
Orang-orang yang sedaritadi hanya melamun atas apa yang dilakukan Shin Shui, kini segera tersadar ketika pemuda biru itu sudah dekat dengan mereka.
Sorak-sorai gembira pun segera riuh terdengar menyambut sang kepala tetua sekte Bukit Halilintar tersebut. Seolah-olah mereka menganggap bahwa tidak terjadi apa-apa.
"Selamat datang kepala tetua …"
"Akhirnya kepala tetua kembali …"
Suara riuh menyambut Shin Shui menggema di seluruh sekte Bukit Halilintar. Rasa sakit yang dirasakan oleh para tetua dan rasa takut yang dirasakan oleh pata murid mendadak lenyap ketika Shin Shui tiba didepan mereka semua.
Kesedihan berubah jadi kebahagiaan. Kengerian berubah menjadi ketenangan. Kerinduan pun akhirnya tersampaikan saat orang yang mereka tunggu-tunggu datang.
"Terimakasih semuanya. Aku sungguh bahagia bisa melihat kalian kembali, mari kita masuk. Kita obati para tetua yang terluka," kata Shin Shui mengajak semuanya masuk.
Lalu kesemua orang-orang itu masuk ke dalam sekte. Suasana di sekte langsung kembali sibuk untuk menyiapkan jamuan atas ucapan syukur karena Shin Shui kembali lagi.
Tukang masak langsung pergi ke dapur lalu memasak, para murid membereskan sisa pertarungan dan lain sebagainya. Para tetua dibawa ke satu ruangan oleh Shin Shui untuk segera diobati. Tiga siluman peliharaan Shin Shui memilih untuk berjaga diluar sekte.
__ADS_1
Shin Shui dan tetua lainnya sudah tiba di sebuah ruangan pengobatan khusus. Ruangan itu cukup besar, dan tentunya mewah. Dimana ruangan tersebut dihiasi oleh permadani berwarna emas dan terdapat dua belas kursi yang dibuat dari giok murni.
Setelah sampai didalam, para tetua pun lalu duduk dimasing-masing kursi. Tak lupa Yashou pun turut hadir meskipun dalam keadaan lemah. Tapi dia dibaringkan pada sebuah meja panjang karena saat ini dalam keadaan pingsan.
"Semuanya, harap diam dan pejamkan mata kalian. Tenangkan pikiran kalian dan jangan membuka mata sebelum aku menyuruhnya," kata Shin Shui menyuruh kepada semua tetua.
Semua tetua pun menganggukkan kepalanya. Mereka perlahan memejamkan mata lalu melakukan apa yang Shin Shui suruh. Sedangkan Shin Shui sendiri, dia perlahan mengeluarkan tenaga sejati ke seluruh tubuhnya hingga terpancar keluar memenuhi ruangan tersebut.
Kemudian Shin Shui menempelkan dua tangannya kepada punggung dua tetua. Energi putih bercampur biru mulai keluar dari telapak tangannya. Rasa hangat dan nyaman mulai dirasakan oleh tetua ketika energi Shin Shui memasuki tubuh mereka.
Kini tinggal Yun Mei dan Yashou saja yang masih tersisa. Luka kedua pendekar itu adalah yang paling parah dibandingkan yang lainnya. Sejauh ini belum ada yang bicara, karena memang Shin Shui melarangnya.
Shin Shui perlahan mendekati Yun Mei dari belakang. Kemudian dia duduk bersila dibelakangnya. Seperti tadi, dia menempelkan kedua telapak tangan kepada wanita yang dia sayangi itu.
Ternyata luka dalam Yun Mei lebih parah dari yang dia bayangkan. Dimana ada beberapa inti tenaga dalam yang retak. Mungkin ini efek akibat Yun Mei memaksakan untuk mengobati para tetua sebelumnya.
Kira-kira sekitar tiga puluh menit, barulah dia menghentikan pengobatannya. Keringat membasahi punggung Shin Shui. Karena sebenarnya menggunakan tenaga dalam ataupun tenaga sejati lebih sulit dibandingkan tenaga luar biasa.
__ADS_1
Merasa pengobatannya sudah selesai dan tubuhnya terasa mendingan, tanpa basa-basi Yun Mei langsung memeluk erat Shin Shui. Air mata kembali mengalir pada pipinya.
Wajah yang tadinya kusam dan berdebu, kini sudah kembali bersih dan lembut. Sehingga sayang sekali rasanya kalau air mata itu sampai jatuh membasahi pipi.
"Terimakasih Shushi, aku sungguh sangat bahagia bisa berjumpa denganmu kembali. Aku harap kau tidak meninggalkanku lagi setelah ini, aku sudah lelah dilanda kerinduan setiap saat," kata gadis itu dengan suara menyayat hati.
"Tenanglah Memei. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, sekarang kita akan selalu bersama. Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, kan aku sudah kembali," kata Shin Shui melepaskan pelukan Yun Mei sambil tersenyum lalu mengusap air mata wanita itu.
Di sisi lain, para tetua yang menyaksikan ini tentu saja cemburu dan juga terharu. Bahkan ada juga yang berpelukan karena melihat dua pendekar muda tersebut.
"Ehemmm … ehemmm … ehemmmmm …" Wu Chai mendehem akibat cemburunya. Dia teringat akan masa mudanya dulu.
"Ehehehe … maaf, maaf," kata Shin Shui sambil menggaruk kepalanya.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama-sama. Senyuman yang selama ini seperti hilang, kini telah kembali lagi.
Kesedihan dan kerinduan pasti akan lenyap jika orang terkasih yang kau harapakan telah berada disisimu lagi. Jagalah orang-orang terkasih dalam hidup, karena lusa … belum tentu kau dapat bertemu dengannya lagi.
__ADS_1