Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Aku Orangnya


__ADS_3

Di kediaman Walikota Huan Xi, ada sekitar lima belas pendekar, dua belas dengan tingkatan Pendekar Surgawi tahap empat dan tiga lainnya merupakan Pendekar Dewa tahap dua, mereka semua adalah orang-orang Walikota Huan Xi.


Mereka adalah pendekar yang tidak mempunyai sekte, sehingga Walikota Huan Xi memberikannya tempat tinggal dan lainnya. Sebagai balasannya, mereka semua harus mengakui bahwa sang walikota itu adalah majikannya.


Para pendekar itu sedang menunggu di ruang tamu, mereka menanti perintah dari majikannya dan langkah apa yang harus ditempuh.


Walikota Huan Xi sedang mondar-mandir di dekat pintu kamarnya. Dia menantikan hasil pemeriksaan tabib terhadap anaknya, Huan Zi. Tak lama, tabib itu segera keluar dari kamar walikota untuk memberitahu hasil pemeriksaannya.


"Bagaimana tabib? Puteraku baik-baik saja kan? Dia bisa diselamatkan?" tanya Walikota Huan Xi dengan cemas sembari memegang bahu tabib itu. Jelas, bahwa dia mengharap akan mendapatkan kabar baik tentang kondisi anak kesayangannya.


"Tentu tuan, puteramu masih bisa terselamatkan. Tetapi …" tabib itu berhenti ditengah-tengah perkataannya. Dia nampak kebingungan harus memberi jawaban apa. Dia takut Walikota yang terkenal kejam itu akan marah kepadanya.

__ADS_1


"Tetapi apa tabib? Cepat katakan, aku tidak akan melukaimu, percayalah. Asalkan puteraku bisa diselamatkan," Walikota semakin panik. Tatapannya menampilkan perpaduan antara kemarahan dan kekhawatiran.


"Tetapi mungkin membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk membuat tuan muda sembuh total. Dia harus sering diberikan banyak sumber daya yang mempunyai khasiat memulihkan tenaga dalam. Sebab, jalur tenaga dalamnya banyak yang terputus. Kemungkinan besar tuan muda tidak bisa menggunakan seluruh tenaga dalamnya kelak. Dia hanya bisa menggunakan setengah dari tenaga dalamnya," tabib itu memberikan penjelasan panjang lebar kepada Walikota dengan sedikit ketakutan.


"Ti-tidak … anakku pasti akan baik-baik saja. Kalian, cari orang yang sudah membuat putramu seperti ini, pastikan kalian membunuhnya dan membawa kepalanya untukku," Walikota memerintahkan pasukannya dengan amarah yang meluap-luap.


Tangannya mengepal dan menggebrak meja, seketika itu juga meja yang ia gebrak hancur berkeping-keping. Bagaimanapun juga, Walikota Huan Xi adalah mantan seorang pendekar. Saat ini dia berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap tiga akhir. Jadi dia sedikit banyak faham apa yang dikatakan tabib itu.


Para pasukannya yang berjumlah lima belas orang langsung melesat menuju tempat Restoran Jingga, dimana restoran itu adalah lokasi terjadinya pertarungan yang menyebabkan putra sang Walikota terluka cukup parah.


Shin Shui sudah selesai mengisi perutnya, dia berniat untuk menyaksikan keindahan matahari terbenam. Lokasinya tidak jauh dari Restoran Jingga, kira-kira hanya sekitar satu kilometer.

__ADS_1


Namun sebelum ia melangkahkan kaki untuk keluar, terlihat dua orang berpakaian pendekar datang kepada kasir dan menanyakan sesuatu. Melihat hal itu, Shin Shui mengurungkan niatnya, dia kembali duduk, tapi di kursi yang berbeda.


"Heh …, apakah kau tahu siapa orang yang sudah melukai pengawal dan tuan muda Huan Zi?" tanya salah seorang pendekar itu kepada kasir.


Kasir itu tersentak kaget, dia bingung antara akan menjawab atau tidak. Wajahnya jelas memperlihatkan bahwa sekarang dia sedang kebingungan dan ketakutan. Kasir itu tidak bisa bicara, dia terdiam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya sebuah suara memecah keheningan.


"Aku orangnya. Kenapa senior sekalian mencariku?" jawab seorang pemuda dari arah tempat duduk para pelanggan. Pemuda itu bukan lain adalah Shin Shui.


"Hemmm …" pendekar itu memicingkan mata ke arah Shin Shui. Lalu pandangannya berbalik ke arah kasir lagi. "Apa benar pemuda itu yang melakukannya?" tanyanya dengan sedikit marah.


"Be-benar tuan. Pendekar muda itu yang melakukannya," jawab kasir itu. Dia bingung harus berbohong tentang apa, terpaksa dia mengiyakan hal itu. Dengan sedikit harapan bahwa pendekar muda atau lebih tepatnya Shin Shui tidak menuntut balas kepadanya.

__ADS_1


"Kau … bocah kemarin sore sudah mencari masalah," dia mengeratkan giginya, rahangnya sedikit mengembung.


"Aku memang anak kemarin sore paman … hehe." Shin Shui tersenyum, senyumannya seolah mengejek para pendekar yang ada di sana.


__ADS_2