
Setelah merasa tenang, akhirnya gadis itu mulai bicara dan menjawab semua perkataan Shin Shui.
"Shushi, sebenarnya aku ingin ikut sekali bersamamu dan ingin selalu menemanimu. Tapi aku sadar, aku hanyalah jadi beban jika nantinya kau mempelajari kitab-kitab tanpa tanding. Jadi, aku bersedia mendengar ucapanmu dan aku akan kembali ke sekte Bukit Awan. Biarlah aku juga akan berlatih supaya lebih hebat lagi dari sekarang," kata Yun Mei dengan nada sedih.
"Akupun inginnya kau begitu Memei, selalu ada disampingku dan selalu menemaniku. Karena semenjak kau bersamaku, rasanya sepi jarang sekali datang."
"Hahhh …" Shin Shui menghela nafas.
"Tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi kebaikan kita semua. Jadi, kau tidak keberatan akan hal ini?" tanya Shin Shui masih dengan rasa yang tidak enak.
"Mau bagaimana lagi? Aku hanya nurut apa katamu saja selama itu memang yang terbaik," jawab Yun Mei.
"Baiklah kalau begitu,"
Shin Shui langsung menyuruh Cun Fei berubah menjadi sosok manusia terlebih dahulu. Sekaligus dia juga ingin berpamitan, biarlah Cun Fei menemani Yun Mei untuk kembali ke sekte Bukit Halilintar. Sedangkan dia sendiri bakal ditemani oleh burung phoenix biru, pikirnya.
"Shui'er, ada apa ini? Kenapa Mei'er seperti habis menangis?" tanya Cun Fei yang keheranan karena melihat gadis itu muram.
"Ahhh … tidak senior. Sebelumnya aku minta bantuanmu, aku harap senior bersedia mengantarkan Memei kembali ke sekte Bukit Halilintar. Aku sendiri akan pergi mencari Kitab Tapak Penghancur sambil mempelajari Kitab Bayangan secepat mungkin," kata Shin Shui langsung mengutarakan niat dan tujuannya.
"Hemm … begitu ya. Lalu, setelah aku mengantarkan Mei'er, aku harus kembali mencarimu atau bagaimana?" tanya Cun Fei.
"Alangkah lebih baik kalau senior mau menemani Mei'er dan yang lainnya disana. Karena aku yakin kekacauan besar sebentar lagi akan terjadi, tanda-tandanya saja sudah banyak," ucap Shin Shui.
"Baiklah kalau begitu Shui'er,"
"Apakau kau tidak keberatan senior?" tanya Shin Shui.
"Tentu saja tidak, hahaha …" jawab Cun Fei sambil tertawa lantang.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, terimakasih senior. Nah Mei'er, bagaimana? Sekali lagi aku tanya, kau tidak keberatan bukan jika harus kembali bersama senior dan menunggu kepulanganku disana?" tanya Shin Shui kepada Yun Mei sambil tersenyum.
"Tidak Shushi, aku tidak keberatan. Asal kau pergi jangan lama-lama saja. Aku pasti akan rindu padamu," ucapnya dan tak terasa air matanya kembali keluar.
"Sssttt!!! Aku tidak akan lama, sekarang aku pergi hanya sebentar," jawab Shin Shui sambil menyentuh bibir lembut gadis itu dengan telunjuknya lalu mengusap air mata yang keluar.
"Tapi aku punya permintaan padamu,"
"Apa itu, katakan saja. Selama aku bisa memenuhinya pasti akan aku lakukan," jawab Shin Shui.
"Karena kau berangkat bersamaku, maka ketika kau pulang pun harus kepadaku," ucap Yun Mei dengan nada manja.
"Tentu saja aku akan pulang padamu, hahaha …" jawab Shin Shui dengan tertawa.
"Kau janji? Satu lagi, jangan sampai kau menyukai gadis lain. Kalau sampai kau menyukainya dan aku tahu …" ancam gadis itu yang langsung menatap tajam kepada Shin Shui.
"Iya … iya, aku janji. Wanita memang harimau betina saat marah," goda pemuda biru itu.
Tapi di sisi lain, yang sangat kasihan adalah Cun Fei. Jelmaan Naga Emas itu memandang kedua muda-mudi tersebut dengan sedikit irit hati.
"Andai saja aku masih muda. Pasti aku akan seperti kalian," keluhnya perlahan.
Karena tak tahan melawan gelora dalam hatinya, jelmaan Naga Emas itu lalu berteriak dengan sedikit nada kesal.
"Hei, jangan lama-lama kalian seperti itu didepanku. Shui'er, apakah kau tidak kasihan padaku yang disuruh melihat kalian seperti ini?" kata Cun Fei sedikit kesal.
"Hahaha … baik, baik, senior. Maafkan aku, nah sekarang kau segeralah kembali Memei,"
Yun Mei mengangguk, keduanya pun kembali berpelukan. Shin Shui membelai rambut gadis itu dengan lembutnya, hingga dia merasakan kenyamanan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
__ADS_1
Setelah selesai, Yun Mei lalu menghampiri Cun Fei dan segera mengajaknya untuk kembali ke sekte Bukit Halilintar.
"Jaga dirimu baik-baik Shushi …"
"Hati-hati Shui'er …"
Shin Shui hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum. Tak lupa dia juga melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Baru bebarapa tarikan nafas saja, gadis cantik itu sudah hilang dari pandangan.
Kini yang ada di hutan itu hanyalah Shin Shui sendiri dan kembali harus berteman dengan sepi.
Ahhh … alangkah indahnya masa muda seperti itu. Jika cinta sudah melanda para jiwa muda, rasanya dunia pun milik berdua.
Kadang jiwa muda yang dilanda cinta akan terbenam dalam cintanya itu. Sehingga mereka sering tidak memperdulikan yang lainnya kecuali dirinya sendiri dan juga cintanya.
Setelah merasa tenang, Shin Shui pun mengeluarkan phoenix biru yang selama ini selalu dia simpan dalam Kantong Siluman.
"Phoenix biru, sekarang kau temani aku selalu. Kita akan mengembara lagi untuk mencari dimana keberadaan Kitab Tapak Penghancur dan juga aku ingin mempelajari Kitab Bayangan," pinta Shin Shui setelah phoenix itu keluar.
"Dengan senang hati Shui'er," jawabnya.
"Sebelumnya, apakah kau mengetahui tentang Kitab Tapak Penghancur?" tanya Shin Shui.
"Tentu saja aku tahu tentang kitab itu. Kitab Tapak Penghancur dulunya dimiliki oleh seorang pendekar tua yang bernama Lie Bun Hauw. Kabarnya Lie Bun Hauw itu satu generasi dengan gurumu, Lao Yi. Dan pada saat itu dia ikut berjuang melawan kejahatan, karena sepak terjangnya yang tak kalah hebat dengan gurumu dan juga jurus tapaknya selalu mengguncangkan dunia persilatan, pada akhirnya dia mendapat gelar Pendekar Tapak Dewa."
"Tapi ketika dirinya sudah semakin tua, Pendekar Tapak Dewa itu mengundurkan diri dari dunia persilatan. Tidak ada yang mengetahui keberadaannya setelah itu, hingga pada akhirnya ada isu bahwa dia menghabiskan sisa hidupnya di gunung San-Ong. Letakn gunung itu berada di Timur perbatasan," kata phoenix biru menjelaskan.
"Kira-kira, kita akan membutuhkan waktu berapa lama untuk sampai kesana?" tanya Shin Shui.
"Kurang lebih satu bulan. Karena mengingat gunung itu memang berada pada perbatasan kekaisaran Wei dengan kekaisaran Sung,"
__ADS_1
Setelah mendapatkan penjelasan dari phoenix biru, Shin Shui pun akhirnya faham. Dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, dia lalu mengajak burung phoenix biru untuk menuju gunung San-Ong saat itu juga.
Keduanya pun langsung melesat lalu terbang bagaikan sepasang burung, bahkan ternyata kecepatan terbang Shin Shui mampu menyamai kecepatan burung phoenix biru sendiri. Hingga tak butuh waktu lama, keduanya sudah berada jauh dari hutan tadi.