
"Aku kagum dengan kekuatan kalian. Bahkan mungkin aku tidak sanggup mengalahkan kalian dengan kondisiku yang sekarang seperti ini," kata Shin Shui.
"Tuan muda jangan begitu, apapun yang terjadi, kami akan melindungi tuan muda. Bahkan jika harus bertaruh nyawa pun kami siap," kata Ong san dengan serius.
"Hahaha … terimakasih atas kebaikan kalian. Aku tidak akan pernah melupakan semua ini. Sekarang, ayo kita melanjutkan perjalanan lagi," kata Shin Shui mengajak tiga hewan peliharaannya itu.
Kini mereka sudah berjalan kembali menyusuri hutan yang sangat luas itu. Pertarungan tadi menjadi pelajaran bagi Shin Shui dan tiga hewan peliharaannya, bahwa mara bahaya memang mengincar mereka.
Keempatnya terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan tanpa menengok ke belakang, tepatnya ke bekas pertarungan antar siluman tadi.
Di bekas tempat pertarungan, beberapa siluman yang berwujud aneh datang ke tempat kejadian karena mendengar suara-suara yang mengganggu mereka.
Jumlah siluman yang datang ke tempat bekas pertarungan ada sekitar lima ekor. Keempatnya berwujud aneh, seperti kepalanya burung elang, sedangkan badannya serigala, dan lain sebagainya.
Yang berwujud normal hanyalah satu ekor siluman saja, siluman itu berupa kera berbulu hitam. Namun dia juga memiliki keanehan tersendiri.
Karena siluman kera hitam itu lain daripada siluman biasanya. Dia membawa sebuah tombak pada tangan kanan, dan sebuah perisai bulat pada tangan kiri.
Sepertinya kelima siluman itu merupakan prajurit sebuah kerajaan. Benar, kerajaan hutan perbatasan. Dimana seperti yang diceritakan sebelumnya.
Seekor siluman bertanya kepada rekannya tentang siapa yang berani membuat keributan, tapi tentunya dengan bahasa mereka sendiri.
"Hei, siapa makhluk asing yang berani datang dan mengacau di wilayah kita?" tanya seekor siluman laba-laba berkepala banteng.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya mereka bukan makhluk disekitar sini dan mereka datang bukan untuk baik-baik," kata siluman kera hitam.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya siluman serigala berkepala elang.
"Kita harus mencegah mereka sebelum tiba ke istana," jawab siluman kera itu.
"Baiklah, mari kita pergi lewat jalan lain. Setelah itu, kita serang mereka secara tiba-tiba," lanjutnya.
Kelima siluman itupun pergi dari tempat bekas pertarungan. Gerakannya begitu cepat dan tangkas. Mereka tidak kesusahan mencari sebuah jalan, karena kelimanya merupakan siluman asli hutan perbatasan selatan ini.
__ADS_1
Shin Shui dan tiga hewan peliharaannya sudah semakin dalam. Entah sudah berapa lama mereka berjalan menyusuri hutan tersebut. Yang jelas, keempatnya belum juga menemukan sebuah kerajaan yang menjadi tanda sebagai tengah-tengah hutan.
Ketika mereka sedang berjalan dan melihat-lihat keadaan, tiba-tiba Shin Shui merasakan adanya hawa pembunuh disekitar mereka.
"Berhenti. Mundur!" kata Shin Shui.
"Ada apa tuan muda?" tanya San ong.
"Ada yang akan menyerang kita. Tapi entah apa, akupun belum mengetahui. Yang jelas, hawa pembunuhnya sudah bisa aku rasakan," kata Shin Shui.
Keempatnya lalu meningkatkan kewaspadaan, meskipun belum merasakan hawa pembunuh seperti yang Shin Shui rasakan, tapi tiga hewan peliharaan itu mempercayai majikannya tersebut.
"Bersiap, mereka datang. Arahnya dari depan," kata Shin Shui memperingatkan
"Baik," jawab ketiganya serempak.
Ucapan Shin Shui terbukti, baru saja selesai bicara, tiba-tiba datang sebuah serangan berupa jaring laba-laba melesat dengam kecepatan tinggi ke arah mereka.
Shin Shui mencabut Pedang Halilintar lalu menebas jaring-jaring tersebut. Matanya mengawasi dari arah datangnya serangan, tapi tidak ada tanda apa-apa lagi.
"Awas dari sisi kalian …" kata Shin Shui dengan tiba-tiba.
Benar saja, empat ekor siluman keluar dari semak belukar kanan dan kiri. Dari depan juga keluar satu ekor siluman ker hitam. Kelima siluman saat ini sudah mengepung Shin Shui dan yang lainnya.
"Siapa kalian dan mau apa?" tanya siluman kera hitam dengan beringas.
"Kami bukan orang sini. Kami tersesat dan sedang mencari jalan keluar," kata Shin Shui sedikit berbohong.
"Bohong. Jika kau tersesat, tidak mungkin kau melakukan pertarungan yang menewaskan rekan kami. Cepat katakan tujuan kalian sebelum kami mengambil jalan kekerasan," bentak siluman kera hitam kepada Shin Shui.
"Hemmm … jika kalian memaksa, apa boleh buat. Ini bukan urusan kalian, jadi kami lebih memilih jalan kekerasan," kata Shin Shui sambil menatap tajam.
Pemuda biru itu lalu melakukan kuda-kuda. Pedangnya ditaruh menyilang didepan dada. Aura biru dari energi halilintar mulai keluar dari pedang pusaka itu.
__ADS_1
Di sisi lain, San ong dan Ong san pun sudah siap melakukan pertarungan. Semaunya sudah mendapatkan lawan. Phoenix biru mendapatkan dua lawan.
"Baik. Jangan pernah menyesali akan kesombonganmu ini manusia," kata siluman kera hitam sambil maju menyerang Shin Shui.
Siluman kera itu menyerang menggunakan tombaknya yang tajam. Gerakannya cukup cepat, dan sepertinya dia telah terlatih untuk berkelahi menghadapi lawan yang lebih kuat.
Hal ini terlihat dari bagaimana cara siluman kera hitam itu melawan Shin Shui. Belasan jurus sudah berlalu, Shin Shui belum serius sejauh ini. Dia ingin mengukur dulu sampai dimana kekuatan musuhnya.
Siluman kera hitam itu mundur beberapa langkah ke belakang. Matanya menatap tajam ke arah Shin Shui. Sepertinya siluman itu tidak menyangka akan bertemu dengan lawan yang tangguh.
"Tombak Perak Menerjang Badai …"
"WUSHH …"
Tiba-tiba siluman kera hitam melemparkan tombaknya ke arah Shin Shui dengan kecepatan tinggi. Diluar dugaan, manusia yang menjadi lawannya tersebut bisa mematahkan jurus andalannya.
Bahkan tombak siluman kera itu terpotong menjadi dua bagian sehingga membuatnya marah. Dia menyerang kembali Shin Shui, tapi kali ini dengan tangan kosong. Shin Shui pun menyarungkan kembali Pedang Halilintar.
Serangan pukulan datang, pukulannya lumayan cepat dan berbahaya. Tapi manusia itu bukanlah pendekar ecek-ecek, sehingga bagaimanapun siluman kera menghujani dengan pukulan, Shin Shui bisa menghindar dengan mudah.
"Kau membuatku jengkel …" kata Shin Shui.
Kali ini giliran pemuda biru itu yang menyerang dengan tangan kosong. Kedua tangannya sudah bergerak dengan sangat cepat.
Sehingga baru beberapa gebrakan saja, siluman kera hitam sudah terpojok dan beberapa kali terkena pukulan Shin Shui.
Pemuda biru itu terus menyerang tanpa memberikan ampunan, hingga suatu ketika, Shin Shui berhasil memberikan pukulan yang telak mengenai ulu hati siluman kera hitam itu.
Dia bergulingan beberapa saat dan berhenti ketika menabrak sebuah pohon. Siluman kera hitam tidak dapat bangun lagi, ada bekas pukulan yang menghitam pada bagian ulu hatinya. Mati.
Di sisi lain, tiga hewan peliharaannya pun sedang bertarung melawan musuhnya masing-masing. Ketiganya bertarung dengan ganas.
Sehingga tak lama setelah Shin Shui mengalahkan siluman kera hitam, ketiga hewan peliharaannya berhasil membunuh musuh-musuhnya.
__ADS_1
Kecuali hanya satu yang tersisa, yaitu seekor siluman serigala berkepala elang yang menjadi salahsatu lawan burung phoenix biru.
Burung legenda itu memang sengaja tidak membunuhnya. Karena dia yakin bahwa siluman tersebut akan melapor kepada rajanya, sehingga dengan cara ini mereka bisa menemukan dimana lokasi kerajaan yang menyimpan Bunga Seribu Khasiat tersebut.