
Setelah pertarungan keduanya selesai, Shin Shui pun lalu menghampiri burung phoenix biru. Burung itu sudah bertengger pada sebuah dahan pohon.
Kilatan halilintarnya sudah hilang, tapi matanya masih berwarna merah menyala.
Shin Shui lalu berjalan mendekati burung peliharaannya itu. Meskipun ada sedikit rasa ngeri, tapi pemuda biru itu mencoba untuk memberanikan diri.
"Hei phoenix biru, kemarilah. Bertengger pada pundaku seperti biasa," kata Shin Shui dengan senyuman lembut.
Phoenix biru tidak menjawab, dia malah terbang kembali memasuki rumah bekas Dua Bidadari Iblis. Shin Shui lalu mengikuti di belakangnya. Ternyata burung itu sudah berada diatas meja makan.
"Phoenix biru, kau itu kenapa? Sepertinya kau kelihatan marah sekali padaku. Katakanlah, apa salahku," kata Shin Shui dengan ekspresi wajah memelas.
"Tentu saja aku marah. Bahkan aku kecewa padamu Shui'er," jawab phoenix biru dengan ketus.
"Kecewa? Kecewa kenapa? Ayolah katakan, aku tidak mengerti apa maksudmu," kata Shin Shui.
"Yahhh … aku kecewa terhadapmu. Aku ingin Shin Shui yang dulu, bukan seperti yang sekarang,"
"Eh … eh … apa maksudmu? Aku masih yang dulu, masih Shin Shui yang kau kenal. Tidak berubah sedikitpun," kata Shin Shui.
__ADS_1
"Dirimu memang tidak berubah. Tapi kepribadianmu sedikit berubah,"
Hening sejenak. Phoenix biru terlihat menatap tajam Shin Shui, sedangkan pemuda biru itu memandang lesu padanya.
"Kau tahu Shui'er, aku lebih suka kau yang dulu. Mempunyai kepribadian kokoh bagaikan batu karang. Tidak mudah tergoda oleh apapun. Tapi sekarang? Setiap kau melihat wanita cantik, kau mulai tergoda secara tidak langsung. Apa kau pikir aku tak menyadari hal itu? Aku tahu. Tapi aku memilih untuk diam,"
"Yang paling mengecewakan adalah terkait Dua Bidadari Iblis itu. Menolong orang lain memang harus, bahkan wajib. Tapi percaya kepada ucapan orang asing haruslah kau pertimbangkan,"
"Aku tidak suka perlakuanmu seperti kepada dua wanita iblis itu. Dimana kau dengan mudahnya terkena bujik rayu mereka. Terkena bisikan setan sehingga menggoyahkan pondasimu yang kokoh. Dimana kau bisa dengan mudahnya percaya kepada mereka, bahkan tanpa penolakan kau menerima undangan mereka,"
"Apa maksudnya itu? Jika kau sudah tidak bisa berpegang teguh kepada pendirianmu, lebih baik kau tak usah hidup. Percuma menjalani hidup jika tidak punya keyakinan dan pijakan dalam hati,"
"Dengarkan bisikan hati kecilmu. Jangan mendengar bisikan lain. Bisikan hatimu merupakan sebuah kejujuran, tapi bisikan lain belum tentu,"
"Bisakah kau bayangkan betapa sakitnya perasaan wanitamu itu? Berteman dan berkenalan dengan siapapun boleh. Tapi menaruh kepercayaan jangan sembarangan, sewajarnya saja. Kau kenal dengan wanita pun Yun Mei takkan marah, asalkan tidak lebih,"
Kembali suasana hening. Shin Shui tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya air mata saja yang terlihat mulai menggenang. Bagaiamanapun juga, perkataan phoenix biru memang benar.
Dan itu tepat menusuk hatinya. Mengangkatnya dari sebuah jurang. Menyelamatkan dirinya dari sebuah "kehancuran".
__ADS_1
"Ma-maafkan aku, aku mengaku salah. Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi. Aku berjanji," kata Shin Shui sambil berusaha menahan air matanya.
"Kau tak perlu meminta maaf padaku. Minta maaflah kepada dirimu sendiri. Berjanjilah kepada dirimu sendiri. Siapapun lebih suka pembuktian daripada sebuah ucapan,"
"Apa kau membayangkan bagaimana jika aku tadi tidak berada disisimu? Sudah pasti kau sekarang telah tewas Shui'er. Kesalahan seperti ini memang kecil, tapi akibatnya amat besar," kata phoenix biru dengan tegas.
Shin Shui lagi-lagi dibuat bungkam. Dalam keadaan seperti ini, harus dia akui bahwa wibawa besar terpancar dari burung peliharaannya tersebut.
"Baiklah. Aku berjanji pada diriku sendiri," kata Shin Shui dengan lesu.
"Sudahlah. Bicarakan saja dengan dirimu sendiri, aku mau kembali," kata phoenix biru meminta untuk dimasukan kedalam Kantong Siluman.
Sekarang yang ada disana hanyalah dirinya sendiri. Shin Shui tidak tidur, dia memilih keluar dan bersandar dibawah pohon yang rimbun.
Pemuda biru itu memandang ke atas langit malam. Gemerlap bintang bertaburan diatas sana. Rembulan bersinar cukup terang, tapi tak lama tertutup awan kelabu. Sepertinya dia tidak mau menampakkan diri kepada Shin Shui. Entah malu ataupun marah seperti burung peliharaannya.
Shin Shui hanya bisa meratap dalam kesendirian. Dia memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh phoenix biru. Semua ucapannya memang benar. Dan dia amat menyesal.
Apalah gunanya jika hidup sudah tidak berpegang teguh kepada keyakinan sendiri? Manusia memang tak selamanya dalam posisi benar, ada kalanya manusia berada dalam posisi salah.
__ADS_1
Menaruh kepercayaan memang wajib, tapi kepada mereka yang sudah kau kenal betul. Jangan sembarangan memberikan sebuah kepercayaan, karena kepercayaan harganya sangat mahal.
Tak terasa Shin Shui pun terlelap dibawah sebuah pohon itu. Semilir angin malam dengan lembut menyapa tubuhnya. Dia tertidur bersama perasaan yang bercampur aduk.