Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Gunung San-ong


__ADS_3

Hari berganti pagi. Burung-burung sudah bernyanyi dengan merdu. Terpaan angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuh begitu nyaman terasa.


Mentari pagi sudah memberikan sinar keemasannya yang indah untuk menyinari bumi dan hamparan rumput yang hijau.


Di sebuah hutan yang begitu luas, tiga orang yang tanpa memakai baju sehelai pun dan seorang pemuda biru, baru bangun dari tidurnya. Mereka tentunya adalah Shin Shui dan tiga orang penunggu hutan.


Keempatnya baru bangun ketika sinar mentari menyorot mata mereka. Setelah sudah sadar sepenuhnya, Shin Shui lalu berniat untuk langsung menuju ke gunung San-ong.


"Hei kawan-kawan, ayo sekarang tunjukan jalan ke gunung San-ong. Aku ingin segera menuju kesana," kata Shin Shui langsung kepada inti.


"Padahal hari masih pagi. Baiklah, baiklah. Mari, mari, kami akan menujukkan jalannya kepadamu," kata salah seorang dari tiga penunggu hutan.


Keempat orang itu pun lalu bersiap-siap untuk segera meninggalkan tempatnya. Burung phoenix biru yang semalaman bertengger pada dahan pohon pun sudah terbang kembali dan bertengger di pundak Shin Shui.


Setelah semuanya siap, keempat orang itu pun lalu pergi kembali dengan berjalan dan terus menyusuri hutan yang luas tersebut. Ternyata hutan itu benar-benar sangat luas.


Terbukti ketika keempatnya baru sampai diujung hutan ketika matahari sudah tepat berada diatas kepala. Terbelalaklah mata Shin Shui ketika melihat pemandangan yang kini ada didepannya.


Pemandangan itu amatlah indah. Dimana kini didepan Shin Shui ada sebuah danau yang begitu besar. Airnya begitu jernih dengan warnanya yang biru. Airnya sangat tenang.

__ADS_1


Banyak bunga-bunga teratai yang bermekaran dengan indah memenuhi seluruh isi danau. Di pinggirnya terdapat pohon-pohon tinggi yang tak kalah indahnya.


Jauh diujung danau, ada sebuah gunung tinggi dengan puncaknya yang seperti membentuk seperti sebuah lubang. Warna gunung itu abu-abu. Sungguh, gunung dan danau teramat sangat serasi. Gunung itu tak lain adalah gunung San-ong yang selama ini menjadi tempat tujuan Shin Shui.


"Shin Shui. Inilah gunung San-ong. Benar, benar. Inilah gunung itu," kata salahsatu penunggu hutan lalu mereka pun berjingkrak seperti biasanya.


Shin Shui pun turut bahagia. Dia mencoba mengikuti ketiga penunggu itu berjingkrak riang gembira. Tak lupa juga diiringi oleh selingan tawa.


"Terimakasih kawan-kawan semuanya karena sudah menjadi petunjuk jalan. Ini, sesuai janjiku semalam. Kalian akan aku beri arak satu-satu," ucap Shin Shui lalu mengeluarkan tiga guci arak dari Cincin Ruang.


Mereka pun menerimanya dengan gembira pula. Setelah selesai, Shin Shui berterimakasih sekali lagi dan memperbolehkan mereka kembali ke tempatnya masing-masing lagi.


"Benar Shui'er. Itulah gunung San-ong. Gunung yang kita cari selama ini," jawab phoenix biru.


"Hemmm … lalu, bagaimana cara kita agar sampai kesana? Apakah kita harus terbang?" Shin Shui sedikit kebingungan.


"Tentu saja. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa sampai kesana. Lagi pula, keadaan disini sepi. Jadi tidak ada salahnya jika kau mengeluarkan kemampuanmu," kata phoenix biru menyetujui perkataan Shin Shui.


"Baiklah, jika itu hanya satu-satunya cara. Apa boleh buat, mari kita kesana," kata Shin Shui.

__ADS_1


Keduanya lalu terbang kesana dengan kecepatan tinggi. Keduanya persis seperti sepasang burung phoenix biru. Sungguh serasi sekali rasanya.


Hanya membutuhkan waktu seperminum teh, Shin Shui dan phoenix biru sudah sampai di bawah kaki gunung San-ong. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Shin Shui memilih untuk turun jika sudah sampai dipuncak.


Dia sudah tidak bisa bersantai jika kembali mengingat ramalan biksu Cian Lie Bun dan Kaisar Naga Merah. Apalagi jika pikirannya sudah membayangkan sebuah malapetaka besar akan menimpa tanah airnya.


Kini keduanya sudah tiba dipuncak gunung San-ong. Shin Shui dan phoenix biru pun lalu mendarat dengan mulus dipuncak gunung tersebut.


Ternyata dipuncak gunung San-ong pun tak kalah indahnya. Kembali Shin Shui memandangi pemandangan itu walau sebentar. Gunung San-ong ini mengelilingi beberapa kota besar, sehingga bisa terlihat jelas pemandangan perkotaan.


Terlihat pula danau yang tadi sempat memanjakan matanya. Sungguh, jika dinikmati dari atas, semuanya nampak lebih indah beberapa kali lipat.


Alangkah kuasanya Tuhan menciptakan semua ini. Keagungan tuhan tersebar menyelimuti seluruh langit dan bumi. Semua diciptakan dengan pasangannya masing-masing.


Diatas sana ada matahari yang memberi kehidupan tanpa kenal rasa bosan. Dibawah ada sebuah bumi yang menjadi pijakan dan kehidupan. Maha Besar Tuhan.


Setelah pikirannya sudah kembali tenang, Shin Shui pun lalu mulai berjalan menyusuri puncak gunung San-ong itu. Dia tidak bisa memastikan apakah benar Kitab Tapak Penghancur itu ada disini atau tidak.


Jika benar, maka itu tandanya memang dia sudah ditakdirkan untuk menyelamatkan kekaisaran Wei dari kehancuran. Tapi jika tidak, entah apa yang akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2