
Karena keduanya terbang dengan sangat cepat, kurang lebih dua jam kemudian Shin Shui perlahan turun ke bawah karena saat ini dia sudah merasa sangat jauh, juga sekarang dia telah tiba disebuah desa yang entah apa namanya.
Shin Shui dan phoenix biru pun turun tepat di depan gapura yang merupakan tanda masuk ke desa tersebut. Ternyata di gapura itu tertulis "Selamat Datang di Desa Teratai Merah".
Shin Shui pun langsung masuk saja ke desa itu karena memang tidak ada penjaganya. Suasana saat ini sudah sore hari, matahari pun sudah menumpahkan cahaya jingganya dan membakar bumi.
Suasana yang biasanya disambut hangat oleh anak-anak yang bermain riang, ini malah sebaliknya. Tidak ada satupun orang-orang yang merasa gembira, bahkan yang berkeliaran pun hanya beberapa saja.
Entah yang terjadi pada desa Teratai Merah ini, sehingga desa ini tak lebih dari sebuah hutan belantara yang sepi. Tapi meskipun begitu, pemuda biru itu terus saja berjalan menyusuri desa yang tampak 'mati' itu.
Dia berniat untuk mencari sebuah kedai makan karena perutnya sudah merasa lapar sekali. Hingga tak lama, Shin Shui melihat ada sebuah kedai makan kecil. Dia pun lalu menuju kesana sambil tetap berjalan santai.
Ternyata didalam kedai makan itu pun sepi, tidak ada pengunjung sama sekali. Yang ada hanyalah seorang kakek tua renta sedang melamun seperti memikirkan sesuatu yang teramat dalam.
Melihat ada seseorang yang datang, kakek tua itu langsung tersadar dari lamunannya lalu berdiri dan menyambut Shin Shui.
"Selamat datang tuan muda …" kata kakek tua itu.
"Terimakasih. Paman, aku hendak memesan satu porsi sup dan juga arak," kata Shin Shui.
"Baik tuan muda, silahkan duduk dulu barang sebentar," kata kakek tua itu mempersilahkan duduk.
Tak berselang lama, kakek itu pun mengantar pesanan Shin Shui. Bau harum dari sup yang masih hangat itu sangat menggoda selera, tanpa menunggu lama lagi pemuda biru itu langsung menyantap hidangan yang sudah tersedia karena memang dia sudah merasa sangat lapar sekali.
Setelah selesai menyantap hidangan, Shin Shui memanggil kakek tua tadi yang tak lain pemilik kedai tersebut.
__ADS_1
"Paman, apakah yang sudah terjadi di desa ini sehingga nampak sepi sekali?" tanya Shin Shui yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya.
Kakek itu nampak bingung, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Shin Shui. Tapi karena melihat tatapan pemuda itu yang menatap sedikit tajam, kakek pemilik kedai mulai menceritakan kejadian di desa Teratai Merah.
Menurut keterangan kakek tua tersebut, beberapa bulan lalu tiba-tiba desa Teratai Merah digemparkan oleh kemunculan segerombolan perampok yang terkenal kejam dan juga kuat.
Perampok itu jumlahnya tak lebih dari lima belas orang, dan diketuai oleh dua orang pendekar yang mempunyai kepandaian tinggi. Gerombolan perampok itu selalu datang seminggu sekali dan selalu memeras warga desa setempat.
Kalau tidak ada yang memberinya jatah, maka perampok itu akan membawa gadis-gadis muda dan juga menghancurkan desa Teratai Merah. Bahkan sudah dua kali mereka membakar beberapa rumah warga.
Menurut kakek pemilik kedai, ternyata gerombolan perampok itu mempunyai cabang-cabang di daerah lainnya. Termasuk yang sering datang ke desa Teratai Merah pun merupakan cabangnya. Sedangkan pusatnya berada di ujung kota Cui-Tu. Sebelah selatan dari desa Teratai Ini.
Dan menurut informasi yang didapat, gerombolan perampok itu dipimpin oleh dua orang pendekar pria dan wanita. Keduanya bahkan mendapatkan julukan Sepasang Ular Pemangsa.
Sudah banyak juga pendekar-pendekar yang didatangkan untuk menghancurkan gerombolan perampok yang dinamai Perampok Ular Hitam ini, tapi sayangnya tidak ada yang mampu untuk mengalahkan pemimpin utama perampok itu karena memang pendekar Sepasang Ular Pemangsa sangat kuat dan juga kejam.
Biasanya mereka akan datang malam hari yang tak lama lagi. Alasan kakek itu sampai demikian karena tentunya harus memberikan jatah, tapi bagaimana mau memberi jatah jika dari pagi saja pelanggannya baru Shin Shui sendiri. Tentu saja kakek itu bingung sekali.
"Hemmm … sungguh tidak berprikemanusiaan. Tenang saja kakek, aku janji nanti akan membantu jika gerombolan perampok itu datang kemari," kata Shin Shui.
"Apakah kau benar tuan muda?" tanya kakek itu tidak percaya.
"Tentu saja, kita lihat saja nanti. Tapi sebelumnya, memangnya tidak ada pemerintah atau pihak berwajib yang menangani hal ini?" tanya Shin Shui heran.
"Tida ada tuan muda. Kami sudah beberapa kali menghubungi kepala desa tapi tetap saja tidak ada bantuan yang datang. Sekalinya datang dahulu, pernah sekali. Tapi karena orang suruhan kepala desa itu tewas ditangan perampok, sampai sekarang dia tidak mau lagi mengirim orang kesini,"
__ADS_1
"Cihh … apa-apaan pemimpin seperti itu. Rumah kepala desa Teratai Biru letaknya dimana? Aku akan pergi kesana untuk meminta keadilan," kata Shin Shui dengan tegas.
"Di ujung desa ini tuan muda, kira-kira jaraknya hanya lima ratis meter dari sini," jawabnya.
Shin Shui merasa geram sekali saat mendengat penuturan kakek pemilik kedai. Meskipun dia bukan asli penduduk sini, tapi karena dia mampu dan memang paling tidak suka melihat kejahatan, tentu saja dia tidak bisa diam berpangku tangan.
Ketika keduanya sedang asyik bicara santai, tiba-tiba dari luar terdengar langkah kaki kuda yang berjumlah tak lebih dari dua ekor. Selain itu juga terdengar sorak-sorai dari banyak orang sehingga desa Teratai Merah mendadak ramai.
"Mereka datang, mereka datang," kata kakek pemilik kedai, tubuhnya langsung terasa lemas dan wajahnya langsung pucat.
"Siapa?" tanya Shin Shui.
"Perampok itu, mereka sudah datang,"
Dan benar saja, tak lama setelah kakek tua itu berkata demikian, tiba-tiba terdengar dari luar suara orang memanggil penduduk desa.
"Hei kalian, keluarlah. Mana jatahku kali ini," ucap kepala perampok.
Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari warga penduduk. Hingga berulang kali memanggil dan tidak ada jawaban, pada akhirnya kepala perampok itu kesal juga.
"*******!!! Apakah kalian tuli? Atau ingin ******? Baik, kalau sampai tidak ada juga yang keluar, aku akan membakar seluruh desa yang miskin ini," kata kepala perampok mengancam akan membakar rumah warga.
Shin Shui yang dari tadi diam, kini sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. Sampai pada akhirnya dia keluar dari dalam kedai tadi.
"Berhenti, kalau sampai ada yang berani membakar desa ini, aku pastikan kalian semua akan tewas malam ini juga," ucap Shin Shui dengan nada mengancam.
__ADS_1
Bukan main marahnya kepala perampok itu. Tak disangka ada seorang pendekar muda yang berani berkata demikian padanya.
"Eh ada pemuda yang so berani? Bagus, bagus. Aku suka dengan semua ini," ucapnya dengan senyuman mengejek.