dasar pria mesum …" ucap Ling Zhi dengan marah.
"Tarian Selendang Bidadari Iblis …"
"WUSHH …"
Angin berdesir tajam menerpa gadis itu hingga membuat debu mengepul menyelimuti dirinya. Ada sebuah energi hijau berkumpul disana. Udara terasa sesak dan hawa kematian semakin kental.
Shin Shui melompat mundur sambil mengamati apa yang terjadi pada gadis tersebut. Lalu tak lama, sebuah cahaya hijau melesat dengan cepat ke arahnya.
Alangkah terkejutnya Shin Shui ketika dia sudah bisa melihat jelas apa yang sudah terjadi. Sesosok iblis berwajah menyeramkan dengan dua taring tajam kini sedang menyerangnya.
Tanpa banyak berkata dan ragu-ragu lagi, Shin Shui membalas serangan-serangan selendang hijau yang nampak bergerak bagaikan ular itu. Keduanya sama-sama mengerahkan kemampuan supaya bisa membunuh lawannya.
"Langkah Bayangan … Tebasan Halilintar … Tapak Penghancur Langit …"
"WUSHH …"
Shin Shui kembali menghilang. Tapi berbeda dengan tadi, kali ini Ling Zhi sudah mengetahui dimana Shin Shui. Dia berbalik ke belakang lalu menyabetkan selendang.
Benar saja, Shin Shui memang berada disana. Tapi sayangnya dia kalah cepat dengan pemuda biru itu. Sebuah tebasan dengan telak mengenai lehernya hingga hampir putus.
Belum berhenti sampai disitu, Shin Shui pun memberikan sebuah serangan tapak yang dahsyat mengenai dada iblis tersebut.
"BUKK …"
"Ahhh …"
__ADS_1
Ling Zhi terlempar delapan tombak ke belakang. Dadanya hancur, lehernya hampir putus. Dia bergeliat sebentar hingga diam tak bergerak lagi. Mati.
###
Sementara itu, pertarungan phoenix biru melawan Bwe Li terjadi lebih hebat lagi. Keduanya sama-sama mengeluarkan seluruh kekuatan.
Puluhan jurus sudah mereka lalui, tapi belum ada yang terdesak dan terluka hebat. Kecuali beberapa luka luar pada tubuh Bwe Li, sepertinya luka itu diakibatkan oleh ujung sayap phoenix biru.
Ketika mengetahui bahwa muridnya Ling Zhi, tewas ditangan Shin Shui, amarahnya semakin memuncak. Ingin rasanya mencabik-cabik Shin Shui, tapi sayangnya dia pun sedang dalam posisi genting.
Bwe Li sudah cukup lama mengeluarkan kipas yang menjadi senjata pusakanya, sebuah kipas berwarna hijau dan terbuat dari baja.
Kipas itu sangat berbahaya, karena selain ujungnya tajam, juga pada bagian ujung itu mengandung racun yang hebat. Tapi sayangnya semua itu seperti tidak berarti bagi phoenix biru.
"Kipas Iblis Membelah Samudera …"
"WUSHH …"
Bwe Li mengeluarkan sebuah jurus amalannya. Gelombang energi berupa pedang raksasa melesat ke arah phoenix biru dengan kecepatan tinggi.
Tapi burung legenda itu masih dengan tenang mengepakkan sayapnya. Tepat ketika gelombang itu hampir tiba, phoenix biru mundur sedikit untuk ancang-ancang lalu melesat menyambut datangnya jurus tersebut.
"WUSHH …"
Tiba-tiba seluruh tubuhnya dipenuhi kilatan halilintar yang besar sehingga nampak lebih angker. Matanya merah menyala, menandakan bahwa burung itu sedang marah besar.
Bahkan Shin Shui sendiri pun baru melihat burung peliharaannya seperti ini. Dia sampai bergidik ngeri.
Jurus Bwe Li sudah hampir tiba, dan phoenix biru pun jaraknya semakin dekat. Dia menambah kecepatannya lalu menabrak gelombang energi tersebut.
"DUARR …"
Sebuah ledakan terdengar hebat. Bahkan Bwe Li pun terkejut, dia tidak menyangka bahwa burung itu mengambil tindakan tersebut.
Ketika iblis itu menyangka bahwa phoenix biru tewas, sebuah cahaya biru melesat dengan kecepatan diluar nalar dan menyambarnya.
"KEAKK …"
__ADS_1
"Ahhh …"
Bwe Li berteriak keras sebelum kepalanya menggelinding hingga akhirnya dia roboh. Mati.