Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Shui'er, Kapan Kau Akan Menikahi Mei'er?


__ADS_3

Beberapa jam sudah berlalu, mereka yang terluka mulai menunjukkan pergerakan. Shin Shui dan phoenix biru yang sedari tadi diam, kini mulai waspada.


"Shui'er, buat ruang kedap suara supaya tidak terdengar keluar," bisik phoenix biru.


"Baik." jawab Shin Shui.


Pemuda biru itu lalu membuat ruang kedap suara seperti yang diperintahkan oleh phoenix biru. Entah apa tujuannya, tapi Shin Shui tidak banyak bertanya.


Sebenarnya alasan phoenix biru menyuruh Shin Shui membuat ruang kedap suara tak lain karena dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan benar saja, mereka yang terluka mulai berteriak-teriak kencang.


Mereka yang hadir disana mulai melindungi telinga mereka menggunakan tenaga dalam. Hal seperti Shin Shui ketika kritis pun terulang kembali.


Mereka yang terluka berteriak kesakitan beberapa saat, kulit mereka memerah hingga akhirnya mereka pingsan kembali.


"Katakan pada mereka supaya tenang. Teriakan tadi hanya pertanda bahwa Bunga Seribu Khasiat sedang berproses membersihkan racun-racun pada tubuh mereka," bisik phoenix biru.


Shin Shui menurut, dia lalu memberitahu kepada mereka yang hadir seperti apa yang dikatakan phoenix biru kepadanya.


Merekapun akhirnya mengerti. Kini tinggal menunggu proses siumannya saja.


Tak berselang lama kemudian, mereka yang terluka mulai membuka mata dan menggerakkan jari-jari tangannya. Wajah yang tadinya pucat membiru, kini kembali cerah bersinar.


Bahkan wajah mereka nampak lebih segar daripada sebelumnya. Seperti baru bangun dari tidur yang panjang dan bermimpi indah, tidak terlihat rasa sakit. Yang terlihat hanyalah rasa bahagia yang terpancar dari wajah masing-masing mereka yang terluka.


Mereka disambut bahagia oleh orang-orang yang sedari tadi hadir disana. Masing-masing dari mereka berpelukan dan bersuka cita atas semua ini.


"Mari, kita segera ke ruangan utama. Kita adakan jamuan makan besar atas hal yang berbahagia ini," kata Kaisar Wei An lalu mengajak semuanya ke ruangan utama.

__ADS_1


Setelah sampai di ruangan utama, Kaisar Wei An langsung menyuruh semua tukang masak untuk memasak makanan yang terenak dalam jumlah besar.


Kaisar Wei An akan mengadakan jamuan sekedar untuk berucap syukur atas sadarnya para kepala tetua sekte besar beserta para murid berbakat.


Setelah beberapa saat menunggu, makanan pun sudah matang. Bau harum segera memenuhi isi ruangan utama yang lumayam besar itu.


Makanan yang banyak itu ditaruh berjejer pada sebuah meja panjang yang agak lebar. Masakan sudah tertata rapi, kini tinggal saatnya makan.


"Mari kita makan sampai kenyang. Anggap saja ini sebagai ucapan rasa syukur atas para kepala tetua dan para murid yang kini sudah kembali seperti sediakala," kata Kaisar Wei An sambil mengangkat kedua tangan dan membungkuk hormat.


Mereka semua lalu makan dengan lahapnya. Semua orang-orang penting makan diruangan utama itu, sedangkan yang lainnya ada yang makan diluar.


Dua puluh menit kemudian, mereka semua sudah selesai makan. Saat ini hari sudah hampir larut malam, sebagian dari para petinggi memilih untuk tidur.


Yang belum berniat untuk istirahat hanyalah Shin Shui, Yun Mei dan Yashou. Tak lupa pula dengan phoenix biru, namun burung itu lebih memilih untuk bertengger diatas atap istana kekaisaran menikmati indahnya bulan purnama.


Hembusan angin membelai tubuh ketiganya dengan lembut. Cahaya bulan purnama bersinar semakin terang ditemani dengan kerlipan sang bintang.


Bau harum dari bunga-bunga ditaman sungguh memanjakan hidung. Jika malam sedang damai seperti ini, sangat sayang sekali untuk dilewatkan.


"Senior, bagaimana keadaan di sekte Bukit Halilintar?" tanya Shin Shui membuka pembicaraan. Seperti biasa, jika tidak ada orang lain, maka ketiganya akan terlihat seperti keluarga.


"Kau tenang saja Shui'er, beberapa tetua sudah aku tugaskan untuk menjaga sekte. Sebagian murid juga sudah aku suruh untuk menjaga dengan baik. Beberapa hari lalu, ada juga surat yang mengatakan bahwa kondisi di sekte kita baik-baik saja," jawab Yashou.


"Syukurlah, aku turut senang. Ngomong-ngomong, kapan harusnya kita kembali ke sekte Bukit Halilintar itu senior?" tanya Shin Shui.


"Secepatnya. Lebih cepat lebih baik, tapi pastikan semua urusan disini selesai dulu," kata Yashou.

__ADS_1


"Tentu saja senior. Lagi pula, aku sudah rindu akan seduhan teh hijau sekte kita," tutur Shin Shui sambil tersenyum.


"Apalagi yang menyeduhkannya seorang bidadari … hahaha," ejek Yashou.


Akibat ucapannya itu, Yun Mei yang daritadi masih diam jadi tersenyum sendiri. Bahkan pipinya berubah jadi memerah tomat.


Shin Shui dan Yashou tertawa cukup kencang, sedangkan Yun Mei masih saja malu-malu.


"Shui'er, kapan kau akan menikahi Mei'er? Cepat-cepatlah kalian menikah mumpung aku masih hidup. Aku ingin sekali menggendong anak kalian berdua," ucap Yashou secara tiba-tiba.


Shin Shui yang tadinua tertawa, langsung tercekat akibat ucapan pendekar tua itu. Kini giliran Shin Shui yang wajahnya mendadak memerah tomat.


Sedangkan Yun Mei terlihat semakin bahagia. Detak jantung wanita itu mendadak berdebar-debar kencang.


"Emmm … itu … itu, aku justru menunggu jawaban dari Yun Mei sendiri. Jika dia siap, maka aku akan lebih siap," kata Shin Shui malu-malu.


"Nah Mei'er, kau dengar. Apakah kau sudah siap?" tanya Yashou sedikit menggodanya.


"Aku … aku sangat siap senior," jawab Yun Mei sambil menundukkan kepala karena kedua pipinya memerah kembali.


"Hahaha … kalian memang cocok. Baiklah, aku ingin setelah kembali dari sini, kalian segera melangsungkan pernikahan. Aku tidak mau tahu," ucap Yashou dengan gembira.


Shin Shui dan Yun Mei saling bertatapan, lalu keduanya mengangguk secara bersamaan pula. Malam yang indah, dengan obrolan yang bahagia pula.


Ah … betapa bahagianya malam ini bagi mereka bertiga.


###

__ADS_1


Ini dua lagi yang jatah malming. Yang sekarang belum😜ikuti terus perjalanan Shin Shui yang sebentar lagi akan segera selesai ya😁🙏


__ADS_2