Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Memberikan Sedikit Pelajaran


__ADS_3

"Kenapa kalian diam? Tadi katanya ingin memberikan sedikit pelajaran padaku. Bahkan ingin menghancurkan mulutku yang dinilai busuk. Ayo! Aku tunggu," kata Shin Shui dengan senyuman mengejek. Sifat 'gila' miliknya kambuh.


"Jangan kurang ajar kau bocah sombong. Apa kau pikir aku takut padamu? Cihh … jangan sebut aku Liong Ki Lok jika takut padamu," jawabnya dengan nada yang tak kalah sombong.


"Liong Ki Lok!!!" bentak ayahnya. "Dasar anak bodoh, apakah kau tahu pemuda yang kau bawa itu siapa hah?" Liong Hui Hai membentak anaknya tersebut dengan keras.


Tentu saja melihat tiba-tiba ayahnya marah seperti ini, Liong Ki Lok kesal juga. Tapi untuk melawan dia tidak berani, jadi dia memilih untuk berdiam dan menahan amarah.


"Ayah, kenapa kau daritadi berkata seperti itu terus, memangnya siapa pemuda sombong itu?" tanya Liong Ki Lok yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya.


Tanpa banyak cakap lagi, Liong Hui Hai langsung melemparkan kembali lencana yang tadi diberikan oleh Shin Shui padanya. Begitu menerima lencana dari ayahnya, segera Liong Ki Lok melihatnya.


Betapa kagetnya pemuda itu setelah melihat lencana apa yang diberikan ayahnya. Tubuhnya mendadak gemetar, kakinya lemas tak berdaya, jantungnya berdetak sangat kencang seperti sudah berlari jauh saja.


Seketika itu juga mukanya langsung pucat mirip dengan mayat. Beberapa kali dia memandamg Shin Shui dan lencana itu secara bergantian.


Tapi kali ini bukan lagi rasa sombong yang diperlihatkan olehnya saat menatap Shin Shui, melainkan rasa takut yang berlebih. Rasanya dia kali ini sedang memandang malaikat kematian saja.


Tiba-tiba saja ayah dan anak itu langsung ke arahnya dan berlutut untuk meminta maaf. Tentu saja hal ini menjadi sebuah keanehan.


Mengapa kepala tetua hingga begitu? Ada apa? Dan siapa pemuda yang didepannya sehingga kepala tetua berlaku demikian? Berbagai pertanyaan muncul dikepala orang-orang sekte Awan Biru.


"Maafkan aku tuan muda, maafkan anakku. Ah … betapa bodohnya aku yang tidak bisa melihat kebesaran dirimu," kata Liong Hui Hai merintih, padahal dihatinya ia sama sekali tidak sudi berucap demikian kepada Shin Shui. Orang tua itu melakukan ini tak lain demi menyelamatkan diri.

__ADS_1


Tapi Shin Shui tidak menjawab sama sekali. Begitu pun dengan Yun Mei, terlebih karena Shin Shui tahu semua ucapannya hanyalah bualan belaka.


Orang-orang yang sudah dikuasai nafsu memang selalu demikian. Dan asal kau tahu saja, manusia adalah makhluk yang sangat pandai memanipulasi dirinya sendiri.


Tak jarang ketika mulut berucap kanan, tapi hati berucap kiri. Tak jarang dari luar terlihat belas kasih, tapi dari dalam sebaliknya. Begitulah manusia. Menyadari atau tidak, kadang kita sendiri seperti itu.


Seperti yang dilakukan sekarang ini oleh ayah dan anak yang sudah dibutakan oleh kekuasaan yang suka bertindak sesuka hati. Mulutnya tidak sejalan dengan hatinya.


"Sudahlah, berdiri saja. Tidak ada gunanya kalian berlutut padaku, percuma saja. Aku bukanlah orang seperti kalian yang gila hormat dan memanfaatkan kekuasaan untuk bertingah semena-mena. Jangan samakan aku dengan kalian, karena aku tahu mana orang yang tulus dan mana yang berpura-pura semata," kata Shin Shui dengan tegas.


Bukan main kagetnya pasangan ayah dan anak itu. Mereka saat ini dilanda kebingungan, harus bagaimana caranya supaya pemuda yang menjadi kepala tetua Sekte Halilintar itu bisa memaafkan mereka.


Hingga pada akhirnya, disaat-saat kebingungan, datanglah empat orang tetua sekte Awan Biru lainnya. Betapa terkejutnya mereka saat melihat kepala tetuanya berlutut didepan seorang pemuda.


Dilihat dari wajahnya, para tetua itu nyatanya tak lebih baik daripada kepala tetuanya. Sama-sama memiliki perangai buruk.


Shin Shui pun tersenyum melihat seorang tetua yang memberi hormat kepadanya. Meskipun tetua itu sendiri belum mengetahui Shin Shui secara pasti, tapi menurutnya karena kepala tetua sendiri pun hingga berlaku demikian, tentu saja pemuda itu memiliki hal lain.


Berbeda dengan ketiga tetua lainnya, mereka amat marah melihat hal ini. Salahsatu dari mereka bahkan berkata dengan lantang.


"Lancang!!! Siapa dirimu sehingga menyuruh kepala tetua kami membuat sebuah hal yang amat memalukan? Kau utusan kaisar kah? Ah, tapi aku rasa bukan. Kau tak lebih dari pendekar muda yang sombong dan tidak tahu tatakrama," katanya dengan nada sombong kepada Shin Shui.


"Hahaha … bagus, bagus. Nah orang tua, teman-temanmu sudah datang. Jadi untuk apa kau masih berlutut dan berpura-pura didepanku saat ini? Aku sungguh muak melihat tingkahmu," ucap Shin Shui kepada Liong Hui Hai.

__ADS_1


Bukan main senangnya hati kepala tetua itu saat menyadari tetua lainnya datang. Buru-buru dia mengajak anaknya untuk mendekat kepada tetua lainnya.


"Kepala tetua, kenapa kau berlaku demikian kepada seorang bocah ingusan?" tanya seorang tetua.


"Pemuda itu mengancam akan membunuh keluargaku, dia juga mengancam akan mengadukan hal yang tidak-tidak kepada kaisar," ucap Liong Hui Hai mengada-ada.


"Jahanam!!!" kata kepala tetua.


"Hahaha … aku suka sesuatu yang seperti ini. Ternyata selain kau pandai memanfaatkan kekuasaan dijalan buruk pun, kau memang hebat dalam bicara omong kosong orang tua Liong Hui Hai. Hebat, hebat," kata Shin Shui sambil tepuk tangan.


"Lihat, bahkan pemuda itu berani mengatakan yang tidak-tidak," ucap Liong Hui Hai kepada para tetua.


Tanpa banyak cakap lagi, seorang tetua langsung maju menyerang Shin Shui saking kesalnya. "Mampuslah kau!!!"


Tetua itu kini sudah mulai menyerang Shin Shui menggunakan tangan kosong. Pukulannya mulai berkelebat kesana-kemari. Diiringi dengan suara nyaring untuk mengagetkan lawan.


Tapi sayangnya yang sedang dia hadapi saat ini adalah Shin Shui. Seorang pendekar muda yang sudah terkenal di dunia persilatan, hanya dengan menggeser kaki dan menggerakkan badannya sedikit, semua serangan itu luput begitu saja.


Sepuluh jurus berlalu, tapi belum ada yang melukai Shin Shui. Jangankan untuk melukai, bahkan mengenai tubuhnya saja belum. Sampai saat ini Shin Shui hanyalah mengelak saja.


Kesal karena temannya tidak berhasil melukai pemuda biru itu, dua tetua dan Liong Hui Hai sendiri lalu ikut maju dan menyerang Shin Shui. Shin Shui dikeroyok oleh empat tetua sekaligus.


Sedangkan tetua yang satunya lagi hanya diam dan menghela nafas. Dia tidak ikutan karena sudah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.

__ADS_1


Meskipun kini dirinya diserang dari empat arah, tapi tentunya pemuda itu tidak keberatan, karena mengingat keempatnya paling tinggi hanyalah berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap tiga.


"Jangan salahkan aku jika berlaku tidak sopan kepada kalian dan sedikit memberikan pelajaran orang tua yang tidak tahu diri," kata Shin Shui yang kini mulai membalas setiap serangan. Sedangkan Yun Mei hanya disuruh berdiam dan menonton saja.


__ADS_2