Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Yun Mei Xiaoruan


__ADS_3

Matanya mulai mengeluarkan kilatan, dia segera mencabut Pedang Naga Emas yang tersimpan di punggungnya. Shin Shui segera melesat menyerang Pendekar Bulan Sabit.


Baru sekejap, puluhan jurus sudah terlewati. Pendekar Bulan Sabit mulai terdesak, dia semakin lambat gerakannya akibat tenaga dalam yang mulai habis.


"Matii kau … Tebasan Naga Emas. "


"ROARR …"


Bayangan naga berwarna emas mendadak muncul dari langit dan segera menyerang Pendekar Bulan Sabit. Karena tenaga dalamnya hampir habis, dia tidak bisa ngehindar lagi. Akhirnya pendekar itu terbunuh oleh jurus Pedang Naga Emas milik Shin Shui.


Pendekar Bulan Sabit tewas dengan mengenaskan, dadanya bolong dan mukanya hancur akibat dihantam naga emas. Setelah semuanya berakhir, Shin Shui segera mengobati Guiyi dengan Kalung Kristal Halilintarnya.


Setelah selesai mengobati Guiyi, Shin Shui segera memasuki goa kembali. Dia berniat untuk menyelamatkan para gadis yang menjadi korban.


Kondisi para gadis itu memprihatinkan, mereka dalam keadaan pingsan dengan keadaan setengah telanjang. Shin Shui segera menyadarkan mereka. Tapi saat Shin Shui berniat menyadarkan gadis terkahir, pemuda itu kaget bukan main.


Ternyata gadis terkahir adalah gadis yang pernah membuat Shin Shui gugup saat berada di Kota Matahari Terbenam, tepatnya di Restoran Jingga.


Sontak Shin Shui kembali gugup, tubuhnya mulai berkeringat. Pemuda itu benar-benar dibuat gerogi dengan gadis yang ada di depannya saat ini. Tapi apa boleh buat, Shin Shui segera menyadarkan gadis tersebut.


"Hei bangun … ka-kau sudah aman sekarang." kata Shin Shui sembari menepak pelan pipi gadis itu.


Gadis itu perlahan membuka mata setelah Shin Shui menepak pipinya beberapa kali. Tapi dengan refleks gadis tersebut langsung memeluk Shin Shui dengan erat.


Dia mulai menangis histeris karena mengingat kejadian buruk beberapa waktu lalu saat dirinya dijadikan bahan persembahan.

__ADS_1


Shin Shui mulai kebingungan dengan keadaan sekarang, terlebih lagi karena dia dipeluk oleh gadis yang pernah membuatnya gugup.


Wajah pemuda itu mulai menjadi merah seperti tomat, keringat mulai membasahi tubuhnya, jantungnya berpacu dengan kencang karena gadis itu tidak mau melepaskan pelukannya dari Shin Shui.


"Su-sudah jangan menangis lagi, kan ada aku disini. Ehh emmm … ma-maksudku kau sudah aman." Shin Shui berkata dengan terbata-bata.


Setelah beberapa saat memeluk Shin Shui, akhirnya dia perlahan mulai melepaskan pelukannya. Kondisinya sekarang sudah mulai tenang, terlebih karena yang menyelamtkannya seorang pemuda tampan.


Shin Shui dan Guiyi segera mengajak para gadis kembali ke Kota Kayu Besi, mereka berjalan ditengah gelapnya malam. Gadis tersebut tidak mau jauh dari Shin Shui, bahkan dia berjalan sembari memegangi tangan pemuda biru itu.


###


Shin Shui dan yang lainnya sudah memasuki Kota Kayu Besi, mereka segera menyerahkan para gadis kepada pihak yang berwajib untuk dikembalikan ke rumah asalnya.


Keempat gadis yang dijadikan bahan persembahan sudah diserahkan, tapi gadis yang membuat Shin Shhi gugup tidak termasuk didalamnya. Dia memilih mengikuti Shin Shui, alasanyan karena dia mengaku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.


Awalnya pemuda biru itu menolak, tapi karena gadis tersebut menampakkan kesedihan akhirnya Shin Shui mengizinkannya untuk ikut.


"Senior, aku pamit dulu untuk melanjutkan perjalanan menuju Bukit Awan. Aku harap suatu saat kita bisa bertemu kembali," kata Shin Shui hormat seraya berpamitan kepada Guiyi.


"Baiklah Shui'er. Terimakasih sudah membantuku membongkar kebodohan yang sudah terjadi selama ini. Aku berharap bisa membalas kebaikanmu." balasnya.


Setelah berpamitan kepada Guiyi dan penduduk setempat, Shin Shui segera pergi untuk melanjutkan perjalanannya. Namun kali ini dia ditemani oleh seorang gadis cantik.


Kedua pemuda dan gadis itu mulai berjalan santai, mereka akan mencari penginapan untuk sekedar beristirahat malam ini sebelum melanjutkan perjalanan besok hari.

__ADS_1


Tak terasa hari semakin malam, Shin Shui dan seorang gadis cantik sudah berjalan kurang lebih satu jam. Akhirnya dia menemukan sebuah penginapan kecil didepan sana, mereka segera pergi ke penginapan tersebut.


Sepanjang perjalanan tadi tidak ada sepatah kata yang terucap dari keduanya, mereka sama-sama canggung. Terlebih saat gadis itu mengingat kejadian ketika memeluk Shin Shui dengan erat.


Karena penginapan yang ditemukan hanyalah penginapan kecil, akhirnya mau tak mau Shin Shui harus tidur satu kamar dengan gadis itu. Mereka segera memasuki kamar yang sudah dipesan.


Sesampainya dikamar, gadis tersebut memberanikan diri untuk bersuara dan berniat memecahkan suasana canggung diantara mereka.


"Maafkan aku atas kejadian tadi tuan muda. Aku tidak sengaja, sungguh," kata gadis itu dengan malu-malu.


"Tidak masalah, sudah tidak usah dibahas lagi . Jangan memanggilku tuan muda, aku geli dengan panggilan itu. Panggil saja aku Shin Shui, bagaimana aku memanggilmu?" tanya Shin Shui.


Dia berusaha untuk terlihat jantan saat ini, padahal jantungnya masih saja berdetak kencang jika dia bicara dengannya.


"Aku bernama Yun Mei Xiaoruan. Kau bisa memanggilku Yun Mei." jawab gadis itu yang ternyata bernama Yun Mei Xiaoruan.


"Hemm … baiklah cantik. Ehh … ma-maksudku Yun Mei ehehe maaf …" Kata Shin Shui. Wajahnya kembali memerah saat dia berucap demikian.


"Tidurlah, hari sudah larut malam. Besok kita akan melanjutkan perjalanan lagi." kata Shin Shui menyuruh Yun Mei Tidur.


"Kau akan tidur dimana?" tanya Yun Mei.


"Aku akan tidur diluar, atau tidur dibawah. Kau tidurlah diatas kasur, tenanglah aku tidak akan macam-macam." balas Shin Shui.


Segera saja pemuda itu pergi keluar kamar, dia ingin menikmati suasana malam di kota tersebut. Sedangkan Yun Mei menurut pada Shin Shui, gadis itu segera bergegas untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2