Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Cepat Pergi Sebelum Aku Benar-benar Memutilasi Tubuh Kalian


__ADS_3

Mendengar pernyataan kepala perampok tersebut, Shin Shui hanya tersenyum saja tanpa berkata apa-apa. Tapi tatapan matanya jelas menatap tajam, bagaikan sebuah pisau yang siap menusuk jantung.


"Heh bocah ingusan … lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan membunuhmu," kata pemimpin perampok itu dengan sombongnya.


"Bukanya lebih baik kalian saja yang pergi dari sini? Jangan sampai tanganku yang berbicara kepada kalian," balas Shin Shui.


Tentu saja pemimpin perampok sangat geram mendengar ucapan seperti itu. Apalagi ucapannya keluar dari mulut seorang pendekar muda yang bahkan umurnya belum menginjak dua puluh lima tahu.


"Keparat!!! Kau pikir saat ini berhadapan dengan siapa hah? Apa kau tidak pernah mendengar tentang nama Pendekar Golok Merah? Aku bahkan bisa membunuhmu hanya dengan dua kali sabetan golok milikku," ucapnya dengan marah.


"Hemmm … aku tidak pernah mendengar julukanmu, mungkin kau hanya pendekar yang besar mulut saja. Lalu, apakah kau juga berpikir bahwa aku tidak bisa membunuhmu? Bahkan aku bisa membunuhmu hanya dengan telunjukku saja," balas Shin Shui dengan senyuman yang sangat mengejek. Sifat 'gila' pemuda biru itu sudah muncul ke permukaan.


"Keparat!!! Akan aku cincang mulut busukmu itu bocah …"


"Eittsss … sebelum kau mencincang mulutku, biarkanlah aku yang mencincang mulutmu terlebih dahulu. Lalu aku akan membuat otakmu keluar, aku akan membelah dadamu dan mengeluarkan jantung serta hatimu. Kemudian aku akan memotong tubuhmu menjadi beberapa bagian, bagaimana, kau setuju?" kata Shin Shui sambil mengangkat kedua alisnya.


Tidak ada angin tidak ada hujan, pemimpin perampok yang tadinya begitu sombong kini menjadi ciut. Bukan karena takut kepada Shin Shui, tapi pemimpin perampok itu ngeri membayangkan semua ucapan pemuda asing itu.


Meskipun dia sendiri belum mampu memastikan apakah pemuda itu sanggup melakukan hal demikian atau tidak, tapi tetap saja dia menelan ludah beberapa kali karena saking ngerinya.


Begitupun dengan para anak buahnya, saat ini tubuh mereka mendadak lemas. Bagaimana kalau yang dibuat demikian itu adalah dirinya? Apalagi setelah mereka melihat bahwa si pemuda mampu membuat teman-temannya menjadi patung hanya memakai sebutir kerikil kecil.


"Keparat!! Serang bocah ingusan itu …" pemimpin perampok memberikan perintah kepada semua anak buahnya yang kira-kira berjumlah tiga belas orang untuk menyerang Shin Shui.


Meskipun semua anak buah perampok itu merasa ngeri terhadap Shin Shui, tapi mereka menurut saja karena baginya pemimpin mereka lebih kejam. Padahal belum tahu saja siapa pemuda yang akan mereka serang ini.

__ADS_1


Ketiga belas anak buah itu lalu mengepung Shin Shui, goloknya sudah dicabut dari sarungnya. Tapi di sisi lain Shin Shui masih saja diam tanpa bergerak sedikitpun.


"Ayo kalian, serang aku!!!" tantang Shin Shui kepada anak buah perampok.


Tanpa menunggu lebih lama, mereka pun lalu menyerang pemuda biru itu secara bersamaan dengan membabatkan goloknya masing-masing.


Tepat ketika jarak semua golok kira-kira empat jengkal darinya, tiba-tiba Shin Shui bergerak dengan sangat cepat. Dan hal yang diluar nalar para perampok itu pun terjadi.


Ketiga belas golok yang akan mereka gunakan untuk membunuh Shin Shui, kini sudah patah tepat di pangkalnya. Bukan main takutnya para anak buah itu, mereka memandang dengan tatapan tidak percaya.


Bagaimana ada orang yang bisa bergerak secepat itu? Apakah pemuda itu benar-benar manusia? Pertanyaan ganjil muncul di kepala anak buah perampok.


"Hahaha … golok jelek seperti ini ingin membunuhku? Jangan mimpi kalian," ucapnya dengan tatapan penuh ancaman.


Setelah itu, Shin Shui lalu menghentakkan kakinya ke tanah sehingga deru angin tiba-tiba muncul dan mementalkan ketiga belas anak buah perampok hingga mereka tidak sanggup bangun kembali.


Bahkan mereka sendiri tidak bisa melihat secara jelas. Kini keduanya sadar bahwa mereka mendapatkan lawan yang salah.


"Pendekar muda, sebenarnya kau siapa?" tanya pemimpin perampok yang satu lagi, dimana dari tadi dia hanya berdiam diri tanpa berkata sedikitpun.


"Siapa aku itu tidak penting. Tapi yang jelas, aku adalah orang yang akan menghancurkan kalian semua hingga ke akar," jawab Shin Shui dengan tenang.


"******* jahanam!!!"


Kedua pemimpin perampok pun langsung melompat dari kudanya masing-masing lalu menyerang Shin Shui dengan golok dan juga pedang.

__ADS_1


Meskipun keduanya merasa gentar, tapi apa boleh buat. Mereka sudah terlanjur menantang, lagi pula sangat jelas Shin Shui tidak akan pernah membiarkan musuhnya pergi kalau tanpa memberikan sedikit pelajaran.


Keduanya kini sudah memainkan senjata masing-masing untuk membunuh Shin Shui. Gerakannya cukup lumayan jika dibandingkan dengan pemimpin perampok yang pernah dia jumpai selama ini.


Sinar pedang dan juga golok terlihat sangat berkilau dibawah gelapnya malam. Tapi Shin Shui masih tetap tenang menyambut serangan kedua senjata itu. Bahkan dia masih memakai tangan kosonh untuk melawan mereka.


Mendengar adanya keributan, satu-persatu warga desa Teratai Merah mulai keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka amat penasaran apa yang terjadi diluar.


Melihat ada seorang pemuda yang kini sedang bertarung melawan perampok yang biasa meminta jatah kepada mereka, betapa bahagianya hati warga setempat.


Akhirnya pahlwan yang mereka tunggu selama ini telah tiba. Sorak-sorai dari warga mulai terdengar sehingga terpecahlah konsentrasi pemimpin perampok.


Melihat konsentrasi lawan yang sudah buyar, tanpa basa-basi lagi Shin Shui lalu menotok pergelangan tangan kedua pemimpin hingga senjata mereka terlepas dari genggaman.


Kemudian secara tiba-tiba dia mematahkan tangan kanan kedua pemimpin tersebut sehingga mereka menjerit cukup keras dibarengi suata tulang yang patah.


Sakitnya bukan main. Rasa ngilu dan pegal mulai menjalar ke seluruh tubuh kedua pemimpin sehingga mereka menghentikan pertarungannya.


"Sekarang kalian pergi dari sini sebelum benar-benar aku berniat untuk memutilasi tubuh kalian, cepat pergi!!!" bentak Shin Shui sambil sedikit menakut-nakuti.


Tepat seperti dugaan, kedua pemimpin perampok langsung kembali menaiki kuda mereka masing-masing lalu mengajak anak buahnya untuk pergi. Mereka berniat melaporkan kejadian ini kepada kepala Perampok Ular Hitam.


Sorak-sorai para warga penduduk desa Teratai Merah kembali terdengar, bahkan lebih ramai daripada tadi. Mereka lalu mendekat dan mengerubungi Shin Shui untuk berterimakasih.


"Terimkasih tuan muda, terimakasih," ucap mereka dengan sangat bahagia karena akhirnya kelompok perampok yang selalu meresahkan berhasil diusir oleh seorang pendekar muda.

__ADS_1


###


Satu lagi nanti yah, lagi agak repot hehe😁😁semoga terhibur🙏


__ADS_2