Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Akhirnya …


__ADS_3

Setelah selesai mengobati, Shin Shui lalu masuk ke dalam goa yang merupakan tempat tinggal kedua siluman kera tersebut. Sedangkan dua siluman kera itu disuruh menjaga diluar.


Shin Shui mulai berjalan masuk ke dalam, ternyata goa tersebut memang besar bahkan juga panjang. Didalamnya sudah ada lumut yang tumbuh disepanjang dinding.


Shin Shui terus berjalan menyusuri goa sambil mencari Kitab Tapak Penghancur. Cukup lama dia mencari dimana adanya kitab tersebut. Hingga akhirnya ketika sudah masuk sangat dalam, Shin Shui menemukan ada sebuah lorong yang lebih kecil lagi.


Karena penasaran, Shin Shui lalu masuk kedalamnya dengan ditemani phoenix biru. Setelah cukup dalam, dia membelalakan kedua matanya. Apa yang dia lihat sekarang tidak pernah terlintas dibenaknya.


Ternyata yang Shin Shui lihat adalah ada sebuah altar dan permadani berwarna merah serta cukup tebal. Tepat ditengah-tengahnya ada sebuah tumpukan batu yang mirip sebuah makam.


Shin Shui lalu mendekat kepada tumpukan batu itu. Ternyata disana juga ada sebuah patok yang terbuat dari batu pula. Ditambah juga ada sebuah tulisan, namun hurufnya kuno. Sehingga Shin Shui tidak terlalu mengerti dengan tulisan ini.


Dia pun lalu bertanya kepada phoenix biru barangkali dia faham akan tulisan itu. Karena burung itu merupakan makhluk zaman dahulu, ditambah merupakan sepuluh persen dari kekuatan, tentu saja dia faham arti dari tulisan pada batu tersebut.


Setelah mencoba membaca dan mengartikan maksud dari tulisan, akhrinya phoenix biru itu faham. Ternyata tulisan itu merupakan sebuah nama. Nama yang dimaksud tak lain adalah "Lie Bun Hauw", sang pemilik Kitab Tapak Penghancur sebelumnya.


Alangkah senangnya Shin Shui setelah tahu bahwa tulisan itu berarti nama dari pemilik kitab yang saat ini dia cari. Setelah itu, Shin Shui dan phoenix biru pun mencari petunjuk lain.


Dengan harapan bahwa kitab tersebut memang ada disini. Keduanya terus mencari hingga dua jam lebih. Namun belum menemukan juga petunjuk yang lebih berarti.


Shin Shui kembali sedikit putus asa. Lalu tanpa sengaja dia menarik permadani tadi hingga membuatnya pindah tempat. Dan alangkah kagetnya ketika dilantai yang tertutup permadani itu ada sebuah bekas galian yang kemudian tertutup rapat.


Meskipun tertutup, tapi Shin Shui bisa mengetahui bahwa itu memang benar-benar pernah digali. Karena penasaran, dia pun lalu kembali menggalinya dengan sebuah pisau.

__ADS_1


Semakin bertambah kagetlah dia ketika menemukan sebuah kotak kayu hitam yang terlihat sudah sangat tua. Shin Shui membersihkan debu-debu dari kota itu lalu membukanya.


Ternyata isinya tak lain adalah sebuah kitab. Kitab yang sudah sangat kuno dan juga lapuk. Kitab itu sudah berwarna kuning lusuh. Bahkan sebagian terlihat sedikit robek dimakan usia.


Pemuda biru itu lalu membuka kitab kuni tersebut. Dihalaman pertama ada sebuah gambar lima jari yang melambangkan keluarnya sebuah cahaya. Dibawahnya ada sebuah tulisan kuno yang cukup panjang.


Hatinya semakin yakin bahwa ini adalah kitab yang dia cari. Shin Shui kemudian memanggil kembali phoenix biru lalu menyuruhnya untuk melihat dan membacakan maksud dari tulisan itu.


"Phoenix biru, tolonag bacakan arti dari tulisan ini," katanya.


Kemudian phoenix biru itupun mencoba untuk menterjemahkannya. Semakin lama membaca dan perlahan mencoba membuka halaman lembar per-lembar, semakin bersinarlah mata burung itu.


"Apa artinya?" kata Shin Shui tidak sabar saat melihat reaksi dari burung peliharaannya itu.


"Shui'er, i-ini … ini adalah kitab yang kita cari selama ini …" kata burung itu dengan gembira.


"Phoenix biru, cepat kau katakan arti dari tulisan yang ada di awal halaman. Aku ingin mendengarnya," pinta Shin Shui.


Lalu dengan semangat, burung phoenix biru itupun membaca kembali tulisan yang ada di awal halaman.


"Aku yakin, suatu saat nanti pasti akan ada yang berhasil memiliki kitab ini sekaligus akan menjadi penerua setelahku. Siapapun yang akan terpilih untuk menjadi pemilik kitab ini selanjutnya, aku mohon pergunakanlah kitab ini dengan baik. Jangan sampai digunakan dijalan yang salah, karena suatu saat nanti, kitab ini akan memakan pemiliknya sendiri jika digunakan semena-mena."


"Pergunakanlah seluruh ajaran dari kitab ini untuk membela kebenaran. Terutama gunakanlah untuk menghadapi era kekacauan yang mungkin akan datang suatu saat nanti. Tapi aku yakin, siapapun penerusku, itulah yang dipilig oleh langit. Dialah yang dipilih untuk menjunjung tinggi keadilan dan membasmi kejahatan,"

__ADS_1


"Sekali lagi. Pergunakanlah Kitab Tapak Penghancur dengan bijak. Jika memang pemilik selanjutnya sangat berbakat, maka tak perlu membutuhkan waktu lama untuk mempelajari seluruh ajaran kitab ini,"


"Pesanku, pelajarilah seluruh ajaran kitab di goa ini hingga selesai. Jangan keluar sebelum menguasai sepenuhnya,"


"Lie Bun Hauw"


Selama burung phoenix biru membaca seluruh arti tulisan tersebut, semakin lama semakin berbinarlah mata Shin Shui. Akhirnya, sesuatu yang dia cari selama ini ketemu.


"Baiklah. Terimakasih tuan Lie Bun Hauw. Aku bersumpah atas nama langit dan bumi, aku … Shin Shui, akan menjalankan seluruh amanah yang telah kau tulis dalam Kitab Tapak Penghancur. Aku juga bersumpah akan menggunakan seluruh kitab ini dijalan kebenaran. Semoga dengan ini, kau semakin tenang di alam sana," kata Shin Shui


Lalu pemuda biru itu pun bersujud tiga kali didepan makam Lie Bun Hauw yang merupakan pemilik Kitab Tapak Penghancur itu.


"Selamat Shui'er, kau memang benar-benar dipilih langit untuk menciptakan perdamaian dan untuk mewujudkan semua cita-cita pendekar masa lalu. Berjuanglah dengan keras demi sebuah impian yang besar," kata phoenix biru.


"Eummm …" Shin Shui mengangguk. "Terimakasih phoenix biru, tapi apakah aku boleh meminta bantuanmu? Bagaimana jika kau menemaniku selama aku mempelajari Kitab Tapak Penghancur ini, kau tidak keberatan bukan? Mengingat hanya kaulah yang bisa memahami arti tulisannya," kata Shin Shui dengan nada memohon.


"Hahaha … tentu saja Shui'er. Jangankan untuk menemani selama belajar kitab, menemani sampai titik darah penghabisan pun aku siap," ucap phoenix biru dengan bahagia.


Begitulah, apapun keinginanmu, berusahalah untuk mewujudkannya dengan sungguh-sungguh. Keinginan yang besar pasti akan membutuhkan perjuangan yang besar pula.


Berjuanglah secara maksimal sampai titik akhir. Jangan kau hiraukan hasilnya. Karena proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jika kau sungguh-sungguh, maka yakinlah dengan hasil yang memuaskan.


Tidak ada yang langsung dalam kehidupan ini. Apapun itu pasti butuh proses dan perjuangan. Karena itulah, jangan pernah bicara tidak bisa sebelum kau mencoba. Jangan pernah menyerah selama nyawamu belum meninggalkan ragamu.

__ADS_1


Hilangkan keraguan dalam perjuangan. Karena keraguan bisa jadi merupakan penghalang untuk menuju kesuksesan. Hilangkan ketakutan dalam diri, karena ketakutan adalah bagian dari keraguan.


Optimislah! Yakinlah! Bahwa apapun yang diperjuangkan dengan keras, maka kau bisa mencapainya selama ini masuk diakal.


__ADS_2