
Dua tahun sudah berlalu, hanya menunggu satu tahun lagi maka pemuda biru bernama Shin Shui akan keluar dari pelatihan tertutupnya. Dia sudah tidak sabar ingin segera kembali ke Perguruan Bukit Awan, dia sudah sangat rindu dengan orang-orang disana.
"Bagaimana ya keadaan di Bukit Awan. Rasanya aku ingin segera kembali kesana. Rinduku kepada Bukit Awan sudah bertumpuk," kata Shin Shui ketika di gubuk sederhananya sembari tiduran berbantal tangan.
"Ayah, ibu, guru, lihatlah … aku sudah menjadi pendekar hebat. Aku tidak lagi seperti dahulu, andai kalian masih berada didekatku saat ini. Mungkin kalian akan bangga ketika melihat aku yang sekarang." gumam Shin Shui meratapi masa lalunya.
Tanpa sadar Pendekar Halilintar itu menetskan air matanya. Air mata yang suci dari seorang anak untuk orang tuanya, air mata yang tulus dari seorang murid untuk gurunya. Sesak, sedih, hanya itu yang dia rasakan saat ini.
Bayangan bersama kedua orang tuanya mulai terlihat, kenangan bersama gurunya mulai muncul. Entah kenapa kejadian-kejadian seperti ini selalu muncul ketika Shin Shui sendiri.
Mungkin karena hal itu bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia tidak akan pernah bisa menang dari rasa kesepian. Ya benar, kesepian. Sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dikalahkan.
Saat Shin Shui meneteskan air mata, waktu seperti berhenti. Angin yang tadinya bertiup kencang kini menjadi perlahan, suara bambu bergesekan yang tadinya terdengar kacau, sekarang terdengar seperti alunan nada yang indah dan menenangkan jiwa.
Matahari redup tertutup awan, suara-suara siluman perlahan mulai tidak terdengar. Alam semesta seolah mengerti dan merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Shin Shui. Hingga akhirnya, pemuda biru itu tertidur bersama kenangan masa lalunya.
###
Dunia persilatan kekaisaran Wei masih bisa dibilang aman terkendali, tidak ada masalah yang berarti kecuali perebutan kekuasaan sekte-sekte kecil. Sejauh ini pergerakan sekte besar aliran hitam belum terlihat, tapi tanda-tandanya sudah bermunculan.
__ADS_1
Masih ingat dengan sekte Sumber Daya? Benar, sekte beraliran netral, tidak mau berurusan masalah politik, dan tentunya menjual sumber daya sebagai kebutuhan para pendekar.
Sekte itu kini sudah berkembang sangat pesat, bahkan sekte Sumber Daya sudah bisa dikategorikan sebagai sekte kelas atas di kekaisaran Wei. Sekte terbesar aliran netral saat ini, banyak sudah para pendekar tanpa sekte yang di rekrut oleh mereka.
Sekarang sekte Sumber Daya sudah membuka toko yang menjual kebutuhan para pendekar diseluruh penjuru wilayah kekaisaran Wei. Diantaranya seperti sumber daya, pil, pusaka, dan masih banyak lagi.
Entah darimana mereka bisa mendapatkan sumber daya yang berlimpah dengan sangat cepat itu. Tapi menurut beberapa informasi yang beredar, mereka bahkan menjalin bisnis dengan kekaisaran tetangga.
Karena berkembangnya sekte Sumber Daya, kekaisaran Wei banyak melahirkan Pendekar Dewa, dahulu ketika pendekar mencapai tingkatan Pendekar Dewa adalah sebuah kebanggaan, bahkan tak jarang dirayakan. Tapi sekarang? Sekarang pencapaian itu hanyalah hal lumrah karena saking banyaknya pil dan sumber daya yang membantu meningkatkan level pelatihan dengan cepat.
Bahkan kaisar Wei An sendiri menjalin hubungan bisnis dengan mereka, sekarang kaisar itu sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap enam pertengahan. Para petinggi istana sudah hampir semua mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap empat, tapi apakah mereka bangga? Tidak.
Karena alasan inilah Kaisar Wei An menjalin hubungan bisnis dengan sekte Sumber Daya, tujuannya tak lain supaya bisa membeli kebutuhan pendekar dalam jumlah banyak dan sedikit menghalau jual beli antara sekte Sumber Daya dengan aliran hitam.
###
Shun Shui sudah kembali terbangun dari tidurnya. Sekarang rasa sedihnya sudah perlahan menghilang, meskipun tidak sepenuhnya. Saat ini pemuda biru itu justru merasa badanya menjadi lebih segar, dia berniat untuk berlatih ilmu pedangnya.
Tapi sebelum berlatih, Shin Shui berniat untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Dengan segera dia menuju ke sungai dan mulai menangkap ikan untuk dibakar.
__ADS_1
Hanya beberapa saat, tiga ekor ikan berukuran sedang sudah dia dapatkan. Shin Shui segera membakar ikan-ikan tersebut dan segera memakannya.
Setelah selesai, Shin Shui lalu bersiap untuk melakukan latihan dan memperdalam keahliannya dalam bermain pedang.
Pemuda biru itu mulai melakukan gerakan Tarian Pedang Halilintar, tapi kali ini pedang yang digunakan hanyalah pedang kayu hitam yang dia buat. Gerakannya dari waktu ke waktu menjadi lebih cepat, yang dahulu gerakannya kasar kini menjadi lebih lembut dan tentunya lebih tajam.
Shin Shui ingin mencoba untuk menggabungkan jurus Tarian Pedang Halilintar dengan Tarian Ekor Naga. Awalnya dia merasa sangat kesulitan, tapi setelah mencoba beberapa kali, akhirnya pemuda itu sudah terbiasa melakukannya.
Dua jurus ilmu pedang tingkat tinggi yang dia gabungkan menciptakan gerakan yang indah. Kadang gerakannya cepat dan tajam, lalu lambat dan mematikan, lalu bertambah cepat lagi dan begitu seterusnya. Dia sendiri tidak menyangka bahwa idenya tersebut ternyata berhasil.
"Tidak kusangka jika dua jurus tingkat tinggi digabungkan ternyata menciptakan satu jurus yang lebih hebat lagi jika berhasil. Hemmm … karena aku berhasil menggabungkan keduanya, maka jurus ini akan aku berinama "Tarian Pedang Ekor Naga Halilintar"." gumam Shin Shui.
Kerja kerasnya membuahkan hasil yang memuaskan. Proses tidak akan mengkhianati hasil. Ketika kau percaya dan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, selama sesuatu tersebut masuk akal maka kau akan bisa mencapainya.
Jangan memikirkan hasilnya bagaimana, yang penting kau sudah menjalankan prosesnya dengan maksimal. Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Pendekar Halilintar, Shin Shui.
###
Sebelumnya mohon maaf ya kalau sumber daya misalnya pil, atau sumber daya lainnya tidak dijelaskan secara rinci. Soalnya author ga mau terlalu bertele-tele, kecuali yang mungkin penting saja.
__ADS_1
Salam Manis☕