
Shin Shui sudah sampai ke tempat Restoran Jingga. Dia disambut lebih baik daripada sebelumnya. Sebab, orang-orang disekitar Restoran Jingga sudah tahu apa yang dilakukan oleh Shin Shui sore tadi.
"Selamat datang tuan pendekar muda. Silahkan masuk, kami sudah menyediakan meja khusus untuk anda." seorang pelayan cantik dengan bentuk tubuh feminim menyambut Shin Shui.
Senyumannya manis seperti madu, bibirnya lembut seperti salju. Kulitnya putih bersih, lesung pipi dan rambut dibiarkan merumbai telah membuat jantung Shin Shui berdetak tidak karuan. Dia sedikit gugup akibat pelayan cantik itu.
"Ah … te-terimakasih nona cantik," Shin Shui langsung berlalu ke dalam. Dia tidak sanggup jika harus berlama-lama memandang mata dan senyumannya.
'Cantik sekali wanita itu, apa benar dia manusia? Bukan bidadari? Rasanya baru kali ini aku melihat wanit secantik itu' gumamnya dalam hati. Dia terus bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita itu.
Shin Shui memesan makanan seperti biasanya, dia menunggu sembari memikirkan sesuatu. Dia memikirkan walikota Huan Xi, bukan tidak mungkin jika walikota itu tahu tentang pembunuhan orang-orangnya, pikir Shin Shui.
Saat sedang serius berfikir tentang hal itu, dia tersadarkan oleh pelayan yang mengantarkan pesanannya. "Maaf tuan, ini pesanannya." pelayan itu memberikan makanan dengan penuh hormat kepada Shin Shui.
__ADS_1
"Terimakasih." dia langsung memakan makanan itu, perutnya sudah mulai lapar.
Setelah selesai menyantap makanan, dia langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Dia berencana pergi ke Desa Miskin pagi-pagi nanti bersama Chang Lee.
###
Hari berlalu dengan cepat, langit yang gelap sekarang sudah digantikan dengan langit yang cerah. Suara burung-burung terdengar merdu bersahutan, orang-orang sudah ramai untuk melakukan aktivitasnya kembali.
Mentari pagi menyoroti kamar yang menjadi tempat istirahat Shin Shui, mentari pagi itu memberikan rasa hangat yang menenangkan jiwa. Takut terlambat, Shin Shui langsung bergegas untuk membersihkan dirinya.
"Ahh … emm … anu … ti-tidak, nanti saja. Aku sedang buru-buru, ada sedikit urusan." Shin Shui langsung berlalu dari pelayan wanita itu, tak lupa dia memberikan sedikit senyuman kepadanya. Pelayan itu tidak menjawab, dia hanya membalas dengan senyuman semanis madu yang dia miliki.
'Aduh … kenapa aku jadi gugup ya kalau bertemu dia. Memalukan, ayolah jangan membuatku malu.' Shin Shui mengutuk dirinya sendiri sambil berjalan cepat untuk ke kediaman Chang Lee.
__ADS_1
Tak perlu waktu lama, Shin Shui sudah tiba didepan gubuk kecil milik Chang Lee. Chang Lee langsung keluar setelah merasakan adanya seseorang yang menuju ke gubuk kecilnya itu.
"Kau sudah siap Shui'er?" tanya Chang Lee saat Shin Shui baru saja tiba di gubuknya. "Sudah senior, ayo kita berangkat sekarang." jawab Shin Shui.
Mereka langsung berjalan untuk menuju desa Miskin, mereka tidak berjalan cepat. Mereka hanya berjalan santai sembari menikmati keindahan kota Matahari Terbenam.
Sepanjang perjalanan, keduanya terus bertukar cerita satu sama lain. Mulai dari cerita yang ringan, hingga cerita yang berat. Tidak ada halangan saat menuju ke desa itu, karena siapapun akan berfikir kembali jika ingin membuat kerusuhan di Desa Miskin, apa untungnya? Mungkin kira-kira begitu pemikiran orang-orang yang suka membuat onar.
Dari namanya saja sudah jelas, desa 'Miskin'. Itu berarti desa ini benar-benar miskin. Untuk hidup sehari-hari saja kurang. Mereka tidak mempunyai barang-barang berharga, kecuali mungkin anak gadis para warga setempat.
Tak terasa karena asyik bercerita sepanjang perjalanan, Chang Lee dan Shin Shui sudah tiba didepan gerbang desa Miskin. Gerbang itu terlihat sudah sangat tua, dan bahkan bisa di bilang sudah tidak layak pakai lagi.
Tidak ada orang yang menjaga di gerbang itu. Semua warga setempat berfikir tidak ada gunanya juga bagi mereka menjaga desa yang sama sekali tidak memiliki harta berharga.
__ADS_1
Ayo silahkan yang ingin bergabung di group wa untuk sekedar silaturahmi dan bicara santai, silahkan tinggalkan nomornya di komentar. Nanti akan saya masukan😁
Jangan lupa sambil ngopi☕