Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Dibawah Pohon Sakura


__ADS_3

"Tentu saja boleh, kau bisa berlatih apapun disini Mei'er. Jika nanti kau sudah kuat, maka calon suamimu yang tak lain adalah Shui'er tentunya akan merasa bangga … hahaha," kata Yashou menggoda para muda-mudi itu.


"Senior …" ucap Shin Shui dan Yun Mei secara bersamaan.


"Boleh, bahkan harus. Kalau bisa kau berlatihlah menggunakan pedang. Kalau tidak salah aku memiliki kitab pedang hebat yang tersimpan didalam Cincin Ruang pemberian guru, nanti aku perlihatkan kepadamu." kata Shin Shui.


Sebenarnya jika pemuda biru itu ingin belajar jurus lebih banyak lagi bukanlah hal sulit, apalagi didalam Cincin Ruang yang merupakan warisan dari Lao Yo terdapat banyak kitab-kitab jurus dan silat.


Tapi Shin Shui tidak mau melakukannya, sebab menurut pemuda itu tidak baik belajar terlalu banyak jika yang sering digunakam saja belum dikuasai sepenuhnya.


###


Ditempat lain …


Kabar terbunuhnya anggota keluarga Liu sekaligus pemimpinnya sudah sampai ke istana kekaisaran. Awalnya Kaisar Wei An kaget mendengarnya, tapi setelah tahu siapa pelakunya kaisar muda itu akhirnya faham. Terlebih karena dia sudah mengetahui alasan Shin Shui melakukan hal itu.


"Pahlawan muda ini benar-benar misterius, siapa dia sebenarnya? Kekuatannya benar-benar diluar nalar." Kaisar Wei An bergumam sendiri di ruangannya.


Keadaan di istana saat ini pun cukup baik, tidak ada masalah berarti yang terjadi. Hal ini terjadi karena Kaisar Wei An mempimpin negerinya dengan adil dan bijaksana.


Meskipun dia tidak sebaik ayahnya, Wei Lhuo, ketika menjalankan pemerintahan. Tapi setidaknya dia sudah mengikuti mendiang ayahnya tersebut, terlebih dia melakukan apa yang dulu sering dilakukan olehnya.


Kehidupan rakyat sejahtera, ekonomi stabil, keamanan, dan lain sebagainya sekarang sudah jauh membaik daripada waktu ketika kekaisaran diserang oleh aliansi aliran hitam yang dikomandoi oleh sekte Lembah Beracun beberapa tahun silam.

__ADS_1


Inilah yang diinginkan setiap rakyat di negeri manapun. Mereka menginginkan pemimpin yang adil dan bijaksana, menjalankan pemerintahan dengan jujur dan transparan.


Tidak terjadi korupsi dan hal lainnya yang bisa menghancurkan negeri, apabila pemimpin sudah berlaku demikian dan menjalankan pemerintahan dengan benar tentunya, maka kehidupan di negeri itu pasti akan sangat stabil.


Rakyat akan sejahtera, pemimpin akan merasa berhasil dalam menjalankan tugasnya. Inilah kondisi dimana suatu negeri yang disebut makmur dan sejahtera.


###


Hari telah berganti, kondisi di Perguruan Bukit Awan tidak ada yang berubah kecuali dari segi kekuatan dan kebahagiaan. Mereka semua kini merasa lebih bahagia semenjak adanya Shin Shui dan Yun Mei.


Pasalnya karena kebutuhan sumber daya benar-benar ditanggung oleh pemuda biru itu. Para murid yang tadinya hanya Pendekar Bumi tahap dua kini sudah mengalami peningkatan menjadi Pendekar Bumi tahap tiga.


Kini Shin Shui dan Yun Mei sedang berada dibawah sebuah pohon sakura. Mereka sedang menikmati hembusan angin yang menerpa tubuh keduanya yang mirip seperti belaian lembut.


Sebenarnya Shin Shui berniat untuk menemani Yun Mei berlatih ilmu pedang, tapi karena lembutnya belaian angin membuat keduanya memilih untuk menikmati terlebih dahulu.


Dalam keadaan seperti ini, alam pun seolah mendukung pasangan muda-mudi yang kini terbuai dalam kenikmatan suasana dibawah pohon sakura itu. Cukup lama mereka seperti itu, bahkan Shin Shui sempat tertidur sejenak.


Memang, ketika cuaca panas seperti ini, maka hembusan anginlah yang menjadi jalan keluarnya. Apalagi menikmatinya di alam terbuka seperti Shin Shui dan Yun Mei. Teriknya panas matahari pun seperti tidak terasa saking nikmatnya kita dimanja oleh sang angin.


"Shushi bangun, kenapa kau malah tidur. Katanya mau melatihku bermain pedang," kata Yun Mei sembari menggoyangkan tubuh Shin Shui.


Karena terus-menerus digoyang-goyangkan, akhirnya pemuda biru itu bangun. "Hoammm … ada apa Yun Mei? Aku sedang menikmati angin sepoi-sepoi ini," ucap Shin Shui berniat untuk kembali tidur.

__ADS_1


"Shushiii …" Yun Mei agak berteriak didekat telinga Shin Shui.


"Hahhh … Shushi? Siapa itu?" Shin Shui kebingungan.


Shushi? Siapa dia? Bukankah tidak ada yang bernama Shushi? Apakah Yun Mei lupa dengan nama pemuda yang kini bersamanya? Entahlah.


"Iya Shushi. Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan nama Shushi," kata Yun Mei sembari tersenyum.


"Kau ini senang merubah nama orang," kata Shin Shui sedikit ketus. "Kalau begitu aku akan memanggilmu Meimei," kata Shin Shui sembari tertawa.


"Heiii- …" Shin Shui segera memotong ucapan Yun Mei. "Jangan menolak, pokoknya aku akan memanggilmu Memei," kata Shin Shui.


"Sudah-sudah, ayo kita berlatih pedang. Ini … aku berikan kitab bernama Tarian Dewi Pedang kepadamu. Berlatihlah dengan serius," kata Shin Shui seraya memberikan sebuah kitab yang berisi jurus-jurus bermain pedang kepada Yun Mei.


Kitab yang diberikan Shin Shui itu terlihat sudah sangat tua. Kitab Tarian Dewi Pedang tidaklah besar. Paling hanya setebal beberapa cm saja. Dibagian sampulnya terlihat ada gambar seorang wanita sedang memegangi sebuah pedang.


Yun Mei mulai membuka kitab yang diberikan oleh Shin Shui, dengan perlahan gadis itu membuka halaman demi halaman. Setiap dia membuka halaman baru raut wajahnya selalu menampilkan ekspresi yang berbeda. Hal ini terjadi karena mungkin memang dia batru pertama kalinya memegang sebuah kitab kuno, apalagi kitab yang dia pegang saat ini termasuk kitab dengan ilmu tinggi.


“Aku tidak mengerti bagaimana melakukannya Shushi, ini sungguh rumit,” Yun Mei merengek kepada Shin Shui.


“Hei ayolah, kau baru saja memegang kitab itu. Bagaimana mungkin kau akan mengerti? Berlatihlah dengan serius supaya kau menjadi pendekar wanita yang hebat nantinya,” kata Shin Shui memberikan semangat kepada Yun Mei.


“Iya maaf, aku akan mencoba memahaminya lagi,” ucap Yun Mei.

__ADS_1


Mau tidak mau akhirnya gadis itu membuka kembali Kitab Tarian Dewi Pedang dan mencoba memahami apa yang dimaksud didalamnya. Waktu terus berlalu, Yun Mei terus mencoba memahami kitab itu. Perlahan-lahan dia mulai faham apa dan mengerti.


“Kau sudah mulai mengerti sekarang? Ingat Meimei, semua itu bisa karena biasa. Aku dulu juga sama sepertimu, tapi guru terus memaksaku hingga akhirnya aku seperti sekarang ini,” kata Shin Shui.


__ADS_2