
Saat ini keadaan di istana kekaisaran sedang sibuk. Semua orang sibuk mengurusi tugasnya masing-masing. Sebagian murid dan prajurit istana yang terlihat masih memiliki tenaga, ditugaskan untuk membereskan sisa-sisa perang besar.
Para murid dan pasukan istana itu bergotong-royong mengumpulkan mayat-mayat yang tewas di medan perang. Kaisar Wei An tidak peduli meskipun banyak juga mayat para pasukan aliansi aliran hitam.
Yang jelas, Kaisar Wei An menyuruh mengumpulkan seluruh mayat supaya tidak berserakan seperti sekarang ini. Ada juga sebagian murid yang disuruh untuk membereskan serpihan-serpihan bangunan dan lainnya supaya sama dikumpulkan.
Meskipun mereka semua merasa masih sangat lelah, tapi tentunya tidak bisa menolak perintah dari kaisar. Para pejuang itu belum masuk, semuanya masih diam dilapangan luas tersebut.
Mereka membayangkan kembali malapetaka yang baru saja terjadi dan baru saja mereka hadapi. Suara teriakan kematian yang bergema bersahutan masih terngiang jelas ditelinga mereka.
Semua kejadian peperangan kembali memenuhi alam pikir semua pejuang itu. Peristiwa pembantaian dan terbunuh rekan-rekan mereka terbayang dengan gamblang.
Sehingga tak sedikit juga dari mereka yang kembali meneteskan air mata karena saking sedihnya. Bau amisnya darah masih saja tercium kental. Bahkan genangan darah dan air mata pun masih menggenang dengan jelas.
Jika diingat kembali, betapa sayangnya peristiwa mengerikan ini harus terjadi. Hanya demi sebuah kekuasaan hampa, mereka berani mengorbankan nyawanya sendiri. Hanya demi nafsu dan iming-iming uang serta jabatan, mereka berani mempertaruhkan hidupnya.
Padahal, yang mereka kejar itu hanyalah sebuah kesemuan belaka. Harapan hampa. Harapan yang cuma angan-angan semata. Ujung-ujungnya berakhir derita sepanjang masa.
Mungkin jika dipandang seklias, kedua kubu itu sama saja. Kedua kubu berani mengorbankan nyawa manusia seperti nyawa binatang.
Tapi tentunya jika diteliti lebih jauh lagi, tentulah pihak kekaisaran berada dalam posisi yang benar. Mereka itu mempertahankan hak mereka, kewajiban mereka. Mempertahankan tanah air mereka dari yang namanya kehancuran.
Meskipun korban juga banyak, tapi tidak ada penyesalan bagi mereka yang gugur. Karena tujuannya mereka jelas, membela tanah air mereka dari yang namanya kehancuan.
Sedangkan mereka yang bersekutu dengan iblis, apa untungnya mempertaruhkan nyawa? Demi uang? Demi pangkat jabatan? Atau … demi kepuasan?
__ADS_1
Jika demi uang, apakah kalau menang mereka akan mendapatkan imbalan yang setimpal dengan apa yang mereka perjuangkan?
Jika demi pangkat dan jabatan, apakah bisa menjamin bahwa mereka semua akan mendapatkan sesuai apa yang diharapkan?
Atau … benarkah mereka melakukan semua ini demi kepuasan? Apakah ketika tujuannya tercapai akan merasa puas? Tidak.
Selama nyawa belum meninggalkan badan, manusia tidak akan pernah merasa puas. Selama manusia hidup, selama itu pula mereka merasa belum puas. Bukankah manusia adalah makhluk yang paling ambisius? Ketika ambisi satu tercapai, bukankah akan muncul ambisi A, B dan seterusnya?
Lalu … demi apakah manusia melakukan hal-hal konyol diatas muka bumi ini? Tentunya demi memenuhi hawa nafsunya sendiri. Hawa nafsu yang bersarang pada setiap jiwa-jiwa manusia.
Hawa nafsu. Dua kata yang sangat gampang untuk diucapkan, tapi sangat sulit untuk ditundukkan. Bahkan hawa nafsu ini bisa lebih berbahaya ratusan kali lipat daripada harimau sekalipun.
Karena hawa nafsu, manusia jadi 'binatang'. Karena hawa nafsu jugalah manusia menjadi 'setan'. Musuh terbesar manusia bukanlah manusia lainnya. Melainkan hawa nafsu yang ada pada dirinya.
Orang yang hebat adalah mereka yang bisa memenangkan perang dengan nafsunya sendiri. Hawa nafsu selalu mendatangkan kerugian. Lalu, untuk apa Tuhan menciptakan hawa nafsu jika hanya mendatangkan kerugian? Tentunya untuk dimanfaatkan.
Setelah beberapa saat lamanya membereskan mayat-mayat yang berserakan, akhirnya pekerjaan itu selesai juga. Kini mayat-mayat tersebut sudah berjejer dengan rapi.
Tapi khusus untuk para pahlawan yang berperan besar dalam perang besar ini, mereka ditempatkan dibagian sebelah kanan. Semuanya akan dikebumikan didalam lingkungan istana kekaisaran Wei supaya mereka bisa dikenang oleh siapapun.
Dan mungkin nantinya akan dijadikan makam para pahlawan yang sangat berjasa. Supaya generasi selanjutnya bisa mengetahui siapa saja para pahlawan bangsanya.
Mayat para pasukan aliansi tiga sekte besar, disatukan dengan mayat-mayat pasukan aliansi besar aliran putih. Kaisar Wei An tidak pilih kasih.
Karena raganya orang-orang itu tidak salah sama sekali. Melainkan yang salah hanyalah dirinya yang dengan mudah menuruti bisikan setan. Lalu ketika mati mereka bisa apa? Tentunya tidak bisa apa-apa bukan? Semua manusia sama. Yang membuatnya berbeda adalah jiwa.
__ADS_1
Entah berapa banyak jiwa-jiwa beragam dimuka bumi ini. Karena setiap orang jiwanya selalu berbeda. Tidak sepenuhnya sama.
Setelah semuanya selesai, lalu para prajurit kekaisaran pun disuruh untuk membuat sebuah lubang yang besar untuk menguburkan mayat-mayat itu secara bersamaan.
"Buatlah dua puluh buah lubang yang besar. Semua mayat satukan secukupnya dalam setiap lubang. Dan untuk mayat para pahlawan kita ini, akan disemayamkan dahulu barang dua hari. Barangkali akan ada saudara ataupun kerabat yang akan menengok terakhir kali. Sebagian membuat lubang dan sebagian lagi urus jenazah para pahlawan," kata Kaisar Wei An dengan suara yang gagah dan berwibawa.
Mendengar perintah dari kaisar mereka, serempak para prajurit itu bergerak lagi. Rasa lelah terasa langsung hilang, ini menunjukkan betapa mereka sangat menghormati kaisar muda itu.
Sedangkan para pendekar yang tersisa, baik itu yang hanya kelelahan ataupun terluka, mereka disuruh untuk masuk ke ruang pengobatan yang sudah disediakan oleh Kaisar Wei An.
Mereka lalu memasuki ruangan besar dimana ada puluhan tabib yang cukup terkenal di wilayah kekaisaran Wei ini. Bau obat begitu menyengat hidung. Mereka yang terluka lalu mendekati tabib-tabib itu untuk segera minta diobati.
Beberapa jam sudah berlalu, mereka yang terluka ringan sudah pulih seperti sedia kala. Saat ini diruangan pengobatan tersebut yang tersisa hanyalah mereka yang terluka parah.
Diantaranya adalah para kepala tetua dari sekte besar, yaitu Yuan Shi, Li Xu, Ye Rou, Ying Mengtian dan Xin Wu. Selain mereka, ada juga enam murid berbakat yang dulu memenangkan pertandingan kompetisi kekaisaran Wei yaitu Lian Fang, Dong Bo, Xue Ying, Qiu Qi, Ji Tianming, Jiu Lin.
Mereka semua rata-rata terluka karena sebuah racun yang sangat berbahaya ketika bertarung dengan musuh-musuhnya. Para tabib sudah berusaha keras untuk bisa mengobati luka kesemuanya, tapi sayangnya belum menemukan hasil yang memuaskan.
"Tabib, bagaimana keadaan mereka? Apakah sudah membaik?" tanya Kaisar Wei An tentang kondisi para kepala tetua dan murid berbakat kepada salah seorang tabib yang dituakan.
"Sejauh ini belum kaisar. Luka mereka sangat parah, tapi untungnya mereka bisa menahan racunnya supaya tidak terlalu cepat menyebar. Jadi saat ini masih bisa bicara dan berjalan, tapi tiga hari lagi mungkin mereka akan terbaring di tempat tidur," kata tabib itu sambil sedikit sedih.
"Hahhh …" kaisar menghela nafas panjang. "Bekerjalah semampu kau bisa, semuanya akan aku ganti,"
"Baik kaisar," jawab tabib itu sambil melihat kepergian Kaisar Wei An.
__ADS_1
###
Satu lagi masih ditulis ya😁🙏