Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Merendahlah


__ADS_3

Setelah semuanya berakhir, Shin Shui pun lalu menghampiri kesemua orang-orang yang hadir tersebut. Kini kilatan halilintar yang daritadi menyelimuti tubuhnya sudah lenyap dan dia pun sudah kembali seperti sedia kala.


Para warga dan para pendekar yang hadir pun bersorak riang gembira menyambut kemenangan yang mereka impikan selama ini. Suara riuh menyebut 'pemuda biru' pun sudah menggema.


Akhirnya, kesemua orang-orang itu bisa terbebas dari sebuah belenggu yang selama ini menakuti hidup mereka. Perguruan yang mengandalkan kekuasaannya untuk bertindak semena-mena sudah berakhir. Bahagialah perasaan orang-orang tersebut.


Tepat ketika Shin Shui sampai kepada kerumunan orang-orang tersebut, tak pama Kwei Moi pun tiba dengan nafas yang memburu. Sepertinya pendekar wanita itu sudah berlari dengan terburu-buru.


Terlihat ada butiran-butiran peluh yang menggenang diwajahnya. Wajah yang cantik dan lembut itu sedikit memerah karena panasnya sinar matahari.


Tiba-tiba saja mata Kwei Moi terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka hingga hampir membentuk huruf O karena mungkin saking kagetnya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Sungguh, keadaan sekarang sudah jauh berbeda dari sebelum dia pergi meninggalkan tempat tersebut. Tempat yang tadinya dipenuhi oleh para murid Perguruan Tapak Es dan ada sebuah bangunan yang kokoh dan indah, kini sudah luluh lantah.


Para pendekar sudah berubah menjadi mayat-mayat yang berserakan. Mereka tewas dengan kondisi yang bermacam-macam. Bangunan yang kokoh kini sebagian telah hancur bagaikan diterpa angin kencang.


"Shin Shui, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Dan … dimanakah Dewa Es Sesat itu?" tanya Kwei Moi dengan ekspresi wajah penasaran.


"Seperti yang kau lihat saat ini Kwei Moi. Para murid Perguruan Tapak Es telah tewas oleh para pendekar yang membantuku. Sedangkan Dewa Es Sesat sendiri sama seperti muridnya. Dia tewas olehku," ucap Shin Shui sambil tersenyum.


"A-pa??? Ka-kau … mampu membunuh Dewa Es Sesat? Bu-bukankah tingkat pelatihan dia berada diatasmu?" tanya Kwei Moi dengan gugup karena tak percaya.


"Begitulah. Tentu saja karena aku berjuang dengan keras. Semua hal butuh perjuangan Kwei Moi, begitupun aku ketika melawan Dewa Es Sesat. Untung saja ada para pendekar yang membantu untuk membereskan para muridnya, jika tidak … tentulah aku takkan bisa mengalahkannya," kata Shin Shui merendah.

__ADS_1


Memang, apa yang dikatakan Kwei Moi ada benarnya, dan apa yang dikatakan Shin Shui sendiri pun benar. Semua butuh perjuangan. Apapun itu. Tapi ucapannya yang mengatakan bahwa jika tidak dibantu para pendekar dia takkan menang, itu hanyalah sebuah sifat rendah diri.


Karena Shin Shui memang tak mau dipuji-puji bagaikan seorang dewa. Begitulah, jika seseorang sudah memiliki ilmu yang terbilang mumpuni, maka dia akan sangat merendah. Bahkan dia akan merasa seperti tidak memiliki ilmu ataupun pengetahuan apapun.


Tingkatan dalam sebuah ilmu ada tiga. Pertama, jika seseorang baru mempunyai ilmu sedikit, maka dia akan sombong. Kedua, jika ilmunya sudah cukup tinggi, dia akan perlahan rendah diri. Dan terakhir, jika seseorang sudah mencapai ilmu yang mumpuni, maka dia bagaikan tak bisa apa-apa. Dan itu nyata.


Karena yang mencapai tingkat terakhir ini, dia akan sadar sepenuhnya bahwa diatas langit masih ada langit. Bahkan dia akan merasa bahwa ilmunya sungguh tidak ada apa-apanya.


Andaikan saja seluruh air laut jadi tinta dan disuruh untuk menulis sebuah ilmu, maka itupun masih sangat kurang. Karena sesungguhnya, setiap apapun yang kita lakukan itu ada ilmunya. Apapun itu.


Oleh sebab itu, berusahalah untuk tidak merasa hebat dan tinggi ketika memiliki sebuah ilmu. Karena ilmumu sesungguhnya belum ada apa-apanya.


Orang yang berilmu akan dibilang hebat jika dia bisa membagikan ilmunya kepada orang lain. Jika belum bisa membagikan, maka jangan pernah berkata bahwa kau hebat.


"Kwei Moi, kau carilah harta yang dimiliki oleh Perguruan Tapak Es. Ambillah semua harta yang mereka miliki, lalu kau bagikan kepada para pendekar yang hadir disini secara merata. Termasuk kau sendiri," kata Shin Shui menyuruh Kwei Moi untuk mengambil semua harta Perguruan Tapak Es.


"Tapi … bagaimana dengan dirimu sendiri?"


"Jangan kau pikirkan aku. Percayalah, aku mempunyai bekal cukup untuk hidupku sendiri. Pergilah, kumpulkan semua harta itu," kata Shin Shui.


Tanpa bertanya lebih jauh, Kwei Moi pun akhirnya menuruti keinginan Shin Shui. Pendekar wanita itu lalu melesat ke dalam Perguruan Tapak Es untuk mengambil semua harta yang ada. Bahkan dia juga berniat untuk mengambil benda pusaka yang ada jika ada.


Setelah pergi mencari dan mengumpulkan harta beberapa saat, Kwei Moi pun lalu kembali dengan membawa sebuah peti yang cukup banyak, sedangkan benda pusaka dia tidak menemukannya. Kwei Moi pun lalu berdiri tengah mimbar dan memanggil Shin Shui untuk kesana.

__ADS_1


"Shin Shui, kau bagikan sajalah harta ini. Aku rasa hanya kau yang pantas, karena kau yang berperan besar dalam pertempuran ini," pinta Kwei Moi setelah Shin Shui tiba.


Shin Shui tak langsung menjawab. Dia lebih dulu membuka semua harta yang dibawa Kwei Moi, terbelalak matanya karena semua peti yang dibawa berisi kepingan emas yang begitu banyak.


Karena apa yang diucapkan Kwei Moi ada benarnya, maka Shin Shui pun mengangguk lalu bicara kepada semua orang.


"Para hadirin sekalian, mohon kemarilah dan mendekat. Aku ingin membicarakan sesuatu," kata Shin Shui dengan suara yang sangat berwibawa.


Tanpa mengulang kata, semua orang baik dari kalangan biasa maupun pendekar langsung menurut. Mereka menghampiri Shin Shui dan berdiri dengan rapi.


"Sebelumnya bukan aku menghina kalian atau apa, mungkin ini tidak berarti bagi kalian yang memiliki kelebihan dalam hal harta, tapi aku melakukan ini demi sebuah keadilan. Aku akan membagikan harta ini secara merata untuk kalian semua. Harap gunakan dengan baik," kata Shin Shui.


"Maaf pendekar muda, bukan kami berniat untuk menolak. Tapi alangkah baiknya bahwa harta itu memang dimiliki oleh pendekar muda, karena kau sendirilah yang berkontribusi paling besar," kata salahsatu pendekar angkat bicara karena merasa tidak enak.


"Tidak. Kalian pun turut andil, dengan semangat kalian yang menggebulah aku bisa mengalahkan Dewa Es Sesat," kata Shin Shui mencari alasan.


Karena tak berani membantah, akhirnya semua orang pun setuju dengan ide Shin Shui. Mereka lalu berbaris dengan rapi dan siap untuk menerima harta yang akan dibagikan.


Tanpa menunggu lama Shin Shui pun membagikan semua harta yang didapatkan. Tak perlu waktu lama, semua harta rampasan itupun sudah habis dibagi rata. Kwei Moi pun kebagian dan dia mendapatkan sedikit lebih banyak.


Betapa senangnya orang-orang itu karena mendapatkan bagian meskipun merasa tidak berperan. Bertambah kagumlah semua orang kepada Shin Shui karena begitu rendah hati dan menjunjung tinggi keadilan.


###

__ADS_1


Satu chapter lagi akan nyusul ya😆agak repot soalnya🙏


__ADS_2