Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Akhir Dewa Es Sesat (Arc 2 end)


__ADS_3

Melihat bahwa pendekar muda itu saat ini merasa kesulitan untuk menembus pertahanan Dewa Es Sesat, para warga dan para pendekar yang hadir pun merasa khawatir. Seketika keadaan disana menjadi tegang.


Masing-masing dari mereka kini menaruh harapan besar kepada Shin Shui. Mereka ingin membantu, tapi apa yang bisa dilakukannya? Jika turun tangan pun yang ada hanyalah akan menjadi beban.


Pertarungan kembali berlanjut, dan kali ini giliran Dewa Es Sesat yang mendapat giliran menyerang lebih dulu. Pendekar tua itu melesat dengan cepat menyerang Shin Shui.


Bola-bola es nya seperti mempunyai pikiran sendiri, kesembilan bola itu berpencar dan mengepung Shin Shui. Alhasil pemuda biru itu merasa tubuhnya sangat dingin karena dikelilingi bola itu.


Dewa Es Sesat mulai melancarkan serangannya, tapi kali ini kedua tangannya tidak mengepal. Melainkan membentuk sebuah tapak. Dia berniat mengeluarkan jurus tapaknya yang paling berbahaya.


"Tapak Dewa Es Sesat …"


"WUSHH …"


Pendekar tua itu lalu menyerang dengan kedua tangan yang membentuk tapak. Setiap serangannya mengandung tenaga dalam besar. Bahkan sebelum tangannya sampai pun, deru angin lebih dulu menyerang lawan.


Shin Shui terus menangkis setiap tapak tersebut, meskipun tangannya selalu terasa hampir beku jika menahannya, tapi apa boleh buat. Mau tidak mau dia harus mampu menghadapinya.


Ternyata bukan hanya tapaknya saja yang menyerang, bahkan kesembilan bola es itu pun turut menyerang Shin Shui secara bergantian dan teratur. Sehingga saat ini Shin Shui diserang bertubi-tubi dari segala arah.


Dewa Es Sesat memberikan serangan yang mengarah kepada jantung lawan, lalu menurun ke arah perut, lalu naik kembali ke arah tenggorokan. Sungguh, setiap serangannya memang mengincar bagian vital lawannya.


Sehingga tak berselang lama kemudian, Shin Shui terkena serangan tapak yang begitu kuat pada bagian dadanya. Tepat dibawah jantung.


"Ughhh …


Pemuda biru itu terpental ke belakang dan mengeluh. Dia memuntahkan darah cukup banyak. Dadanya terasa beku. Sulit untuk bernafas. Bahkan dia merasa bahwa jantungnya berhenti berdetak.


"Amarah Sembilan Bola Dewa Es. …"


"WUSHH …"


Secara tiba-tiba kesembilan bola es membesar secara bersamaan. Bola itu berputar dengan sangat cepat lali tak lama menyerang ke arah Shin Shui dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Shin Shui yang masih berada dalam posisi belum siap, dia hanya bisa mencoba menahan jurus mematikan itu. Tepat ketika sembilan bola es hampir mengenainya, tiba-tiba Kalung Kristal Halilintar menyala lebih terang dan diikuti oleh Zirah Perang Halilintar yang ikut menyala.


Tanpa sepengetahuan orang-orang, Shin Shui mengaktifkan kedua pusaka legendaris itu disaat-saat kritis.


Sembilan bola Dewa Es Sesat semakin dekat dan …


"DUARR …"


Ledakan keras yang menerbangkan pohon serta atap Perguruan Tapak Es terdengar menggema di udara. Orang-orang yang hadir sudah tidak bisa lagi mengetahui bagaimana keadaan pendekar muda itu didalam ledakan keras tersebut.


Suasana yang sudah tegang, kini semakin bertambah tegang lagi. Orang-orang menjerit ketika ledakan itu menghantam telak tubuh Shin Shui.


Tubuh mereka mendadak lemas. Wajahnya semua pucat pasi. Sepertinya, sudah tidak ada harapan lagi bagi mereka. Sehingga mau tidak mau mereka harus menerima takdirnya.


Debu masih mengepul menutupi tempat dimana tadi Shin Shui berdiam. Dewa Es Sesat mulai menampakkan ekspresi gembira. Tapi tidak seperti biasanya.


Karena bagaimana pun juga, dia masih bisa merasakan energi Shin Shui. Bahkan dia tak percaya bahwa energi yang dirasakan saat ini justru lebih kuat dan besar daripada sebelumnya. Pendekar tua itu kembali mengambil sikap waspada.


Matanya terus menatap tajam ke arah Shin Shui. Sembilan bola es sudah hancur bersama ledakan tadi. Tapi tekanan besar yany dia keluarkan masih bisa dirasakan.


"WUSHH …"


Tiba-tiba angin kencang menggulung tempat Shin Shui sehingga debu semakin mengepul. Lalu tak lama, angin itu berbalik dan menyapu ke arah pendekar tua tersebut.


Lagi-lagi semua orang itu terkejut. Entah sudah berapa kali mereka seperti demikian. Tapi memang ini hal wajar, karena sesuatu yang mereka lihat saat ini sungguh diluar nalar.


Pendekar biru yang tadi hampir sekarat, kini sudah berubah 180 derajat. Sepasang sayap yang tadinya wajar berubah menjadi lebar dengan ukuran tak wajar.


Baju yang dia pakai robek, dan kini terlihat jelaslah Kalung Kristal Halilintar dan Zirah Perang Halilintar yang dia pakai.


Dewa Es Sesat terperanjat bahkan sampai melompat mundur. Alasannya karena tak lain dia mengenali dua buah pusaka yang menyala dengan terang itu.


Pusaka yang dicari oleh orang-orang persilatan dan menjadi rebutan. Bahkan dirinya pun diam-diam menginginkan kedua pusaka tersebut.

__ADS_1


Tanpa disangkanya kedua pusaka itu dimiliki oleh pendekar muda yang kini menjadi lawannya. Dengan suara gentar dia mencoba memberanikan diri untuk memastikan.


"Hei bocah, apakah yang kau pakai merupakan kedua pusaka legendaris?" tanya Dewa Es Sesat.


"Tepat, kenapa? Kau takut? Hahaha … sudah tidak ada ampunan bagi manusia sepertimu. Sekarang, terimalah kematianmu …" kata Shin Shui dengan suara yang menyeramkan.


"Sayap Dewa Mengancurkan Kegelapan …"


"WUSHH …"


"DUARR …"


Sebuah energi yang sangat dahsyat melesat dengan kecepatan cahaya ke arah Dewa Es Sesat. Bahkan pendekar tua itu sungguh tak menyangka bahwa Shin Shui sudah berhasil menguasai kekuatan dua pusaka legendaris tersebut.


Dia mencoba menahan serangan mengerikan itu dengan seluruh kekuatan yang dia miliki. Tapi sayang, semuanya sudah terlambat sehingga tak lama kemudian, serangan dahsyat Shin Shui menghantam Dewa Es Sesat dengan sangat telak.


"DUARR …"


"Ahhh …" mati.


Dewa Es Sesat terpental dengan deras bagaikan sebuah batu yang dilempar denguan sekuat tenaga. Pendekar tua itu terus meluncur ke arah perguruannya sendiri. Dia berhenti ketika menabrak tiang yang paling kokoh dari bangunan tersebut.


Tak ayal lagi, maha guru Perguruan Tapak Es itu tewas dengan dada hancur. Dewa Es Sesat tewas mengenaskan. Dia tewas akibat kesombongannya. Dia tewas akibat keangkuhan yang sudah mendarah daging.


Seorang pendekar tua yang merupakan maha guru dari sebuah perguruan itu pun menemui akhir hayatnya. Sungguh, nasib yang begitu malang. Harapan dan kehormatan yang selalu dia impikan dan perjuangkan, pada akhirnya hanya membuahkan sebuah kehancuran.


Kekuasaan yang dibanggakan, kedudukan yang selalu membuat bertindak semena-mena tak bisa menolong dari kehancuran. Kau memberikan buah yang pahit kepada orang, maka akan ada orang lain yang memberikan buah pahit pula padamu.


Karena itulah, jangan selalu berbangga diri dan merasa diri kuat. Karena bisa jadi, kau hanya kuat ditempat kekuasaanmu saja. Tapi bukan berarti bahwa kau juga kuat jika diluar sana.


Ingatlah, harimau tidak pernah bicara bahwa dia ganas. Dan singa tidak pernah bicara bahwa dia penguasa. Intinya janganlah sombong pada siapapun kecuali dalam keadaan tertentu.


###

__ADS_1


Sebagai pengumuman ya, mungkin akhir bulan ini atau lebih sedikit, novel ini akan tamat. Terimakasih untuk kalian yang setia mengikuti perjalanan Shin Shui🙏semoga jika author berkarya lagi, kalian masih sudi membacanya🙏jangan lupa juga untuk membaca Cakra Buana🙏


__ADS_2