Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Sayap Halilintar Menutupi Langit


__ADS_3

Tapi mereka buru-buru menguasai dirinya supaya menghilangkan rasa takut yang kini mulai menjalar. Keenamnya saling berpandangan, lalu mereka menganggukkan kepalanya masing-masing.


Keenam tetua itu kini sudah berada dalam posisi bersiap, mereka akan menggunakan jurus-jurus pedang tingkat tinggi yang mereka miliki. Mereka mulai berfikir bahwa barusan itu Shin Shui hanya beruntung semata.


Keenam tetua itu langsung kembali melesat untuk menyerang kepala tetua sekte Bukit Halilintar yang tak lain adalah Shin Shui, mereka kembali berpencar terlebih dahulu lalu akan menyerang dengan sama-sama dari segala sisi.


Mereka yakin dengan strategi berpencar lalu menyerang bersama seperti ini bisa membuat Shin Shui kewalahan. Terlebih karena mereka mempunyai kecepatan yang bisa dibilang lumayan.


"***WUSHH …"


"WUSHH*** …"


Keenam tetua itu langsung melesat bagai angin ke arah Shin Shui dengan senjata yang menjadi pusakanya masing-masing sudah terhunus dan siap menebas ataupun menusuk lawan. Tapi di sisi lain, Pendekar Halilintar itu masih terdiam tanpa menunjukkan gerakan akan menangkis serangan.


Dan benar saja, ketika mereka sudah kian mendekat dan siap menebaskan senjatanya masing-masing kepada Shin Shui, pemuda biru itu masih tetap tidak bergeming. Dia hanya diam menunggu serangan yang datang, bahkan menunjukkan sikap percaya dirinya.


Tentu saja para tetua itu geram, mereka menambah tenaga dalam yang kemudian di alirkan ke masing-masing senjata pusakanya. Keenam tebasan itu datang secara bersamaan dan …


"***CLANGG …"


"CLANGG …"


"CLANGG***…"


Debu-debu mulai terangkat dan menyelimuti Shin Shui ketika senjata pusaka keenam tetua itu mengenai tubuhnya. Mungkin karena saking kuatnya ayunan senjata pusaka keenam tetua itu sehingga menciptakan angin yang lumayan besar.


Tapi apa yang terjadi selanjutnya sungguh membuat semua orang yang menyaksikan kejadian ini membelalakkan mata. Terlebih mereka keenam tetua. Senjata pusaka mereka patah menjadi dua bagian dengan potongan yang sangat rapi.


Keenam tetua itu kaget bukan kepalang, bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Senjata pusaka yang selalu mereka banggakan bisa patah tanpa melukai target sasarannya.


Padahal keenam senjata pusaka itu mampu membelah batu besar sekalipun. Tapi ini? Ah sudahlah. Sulit digambarkan dengan logika seperti apa kuatnya pemuda yang menjadi lawan mereka saat ini.

__ADS_1


Shin Shui mulai menggerakkan tubuhnya, tapi bukan untuk menyerang. Melainkan untuk meregangkan urat-urat tubuhnya. Dia lalu berbalik ke arah keenam tetua dengan senyuman tersungging dibibirnya.


"Hanya segini saja kemampuan kalian? Dan kalian ingin membunuhku? Hemmm … apakah kalian yakin?" tanya Shin Shui dengan senyuman. Kedua alisnya diangkat dan kepalanya sedikit di miringkan.


Keenam tetua itu berniat untuk menjawab, tapi sebelum dia menjawab tiba-tiba Shin Shui mengibaskan kedua tangannya yang membuat mereka terpental ke segala arah.


Tapi dasar manusia sudah dikuasai oleh nafsu, mereka menjadi tidak sadar akan kemampuan dirinya sendiri. Nafsu yang sudah menguasai manusia bisa menyebabkan manusia itu lupa diri. Nafsu juga lah yang akan menjerumuskan manusia kepada jurang yang bernama kehancuran.


Seperti keenam tetua ini, meskipun mata mereka sudah menyaksikan jelas kemampuan Shin Shui berada jauh diatas mereka, tapi mereka tidak mau menyadarinya. Mereka tetap berambisi untuk membunuh Shin Shui.


Keenam tetua yang tadi bercerai-berai itu kini sudah berkumpul di satu titik. Karena senjata dan silat mereka tidak mampu untuk melukai 'bocah gila' itu, maka mereka bertekad untuk mengeluarkan jurus-jurus yang dimiliki.


Keenam tetua itu sudah bersiap-siap mengeluarkan jurusnya masing-masing. Angin kencang berhembus kembali, udara disana mendadak terasa sesak. Langit yang tadi berisik akan kerasnya gemuruh halilintar dan sudah tenang, kini kembali berisik oleh suara-suara aneh.


Langit yang sudah tenang dan terang itu menjadi gelap kembali. Para tetua itu langsung mengeluarkan jurus-jurus yang paling tinggi yang dimiliki mereka. Kilatan-kilatan cahaya mulai nampak, hawa kematian mulai terasa.


Di sisi lain, orang-orang yang melihat kejadian ini langsung mengambil jarak yang cukup jauh dari tempat pertarungan itu. Mereka mulai segera melindungi dirinya sendiri dengan tenaga dalam dan tenaga sejati.


Tapi Shin Shui, pemuda biru itu masih berdiam dan ingin menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia masih terlihat tenang walaupun dalam keadaan seperti ini. Para tetua itu berteriak keras lalu mengeluarkan jurus andalan yang mereka miliki.


"HIYAA …"


"Tangan Iblis Hitam …"


"Tapak Bumi Kelam …"


"Pedang Langit Dendam …"


"Dunia Gelap Racun Hijau …"


"Bisikan Roh Penasaran …"

__ADS_1


"Langkah Kematian Macan Kumbang…"


Enam buah jurus kegelapan yang amat dahsyat itu melesat dengan sangat cepat menyerang Shin Shui. Tapi kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu masih tetap tak bergeming. Barulah ketika keenam jurus dahsyat itu sudah dekat, dia mulai mengambil tindakan.


Mula-mula keduanya tangannya direntangkan lebar-lebar. Mendadak muncul sepasang sayap halilintar. Tapi kali ini ukurannya jauh dan jauh lebih besar lagi. Mungkin panjang ukuran satu sayapnya mencapai hingga sepuluh tombak. Bahkan pemuda itu sendiri tertutup oleh besar dan panjangnya sayap yang dia buat sendiri.


"Sayap Halilintar Menutupi Langit …"


"***WUSHH …"


"DUARR*** …"


Enam jurus kegelapan bertabrakan dengan satu jurus halilintar yang sangat dahsyat. Tabrakan antar jurus dahsyat itu bahkan mengguncangkan tempat sekte Bukit Halilintar. Getaran yang keras terasa beberapa saat.


Suara bertabrakannya jurus dahsyat itu begitu menggelegar. Suara halilintar pun tak kalah menyeramkannya. Keadaan disana benar-benar mencekam, batu-batu terbang ke segala penjuru.


"Huaa …"


"DUARR …"


Ledakkan yang lebih dahsyat kembali terdengar, cahaya yang menyilaukan mata muncul ditempat Shin Shui. Semua orang-orang mengira pemuda biru itu tewas. Tapi tiba-tiba saja, dari arah tempat berdiamnya Shin Shui terlihat ada kilatan cahaya biru melesat dengan sangat cepat menuju tempat para tetua itu.


"Ahhh …"


Jeritan kesakitan mendadak terdengar dari tempat para tetua. Entah apa yang terjadi, belum ada yang mengetahui secara pasti karena debu masih mengepul. Tapi seiring berjalannya waktu dan debu mulai lenyap, terlihat seorang pemuda biru yang diselimuti halilintar sedang memegang pedang yang mengeluarkan kilatan halilintar pula.


Terlihat dibelakang pemuda yang tak lain adalah Shin Shui, ada enam mayat yang tewas dengan tanpa kepala. Potongannya sangat rapi, bahkan terlihat tidak mengeluarkan darah. Hanya saja mayat itu berubah warna menjadi hitam legam dan mengeluarkan asap putih.


Tidak ada yang tidak terkejut dengan kejadian ini. Para tetua, para murid, semuanya terbelalak menyaksikan apa yang terjadi didepan mereka. Sungguh, mereka tidak menyangka bahwa kepala tetua yang terbilang muda itu mempunyai kekuatan yang amat mengerikan. Padahal usianya masih bisa dibilang seumur jagung.


Shin Shui masih terdiam dengan kondisi seluruh tubuh diselimuti halilintar dan sepasang sayap halilintar pula. Tapi sayap itu kini sudah berubah menjadi lebih kecil daripada tadi.

__ADS_1


__ADS_2