
"Benar, benda pusaka. Sebelumnya benda pusaka itu memang berada padaku, tapi sebenarnya benda pusaka itu sudah aku berikan kepada maha guru Cian Lie Bun. Kepala Kuil Surgawi, meskipun usianya sudah tidak muda, tapi beliau termasuk dalam jajaran sepuluh orang terkuat di daerah Utara kekaisaran Wei. Meskipun tidak termasuk dalam sepuluh jajaran orang terkuat diseluruh kekaisaran Wei, tapi di Utara sana beliau amat disegani."
"Aku sebenarnya sudah menjelaskan kepada para pendekar yang mencari benda itu bahwa pusaka yang mereka cari sudah tidak ada ditanganku. Melainkan sudah aku serahkan kepada maha guru biksu Cian Lie Bun, tapi mereka tetap tidak percaya padaku. Aku sudah bilang jika berani maka ambil sendiri dari tangan maha guru, tapi yang ada malah mereka menganggap bahwa aku sengaja menggunakan nama maha guru biksu Cian Lie Bun untuk menakuti mereka saja," kata biksu To Lian Pwe menjelaskan.
"Maaf biksu, kiranya benda pusaka apa yang dimaksudkan?" tanya Shin Shui penasaran dan semakin tertarik dengan masalah ini.
"Hemmm … benda pusaka itu hanya berupa sebuah kitab. Kitab yang konon katanya termasuk dalam lima buah kitab pusaka tanpa tanding. Kitab ini menurut maha guru berada pada jajaran kelima, tapi meskipun begitu tentu saja bagi siapa yang memilikinya maka akan menjadi pendekar yang ditakuti. Kitab itu bernama Kitab Bayangan. Dimana semua ajarannya berisi tentang gerak silat dan juga jurus-jurus yang mengerikan," ucap biksu To.
"Kitab Bayangan, hmmm … aku baru mendengar nama kitab itu," kata Shin Shui.
"Kitab itu memang sebelumnya tidak ada yang memiliki. Aku pun menemukan kitab itu tanpa disengaja ketika bertapa di gunung Sang-tung. Maaf pendekar muda, tadi aku melihat semua gerakan dan jurusmu berhubungan dengan halilintar, apakah artinya kau pemilik Kitab Halilintar?" tanya biksu To yang semakin penasaran saat mengingat ketika Shin Shui bertarung tadi.
"Begitu ya. Benar biksu, tapi aku belumlah sempurna mempelajari kitab itu. Karena tenagaku belum mampu untuk mempelajari secara keseluruhan. Mungkin masih ada tiga ajaran lagi yang belum aku pelajari," jawab Shin Shui dengan jujur.
__ADS_1
Dia menjawab demikian karena sudah percaya kepada biksu To Lian Pwe bahwa biksu itu juga berada dipihaknya. Apalagi setelah mendengar bahwa biksu tua itu juga mengetahui tentang kitab-kitab tanpa tanding.
"Ja-jadi, kau benar-benar mempelajari kitab tanpa tanding yang berada pada urutan pertama itu?" biksu To Lian Pwe semakin terkejut.
Bagaimana ada seorang pendekar muda yang bisa memegang kitab tanpa tanding? Apalagi kitab yang dipegang berada pada urutan pertama. Padahal Kitab Halilintar sudah beberapa puluh bahkan mungkin ratusan tahun tidak terdengar dalam dunia persilatan. Siapa sebenarnya pemuda ini? Pikiran biksu To Lian Pwe kini dihantui dengan tanda tanya besar.
"Benar biksu. Ceritanya panjang, tapi aku minta biksu menutupi tentang hal ini karena pasti akan menimbulkan kekacauan yang lebih besar lagi nantinya," pinta Shin Shui.
"Tentu pendekar muda, tentu. Jika kau pemilik dari Kitab Halilintar, apakah kau sudi untuk berkunjung ke Kuil Surgawi? Ada sesuatu hal yang ingin maha guru bicarakan. Sebenarnya tujuanku yang utama melakukan pengembaraan adalah memang mencari pemilik kitab-kitab tanpa tanding. Karena beberapa waktu lalu maha guru Cian Lie Bun bermimpi tentang sebuah malapetaka yang akan terjadi dan juga tentang kitab-kitab tanpa tanding yang bahwa kini sudah dimiliki oleh para pendekar. Jika tidak keberatan, mohon kiranya kedua pendekar muda sudi untuk ikut denganku," kata biksu To.
"Tidak, jika tanpa adanya halangan berarti maka hanya dua hari perjalanan pun kita sudah sampai kesana,"
"Baiklah, kalau begitu mari kita kesana sekarang juga," ucap Shin Shui dengan semangat.
__ADS_1
Ketiganya lalu bersiap untuk berangkat menuju ke Kuil Surgawi bersama dengan biksu To Lian Pwe. Tapi sebelum mereka melangkah, tiba-tiba angin berhembus kencang dan langit tampak sedikit mendung.
Ketiganya pun langsung waspada, meskipun tidak ada tanda-tanda bahaya yang datang, tapi melihat kondisi yang tiba-tiba mengalami perubahan seperti ini cukuplah membuat mereka terkejut.
Di sisi lain Yun Mei pun turut waspada, dia melihat-lihat ke seluruh penjuru hutan. Tapi betapa kagetnya gadis itu saat melihat ke atas langit.
Di atas langit sana terlihat ada seekor naga yang berukuran besar dan panjang pula sedang menuju ke arah mereka.
"Shushi, it-itu …" kata Yun Mei terbata-bata sambil menunjuk ke langit dan tidak mampu menyelesaikan ucapannya.
Shin Shui yang langsung mengerti pun dengan segera mendongakkan kepalanya ke atas. Dia pun sempat terkejut, tapi saat sesuatu itu semakin dekat dan jelas, rasa terkejutnya segera tergantikan dengan rasa bahagia yang tiada tara.
###
__ADS_1
Satu lagi nanti nyusul ya😁masih agak repot. Jangan lupa berikan likenya jika keberatan memberikan vote😁🙏