
Malam telah berganti siang, rembulan yang semalam terang benderang kini telah diganti oleh sang surya yang menyinari dan membawa kehidupan bagi makhluk bumi.
Orang-orang mulai beraktivitas kembali seperti biasanya, burung-burung begitu semangat mengawali hari ini.
Shin Shui dan Yun Mei pun sudah bangun, mereka berniat akan melanjutkan perjalanan kembali setelah sarapan. Saat ini keduanya sudah rapi, mereka dengan segera keluar kamar untuk sarapan pagi.
Setelah membayar biaya penginapan dan sarapan, Shin Shui dan Yun Mei segera melanjutkan perjalanannya yang tertunda untu pergi ke Bukit Awan. Karena menurut perhitungannya, masih ada sisa waktu delapan hari untuk sampai kesana jika tidak ada halangan.
Shin Shui berjalan santai karena kali ini dia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh seorang gadis cantik yang selalu membuat dirinya gugup.
"Kenapa harus jalan seperti ini? Kalau begini pasti akan memakan waktu lama untuk mencapai tujuanmu," Yun Mei membuka suara.
"Aku biasanya berlari dan melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya, bahkan sesekali aku terbang. Aku berjalan santai seperti ini karena membawamu, kalau aku lari siapa yang akan membawamu?" balas Shin Shui.
"Apa kau pikir aku tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan?"
"Ehhh … kau bisa berlari layaknya seorang pendekar?" Shin Shui sedikit terkejut saat Yun Mei berkata demikian.
"Tentu saja aku bisa," jawab Yun Mei singkat.
"Be-berarti nona Yun memang seorang pendekar?" tanya Shin Shui yang semakin penasaran terhadap Yun Mei.
"Sudahku bilang jangan panggil aku nona … ya, tapi aku baru mencapai tingkatan Pendekar Surgawi tahap dua," jawab Yun Mei ketus.
Gadis itu paling tidak suka jika ada yang memanggil dirinya dengan sebutan nona, tak terkecuali kepada Shin Shui sekalipun. Sebab bagi Yun Mei, gadis yang dipanggil nona adalah mereka yang berasal dari keluarga bangsawan. Sedangkan dia hanya berasal dari kalangan biasa, jadi sebutan nona sungguh membuat dirinya kesal.
"Ma-maafkan aku non- … ehh … emm … ma-maksudku cantik. Aishh … Yun Mei maksudku … ehehe …" Shin Shui mulai gugup kembali. Jantungnya mulai berpacu kencang seperti beberapa waktu lalu.
"Lalu kalau kau seorang pendekar, kenapa kemarin bisa tertangkap dengan mudah?" tanya Shin Shui.
Pemuda itu berfikir kalau memang Yun Mei pendekar, kenapa kemarin bisa tertangkap oleh penduduk untuk dijadikan bahan persembahan? Bukankah dia bisa melawan, atau setidaknya melarikan diri.
"Aku kemarin tertangkap karena aku dikepung oleh sekelompok Pendekar Surgawi tahap empat. Dengan kemampuanku yang sekarang, apa yang bisa aku lakukan jika dikepung oleh pendekar yang diatasku? Aku hanya bisa pasrah dan berharap akan datangnya keajaiban," Yun Mei menjelaskan kenapa dirinya bisa tertangkap walaupun seorang pendekar.
__ADS_1
"Hmmm … begitu ya. Baiklah, jika ada waktu aku akan membantumu meningkatkan pelatihan," kata Shin Shui.
Dia ingin membantu Yun Mei meningkatkan pelatihannya tak lain supaya tidak menjadi beban, meskipun belum ada kepastian Yun Mei akan ikut sejauh mana … tapi setidaknya sudah ada persiapan yang matang, pikir Shin Shui.
Karena Shin Shui sudah mengetahui bahwa Yun Mei benar-benar seorang pendekar, dia lalu mengajak untuk berlari dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, kita berlari saja supaya mempercepat langkah." ajak Shin Shui.
Yun Mei menganggukkan kepala tanda setuju, keduanya langsung berlari cepat.
###
Hari sudah siang, Shin Shui sudah sampai disebuah desa yang cukup besar. Mereka sudah berlari beberapa puluh kilometer tanpa henti.
Karena tidak ada hambatan, Shin Shui dan Yun Mei sudah melewati beberapa desa maupun kota. Sekarang keduanya berniat untuk mencari tempat makan, perutnya sudah bernyanyi sedari tadi.
Tak jauh dari jaraknya saat ini, mereka menemukan ada sebuah restoran yang cukup besar dan mewah didepan sana. Keduanya langsung buru-buru pergi ke restoran tersebut.
"Selamat datang tuan dan nona muda di Restoran Kabut Merah, silahkan masuk." seorang wanita muda menyambut kedatangan Shin Shuu dan Yun Mei.
"Terimakasih, aku memesan dua meja. Apakah masih ada yang kosong?" tanya Shin Shui.
"Ada tuan muda, tapi di lantai paling atas. Lantai itu yang paling mahal diantara yang lain, bagaimana?" tanya pelayan tersebut.
"Tidak masalah, selama harga dan makanannya sesuai berapapun akan aku bayar." kata Shin Shui.
Setelah menyetujui tawaran sang pelayan, akhirnya Shin Shui dan Yun Mei segera dibawa ke lantai paling atas. Ternyata Restoran Kabut Merah memiliki lima lantai, dan yang dipesan Shin Shui saat ini adalah lantai yang kelima.
Di lantai lima terlihat masih ada beberapa meja yang kosong, Shin Shui dan Yun Mei segera mengambil tempat duduk di dekat jendela. Keduanya segera memesan makanan yang terenak yang ada di restoran ini.
Awalnya Yun Mei sedikit tidak percaya kalau Shin Shui mempunyai banyak harta. Tapi karena Shin Shui tetap berusaha meyakinkan, akhirnya gadis itu percaya walaupun sedikit terpaksa.
Selang beberapa menit, makanan yang mereka pesan sudah tersaji, seorang pelayan yang berbeda membawa pesanan Shin Shui dan Yun Mei.
__ADS_1
"Silahkan tuan dan nona," kata pelayan itu sembari memberikan makanan. "Terimakasih." jawab Shin Shui.
Tanpa menunggu lama, pemuda dan gadis itu segera menyantap makanan yang sudah tersedia. Keduanya sangat lahap, hanya beberapa menit makanan itu sudah habis tak tersisa.
"Ahh … enak sekali." kata Shin Shui seraya menepak-nepak perutnya.
Karena hari masih siang, Shin Shui dan Yun Mei berniat untuk melanjutkan perjalanannya kembali. "Berapa biaya makanku tadi? Sekalian dengan gadis ini," ucap Shin Shui berniat membayar biaya makannya dengan Yun Mei.
"324 koin emas tuan muda." jawab kasir itu.
"Heii … apakah tidak terlalu mahal? Padahal makanannya hanya sedikit," Yun Mei protes karena harga makanan yang mereka makan ternyata sangat mahal.
"Sudah-sudah, aku akan membayarnya. Tenang saja, ini bayarannya …" kata Shin Shui sembari memberikan satu kantong kecil berisi koin emas.
Yun Mei mendadak membelalakan matanya saat melihat Shin Shui membayar tanpa protes sedikitpun. 'Dia benar-benar kaya ternyata,' batinnya.
Setelah selesai membayar, Shin Shui dan Yun Mei segera pergi dari restoran itu, keduanya berjalan cukup cepat.
Namun ditengah perjalanan, mereka mendadak berhenti karena teriakan suara seseorang meminta tolong.
"Tolong-tolong … ada perampok." ucap orang itu sembari menangis.
"Ada apa?" tanya Shin Shui.
"Ada perampok, mereka perampok yang selalu membuat resah kota ini. Mereka mengambil semua harta dan anakku. Tolong aku tuan muda," kata orang itu sembari memohon supaya Shin Shui menolongnya.
"Baiklah, tenang dulu tenang. Siapa para perampok itu?" tanya Shin Shui penasaran.
"Mereka perampok Iblis Kembar." jawabnya.
Orang itu lalu menceritakan siapa itu dan apa saja kejahatan yang sering dilakukan oleh Perampok Iblis Kembar. Ternyata perampok itu suka mengambil para gadis dan menjarah harta orang-orang di desa tersebut. Kelompok perampok tersebut dipimpin oleh dua orang, sesuai namanya, pimpinan mereka dijuluki Iblis Kembar.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup, Shin Shui dan Yun Mei segera pergi untuk mengejar dan menangkap komplotan perampok Iblis Kembar.
__ADS_1