Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Dewa Es Sesat


__ADS_3

"Jahanam!!! Kau pikir aku takut dengan semua omong kosongmu itu? Apakah kau tidak sadar sekarang sedang berada dimana?" kata Dewa Es Sesat dengan nada marah.


Suasana disana menjadi tegang. Tidak ada yang berani membuka suara. Terlebih karen Dewa Es Sesat sudah mengeluarkan hawa pembunuh yang kuat.


Sehingga orang-orang yang hadir merasakan tubuhnya seperti ditindih batu besar. Terlebih bagi mereka yang berasal dari kalangan orang-orang biasa.


"Tentu saja aku sadar. Saat ini, aku sedang berada disebuah markas iblis yang berbentuk manusia, apakah dugaanku benar?" ejek Shin Shui lalu membalikan badannya.


Pemuda biru itu langsung menatap tajam ke arah Dewa Es Sesat. Kedua mata pendekar tingkat tinggi bertemu. Dari pancaran matanya saja, sudah jelas bahwa keduanya beradu tenaga batin.


Dewa Es Sesat cukup tersentak kaget melihat ini. Karena seingatnya, sangat jarang ada seseorang yang berani menatap kedua matanya. Karena hanya dari tatapan mata saja, orang itu bakal merasa seluruh tubuhnya kedinginan.


Tapi hari ini, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan terjadi. Dimana ada seorang pendekar muda bahkan asing, mampu bertahan lama menatap kedua matanya. Bahkan pemuda itu membalas tatapan tajamnya.


"Kenapa? Apakah kau kaget bahwa aku bisa bertahan menatap matamu? Jangan mengira bahwa aku pemuda yang lemah dan hanya mengandalkan keberanian saja," kata Shin Shui sambil tersenyum mengejek.


"Deggg …"


Jantung Dewa Es Sesat tiba-tiba berpacu tidak karuan. Bagaimana pemuda itu bisa tahu? Apakah wajahnya memang menggambarkan kekagetan? Ah … tentunya tidak. Lalu? Bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang dia rasakan? Entahlah.


Dewa Es Sesat bertambah penasaran dengan pemuda yang tak lain adalah Shin Shui. Berbagai pertanyaan dikepalanya sudah muncul.


"Anak muda, kau sebenarnya siapa dan mau apa datang kesini? Mungkin bisa dibicarakan secara baik-baik. Maumu apa sebenarnya?" tanya Dewa Es Sesat mencoba untuk bicara baik-baik dengan Shin Shui.


"Hemmm … baiklah. Namaku adalah Shin Shui, aku berasal dari Bukit Halilintar. Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan 'pemuda biru' ataupun 'bocah gila'. Sedangkan tujuanku kesini … tentunya kau sudah tahu," kata Shin Shui dengan senyuman dingin.

__ADS_1


Terbelalaklah mata Dewa Es Sesat itu. Sebagai tokoh besar yang ditakuti dan sudah malang-melintang dalam dunia persilatan, tentu saja dia mengetahui Shin Shui.


Karena memang kabar tentang pemuda itu sudah menyebar ke seluruh penjuru kekaisaran Wei. Tapi kebanyakan dari mereka hanya mendengar tanpa pernah melihat langsung.


Bahkan bukan hanya Dewa Es Sesat yang membelalakan matanya. Orang-orang yang hadir khususnya mereka para pendekar, dan Kwei Moi sendiri pun bersikap yang sama.


Memang sebelumnya Shin Shui sudah memperkenalkan diri kepada pendekar wanita itu, tapi dia tidak menyebutkan julukannya. Jadi Kwei Moi tidak berpikir panjang.


Tapi hari ini, ketika Shin Shui menjelaskan singkat siapa dirinya, tentu saja wanita itu merasa bangga sekaligus kaget. Bangga karena bisa mengenal Shin Shui, dan kaget karena tak menyangka.


"Ahhh … tidak kusangka bahwa aku bisa bertemu dengan seorang pendekar muda yang sedang naik daun. Suatu kebanggaan bagi Perguruan Tapa Es karena bisa bertemu langsung dengan pendekar muda," kata Dewa Es Sesat yang secara tiba-tiba nada bicaranya menjadi lemah lembut.


"Terimakasih. Tapi tidak usah berbasa-basi lagi. Aku tidak akan terjerat dalam jebekannmu. Sekarang aku ulangi, lepaskan orang tua itu atau …" kata Shin Shui lalu memicingkan matanya lebih tajam.


Dewa Es Sesat sedikit panik. Tapi pastinya dia tidak akan pernah sudi dipermalukan oleh seorang pendekar yang masih muda. Meskipun dia sudah sering mendengar berita tentangnya, tapi dia sendiri belum tahu sampai dimana kekuatannya.


"Hemmm … lalu … apakah kau kira juga aku tidak berani bertindak kasar karena mentang-mentang saat ini aku berada dikandangmu?" ucap Shin Shui balik menantang.


"Kauuu …"


"Sekali lagi aku katakan, lepaskan orang tua itu atau aku akan mengambil secara paksa dan memberikan pelajaran padamu," tutur Shin Shui dengan tegas. Matanya sudah bersinar. Kilatan halilintar sudah nampak pada bola matanya.


Tapi meskipun dia sudah berkata tiga kali. Tetap saja Dewa Es Sesat itu tidak mengindahkan ucapannya. Sehingga Shin Shui pun merasa kesal dengannya.


"Baik, jika kau tidak mau menjawab. Sebelumnya maafkan aku jika berlaku tidak sopan,"

__ADS_1


Setelah berucap demikian, tiba-tiba pemuda biru itu sudah menghilang dari tempatnya dan kini sudah tepat berada didekat ayah Kwei Moi. Tanpa menunggu lama, Shin Shui lalu melepas belenggunya dan segera menuju ke arah Kwei Moi.


"Cepat kau lari dari sini dan selamatkan ayahmu. Jika ayahmu sudah yakin akan selamat, kau boleh kembali kesini dengan catatan tidak menampakkan diri," kata Shin Shui kepada Kwei Moi sambil memberikan ayahnya yang kini sudah sangat lemas.


Kwei Moi tak menjawab. Dia terdiam seribu bahasa karena bingung apakah dirinya akan membantu Shin Shui atau menyelamatkan ayahnya. Tapi karena Shin Shui terus menatapnya tajam, tak ada pilihan lain lagi. Kwei Moi lalu pergi dari sana sambil membawa ayahnya.


Dewa Es Sesat dibuat kaget lagi ketika tiba-tiba tawanannya lepas dari belenggu yang kuat itu. Dia hanya bisa bengong melihat apa yang dilakukan Shin Shui.


Kini Shin Shui sudah kembali ke tempat dimana Dewa Es Sesat berdiri.


"Bagaimana? Apakah yakin kau ingin aku menggunakan kekerasan?" tanya Shin Shui.


"Cihhh … tak sudi aku harus tunduk kepada seorang pendekar sepertimu. Aku tidak takut meskipun namamu selalu menjadi buah bibir sekalipun," jawab Dewa Es Sesat dengan sangat marah.


"Baiklah, jangan pernah menyesali ucapanmu itu. Dewa Es Sesat …" kata Shin Shui.


Lalu tiba-tiba dia mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah besar sehingga energi berwarna biru perlahan keluar dari tubuhnya dengan jumlah banyak.


Dewa Es Sesat yang menyadari bahwa Shin Shui akan benar-benar membuat onar, dia pun turut mengeluarkan tenaga dalamnya seperti yang dilakukan oleh Shin Shui.


Belum sempat maha guru Perguruan Tapak Es itu memberi perintah, Shin Shui sudah maju melesat menyerang algojo yang daritadi hanya berdiri mematung.


Saking cepat gerakannya, hanya dua tarikan nafas saja pemuda biru itu telah berdiri dihadapan sang algojo. Dengan gerakan cepat Shin Shui merebut pedang yang berbentuk bulan sebut itu lalu menggorok pemiliknya sendiri.


"Ahhh …"

__ADS_1


Hanya satu kali gerekan yang sangat cepat, sang algojo tewas dengan leher yang hampir putus. Pedang yang harus memenggal kepala ayah Kwei Moi, pada akhirnya berbalik menjadi senjata makan tuan.


__ADS_2