Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kesedihan-Selamat Tinggal Semuanya


__ADS_3

Tak terasa waktu terus bergulir dengan cepatnya. Satu hari bagai satu jam, satu minggu terasa baru beberapa hari, bahkan satu bulan pun terasa baru seminggu kemarin. Mungkin karena saking betahnya hidup didunia yang bergelimang nikmat dan keindahan sehingga semua terasa sebentar.


Tak terasa pula satu bulan sudah berlalu, tepat pada hari esok Shin Shui akan memulai lagi pengembaraanya mengelilingi seluruh kekaisaran Wei untuk menghancurkan kejahatan yang kini mulai merajalela. Bahkan bukan tidak mungkin pemuda biru itu akan mengembara juga ke negara tetangga jika saja negara itu mengganggu tanah airnya.


Sekarang hari sudah siang, matahari tepat berada diatas kepala. Panasnya sinar yang diberikan matahari tak mampu menghalau semangat para murid sekte Bukit Halilintar. Sekarang pun mereka sedany dilatih oleh para seniornya masing-masing.


"Haaa …"


"Haaa …"


Suara teriakan para murid itu menambah semangatnya masing-masing. Dari ruang para tetua terlihat seorang pemuda berpakaian serba biru berjalan dengan santainya menuju tempat dimana para murid sedang melakukan latihan. Pemuda itu tak lain lagi adalah kepala tetua mereka, yaitu Shin Shui.


Para murid itu mendadak berhenti ketika kepala tetua mereka tiba dihadapannya. Kesemua murid termasuk para senior yang sedang melatih langsung memberikan hormatnya kepada pemuda biru itu.


"Aku ingin bicara dengan semua murid sebentar," kata Shin Shui meminta izin kepada senior yang sedang melatih.


Padahal bisa saja dia langsung bicara tanpa izin pun, tapi tentunya Shin Shui bukan tipe orang seperti itu. Dia adalah seorang pendekar yang selalu menghargai walau kepada bawahannya.


"Silahkan kepala tetua," kata pelatih itu sembari membungkuk dan memberikan isyarat tangannya.


"Selamat siant murid-murid yang aku cintai …" kata Shin Shui mengawali pembicaraan.


"Selamat siang kepala tetua," jawab mereka serempak.


"Duduklah dan beristirahat, aku ingin menyampaikan beberapa hal kepada kalian," kata Shin Shui. Lalu para murid itu duduk sesuai arahan yang diberikan oleh Shin Shui.

__ADS_1


"Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih kepada kalian semua karena sudah menjadi murid yang berbakti. Pertama-tama aku ingin menyampaikan bahwa esok hari aku akan melakukan pengembaraan lagi. Aku harap meskipun tanpa hadirku disini, kalian tetap semangat melakukan latihan seperti ini. Teruslah belajar dan menuruti apa yang diucapkan oleh senior, guru, dan juga para tetua. Percayalah bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kalian sendiri."


"Jangan berhenti belajar, belajar dan teruslah belajar apa yang bisa kalian dapatkan disini. Karena membawa segudang ilmu tidak akan membuat kalian merasa keberatan, wujudkanlah cita-cita kalian yang ingin menjadi seorang pendekar yang kuat. Berlatihlah dengan sangat keras. Semua itu butuh proses, 'sebuah pedang yang mampu membelah batu karang tadinya hanyalah seonggok baja. Tapi karena terus ditempa dengan keras, maka baja itu pada akhirnya bisa menjadi pedang yang tajam'. Begitupun dengan kalian. Aku harap kalian faham dan mau menjalankan apa yang aku bicarakan ini, kalian siap?"


"Siap kepala tetua …" jawab mereka serempak dengan wajah sedih.


"Bagus, silahkan lanjutkan kembali latihan kalian. Terimakasih sudah memberi izin," kata Shin Shui seraya berlalu pergi.


###


Hari sudah menunjukkan pagi. Burung-burung mulai berkicau dengan riangnya. Semua orang-orang termasuk para tetua sudah berkumpul dilapangan tempat para murid latihan.


Mereka akan mengantarkan kepala tetua dan juga tetua wanita satu-satunya untuk pergi meninggalkan sekte Bukit Halilintar dalam waktu yang mungkin cukup lama.


"Baik Shui'er. Aku berjanji akan menjaga sekte ini seperti aku menjaga nyawaku. Aku selalu menunggu kau dan Mei'er kembali lagi kesini. Ini adalah rumahmu, kami semua adalah keluargamu. Jaga dirimu baik-baik," ucap Yashou menggambarkan kesedihan dan keberatan hatinya karena Shin Shui akan pergi lagi.


"Para tetua sekalian, aku harap kalian juga bisa menjalankan apa yang aku ucapkan kepada tetua Yashou. Aku percayakan sekte ini kepada kalian," kata Shin Shui kepada para tetua.


"Baik kepala tetua," jawab mereka serempak.


"Memei, kau sudah siap?" tanya Shin Shui.


Yun Mei tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala saja. Sedih juga rasanya setelah tiga tahun lebih tinggal disini. Tapi dia mencoba untuk tetap tegar menghadapi kesedihannya.


"Senior, para tetua, aku pamit pergi dulu," ucap Shin Shui sembari memeluk mereka satu-satu, lalu disusul oleh Yun Mei.

__ADS_1


Tak terasa semua air mata tumpah membasahi masing-masing pipi orang-orang itu. Kesedihan ketika dulu Shin Shui pergi kini dirasakan kembali. Bahkan rasanya semakin parah saja.


Shin Shui memandang orang-orang dan juga sekte Bukit Halilintar beberapa saat. Berat juga rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Tugas tegaplah tugas. Kewajiban tetap kewajiban. Dengan berat hati dia perlahan mulai bersiap untuk pergi.


"Selamat tinggal semunya …"


"WUSHH …"


Shin Shui dan Yun Mei langsung melesat dengan cepat. Dia tidak mau berlama-lama karena pasti akan merasakan kesedihan yang lebih dalam. Tak lupa phoenix birunya pun kini sudah bertengger dibahunya.


Orang-orang sekte terus melambaikan tangannya sampai Shin Shui benar-benar hilang dari pandangan mereka. Cukup lama mereka berdian diri karena saking sedihnya. Hingga akhirnya Yashou memberikan aba-aba untuk segera kembali seperti biasanya.


Tapi tidak ada yang melanjutkan kegiatan. Semua orang-orang memilih kembali ke ruangannya masing-masing. Mereka memilih untuk menenangkan dirinya dari kesedihan.


Begitulah kehidupan, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Entah itu berpisah untuk bertemu kembali, ataupun berpisah dan takkan bertemu untuk selamanya. Mau tidak mau, siap tidak siap, kita harus bisa menerimanya.


###


Shin Shui pergi dengan mengenakan pakaian serba biru, begitupun Yun Mei. Keduanya sama-sama memakai pakaian biru. Tapi bukan pakaian khas sekte, mereka memilih untuk memakai pakaian biru biasa tanpa melambangkan sekte manapun. Tapi Shin Shui memakai topeng, dia sengaja melakukan ini supaya tidak ada yang mengenalinya.


Zubah Perang Halilintar miliknya sengaja dia tutup oleh pakaian itu, lagipula zubah itu sangat elastis rasanya. Dia tidak ingin tampil mencolok, apalagi jika semua orang sudah tahu tentang zubah itu. Bukan tidak mungkin akan banyak pendekar aliran hitam terus memburunya.


Baru saja mereka berdua keluar dari Desa Perbatasan, tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar seperti adanya suara keributan. Suara itu terdengar dari sebuah restoran. Shin Shui dan Yun Mei langsung menuju kesana.


Dan benar saja, ketika keduanya sampai disana, terlihat ada seorang pendekar tua sedang dikeroyok oleh dua pendekar muda bertampang sangar dan bengis. Dilihat dari gerak-geriknya kedua pendekar itu seperti berasal dari aliran hitam.

__ADS_1


__ADS_2