
"Terimakasih biksu," kata Shin Shui lalu memasukan Kitab Bayangan ke Cincin Ruang miliknya.
"Sekarang pergilah. Pelajari dengan segera kitab itu," perintah biksu Cian Lie Bun.
"Baik maha guru, kalau begitu aku minta izin untuk undur diri," jawab Shin Shui kemudian berniat untuk melanjutkan perjalanannya kembali.
Mereka pun lalu keluar dari Kuil Surgawi diantar oleh biksu To Lian Pwe. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Shin Shui tanyakan, tapi setelah biksu Cian Lie Bun berkata demikian, dia jadi mengurungkan niatnya.
"Biksu, terimakasih untuk semuanya. Aku harap suatu saat nanti bisa membalas kebaikanmu ini," ucap Shin Shui sambil memberi hormat kepada biksu To Lian Pwe.
"Tidak perlu sungkan pendekar muda. Bukankah kau juga sudah menyelamatkan nyawaku? Jadi, aku rasa kita sudah setimpal," jawab biksu tua itu.
"Terimakasih biksu. Kami mohon pamit undur diri," ucap Shin Shui lalu berlalu dari Kuil Surgawi.
Shin Shui dan Yun Mei langsung menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka. Sedangkan Cun Fei sudah kembali dalam bentuk pedang, burung phoenix biru pun selalu dia simpan didalam Kantong Siluman. Shin Shui sengaja melakukannya supaya tidak terlalu mencolok.
Keduanya terus berlari dengan kencang hingga akhirnya setelah sekitar dua jam perjalanan Shin Shui dan Yun Mei pun menemui sebuah restoran yang cukup besar. Dan ternyata mereka sudah berganti kota pula.
Keadaan dikota itu lumayan ramai, banyak restoran dan pedagang-pedagang lain berjejer dengan rapi. Para pedagang yang menyediakan kebutuhan pendekar pun tampak banyak disini. Mungkin ini salahsatu kota pendekar.
Keduanya lalu berjalan dan memasuki restoran tersebut. Mereka disambut oleh seorang pelayan wanita yang cantik dan menawan. Keadaan disana pun ramai juga ternyata.
Karena keadaan di lantai bawah sudah ramai, pelayan pun menyarankan Shin Shui dan Yun Mei untuk makan di lantai atas. Disana lebih sepi dan juga lebih nyaman, hanya saja harganya pun terbilang sangat mahal.
Akan tetapi jika masalah harga, maka itu bukanlah masalah bagi Shin Shui. Hartanya sangat banyak tersimpan didalam Cincin Ruang warisan dari gurunya, Lao Yi.
Setelah menyetujui masalah harga, akhirnya pelayan pun membawa keduanya ke lantai atas. Ternyata disana memang lebih sepi, kira-kira hanya ada sepuluh meja saja.
__ADS_1
Dan itupun masih banyak yang kosong, kecuali ada sebuah meja yang diisi oleh dua orang. Dari pakaiannya, mereka sepertinya juga merupakan seorang pendekar.
Shin Shui dan Yun Mei sengaja duduk disebelah pojok kanan. Dia ingin melihat-lihat pemandangan kota yang cukup indah. Tak lama seorang pelayan datang ke meja mereka untuk menanyakan pesanan.
"Aku pesan makanan yang paling enak yang ada disini," jawab Shin Shui singkat.
Shin Shui dan Yun Mei tidak bicara, keduanya saat ini sedang melihat-lihat kota dari atas. Tiba-tiba saat sedang asyik melihat pemandangan, ada pengunjung lain yang masuk ke lantai atas.
Jumlahnya sepuluh orang dan ada seorang pendekar paling muda diantara mereka. Melihat siapa yang datang, kedua pendekar tadi buru-buru memberi hormat pada orang itu.
"Beri hormat kepada tuan muda! Setelah itu tinggalkan tempat ini," kata seorang pendekar diantara mereka.
Dan benar saja, setelah memberi hormat kedua pendekar tadi langsung pergi dari sana tanpa mengucapkan sebuah kata sekalipun. Tampaknya yang disebut tuan muda tadi memiliki pengaruh yang cukup besar di kota ini.
Padahal dua pendekar tadi mempunyai kekuatan yang lumayan jika menurut penglihatan Shin Shui, tapi anehnya mereka tidak melakukan perlawanan sama sekali ketika diusir.
Tapi di sisi lain, Shin Shui masih tetap terlihat tenang meskipun dirinya tahu ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikannya. Tak lama dua orang pengawal tuan muda tadi pun menghampiri Shin Shui.
"Heh anak muda. Kenapa kau tidak memberi hormat kepada tuan muda? Apa kau sudah bosan hidup?" tanya seorang pengawal sedikit mengancam.
"Hemmm … memangnya dia siapa? Aku tidak tahu," jawab Shin Shui.
"Kauuu … dia itu anak tunggal dari kepala tetua sekte Awan Biru. Apakah kau tidak takut? Jangan main-main di daerah kekuasaan kami, anak muda," ucap pengawal itu dengan nada membentak.
"Maaf aku tidak mengenalnya. Bagiku dia tetaplah sama sepertiku,"
"Lancang!!!"
__ADS_1
Seorang pengawal yang menghampiri Shin Shui tiba-tiba menyerang dengan langsung menyabetkan pedangnya ke arah leher. Sayang, mereka salah sasaran kali ini.
Meskipun sebilah pedang sebentar lagi akan menebas batang lehernya, tapi pemuda biru itu masih tetap diam tak bergeming. Barulah ketika jarak pedang itu satu jengkal lagi, Shin Shui menahan pedang itu dengan dua jari lalu mematahkannya.
"CLANGG …" patah.
Melihat pedangnya bisa patah hanya dengan dua jari saja, barulah pengawal itu merasakan takut. Bagaimana pun juga, jika ada pendekar yang bisa mematahkan pedang, apalagi dengan dua jari, maka pendekar itu bukanlah pendekar biasa.
Keringat dingin mulai membasahi punggung dua pengawal yang dekat dengan Shin Shui. Kaki mereka pun terasa sangat lemas dan bergetar. Apalagi saat mereka melihat Shin Shui tersenyum dingin ke arahnya.
"Pergi sebelum batang leher kalian yang aku patahkan," ucap Shin Shui dengan nada begitu dingin.
Kedua pengawal tak mau menjawab, mereka langsung kembali ke meja tuan mudanya dengan penuh rasa takut. Tentu saja mereka yang tidak tahu begitu kaget karena rekannya seperti ketakutan, tapi setelah diceritakan semuanya barulah mereka mengerti.
Tadinya yang disebut tuan muda itu mau menghampiri Shin Shui karena kesal dan juga penasaran. Akan tetapi saat dia mau melangkahkan kakinya, tiba-tiba pelayan datang membawa makanan ke tempat Shin Shui sehingga tuan muda itu menunda niatnya. Tidak baik juga menganggu orang makan, lebih baik setelah selesai makan saja, pikirnya mungkin begitu.
Setelah pesanannya tiba, tanpa menunggu lagi Shin Shui dan Yun Mei pun langsung menyambar makanan itu. Agaknya mereka memang sudah sangat lapar sekali.
Sementara itu, tuan muda dan juga para pengawalnya terus saja memperhatikan Shin Shui dan Yun Mei yang sedang lahap makan. Mereka sepertinya penasaran sekali dengan dua orang pendekar muda itu.
Pasalnya baru kali ini ada pendekar yang tidak mau memberikan hormat kepadanya meskipun sudah disebutkan bahwa dia merupakan anak tunggal dari kepala tetua sekte Awan Biru.
Sekte Awan Biru adalah sebuah sekte yang mengaku beraliran netral, tapi sayangnya tindak-tanduk yang mereka lakukan selama ini lebih mengarah kepada aliran hitam.
Dimana sekte itu selalu bertindak sewenang-wenang dan juga sering melakukan kekacauan di kota yang bernama Thai-Hiu ini. Di kota Thai-Hiu ini, sekte Awan Biru memanglah sangat disegani oleh semua masyarakat.
Terlebih karena sekte ini merupakan sekte yang terbilang kelas menengah dan satu-satunya, sedangkan sisanya hanyalah sekte kelas bawah ataupun perguruan-perguruan kecil semata.
__ADS_1