Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Tiba di Hutan Perbatasan Selatan


__ADS_3

Tak terasa Shin Shui tertidur bablas sampai terang tanah. Dia terbangun ketika sinar mentari pagi menyinari wajahnya dan suara burung sudah ramai terdengar.


Shin Shui duduk dulu untuk sekedar 'mengumpulkan nyawa'. Setelah itu, dia masuk lagi ke rumah bekas Dua Bidadari Iblis untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai, Shin Shui tidak langsung pergi darisana. Dia mencari-cari sesuatu yang mungkin berharga baginya. Beberapa saat kemudian, pemuda biru itu menemukan sebuah peti yang berisikan kepingan emas.


"Tidak kusangka, ternyata mereka cukup kaya," gumam Shin Shui lalu memasukan peti emas itu le Cincin Ruang miliknya.


Setelah semuanya selesai, pemuda biru itu mengeluarkan burung phoenix biru dari Kantong Siluman lalu pergi untuk melanjutkan perjalanannya yang tertunda.


"Phoenix biru, apakah perbatasan selatan masih lumayan jauh?" tanya Shin Shui ditengah perjalannya.


"Tidak. Dua hari lagi kita akan sampai di hutan perbatasan yang menjadi tujuan kita. Karena itulah, kau tidak mempunyai banyak waktu lagi. Waktumu semakin terbatas Shui'er," jawab phoenix biru yang kini sudah tidak marah lagi.


"Hemmm … baiklah. Aku akan bergerak lebih cepat lagi daripada sekarang," kata Shin Shui.


"WUSHH …"


Kini Shin Shui bukan saja berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melainkan dia terbang bersama burung phoenix biru.


###


Waktu berjalan terus tanpa berhenti. Tak terasa sudah dua hari Shin Shui melakukan perjalanannya untuk menuju ke hutan perbatasan selatan untuk mencari Bunga Seribu Khasiat.


Selama perjalanannya kemarin, untunglah tidak ada hal yang menghambat keduanya. Sehingga pagi-pagi sekali, Shin Shui dan phoenix biru sudah tiba di sisi sebuah hutan yang sangat luas sekali.


Meskipun Shin Shui tidak tahu dan belum pernah sama sekali menginjak perbatasan selatan yang berupa sebuah hutan, namun pemuda biru itu tidak tersesat. Hal ini tak lain karena ada phoenix biru yang menjadi penunjuk jalan.


"Phoenix biru, apa kau yakin ini tujuan yang kita maksudkan?" tanya Shin Shui sambil mengamati hutan yang amat luas itu.


"Aku tidak mungkin salah Shui'er. Meskipun aku belum pernah kesini, tapi aku sudah punya gambaran," jawab phoenix biru.

__ADS_1


"Hemmm … baiklah. Kita langsung masuk ke dalam hutan atau bagaimana?"


"Langsung masuk saja. Lebih cepat lebih baik, karena nanti perjalanan untuk mengambil Bunga Seribu Khasiat itu tidaklah mudah. Seperti yang aku jelaskan beberapa waktu lalu, didalam hutan sana ada sebuah kerajaan hutan. Dimana rajanya adalah seorang manusia yang sejak kecil dibesarkan oleh para binatang dan siluman," kata phoenix biru mengingatkan Shin Shui.


"Baiklah. Mari kita masuk kesana," ajak Shin Shui.


Keduanya lalu masuk perlahan ke dalam hutan yang sangat luas itu. Entah berapa hektar luasnya. Hutan ini tidak dikuasai oleh pihak manapun.


Karena hutan ini menjadi perbatasan antara kekaisaran Wei dan kekaisaran Sung. Kekaisaran Sung sendiri mempunyai hubungan baik dengan kekaisaran Wei. Jadi selama ini, keduanya bisa menjalin hubungan tanpa adanya perselisihan.


Tapi karena keadaan masing-masing kaisar sibuk dengan urusan pemerintahannya, kedua belah pihak jadi jarang bertemu kecuali utusan-utusannya jika ada suatu hal yang penting.


Perlahan tapi pasti, Shin Shui semakin masuk ke dalam hutan. Hutan perbatasan selatan itu nampak gelap. Karena sinar mentari tidak bisa masuk sepenuhnya ke dalam hutan kecuali lewat celah-celah daun.


Pohon menjulang tinggi disebelah kanan dan kiri. Pohon-pohonnya amat rindang. Suara burung-burung dan binatang liar mulai terdengar menggema di seluruh penjuru hutan.


"Shui'er, keluarkan San ong dan Ong san. Semakin dalam, kita akan semakin dekat dengan mara bahaya," kata phoenix biru menyuruh Shin Shui untuk mengeluarkan dua siluman kera bersaudara itu.


"Baiklah, aku akan mengeluarkan mereka," jawab Shin Shui.


"San ong, Ong san, pasang telinga kalian baik-baik. Perhatikan sekeliling kalian, karena disini bahaya selalu mengincar," kata phoenix biru.


"Baik senior," jawab siluman kakak beradik itu.


Shin Shui dan ketiga hewan peliharaannya berjalan dengan hati-hati. Karena semakin dalam, ternyata suara-suara siluman dan binatang buas semakin memekakkan telinga.


"ROARR …"


Tiba-tiba sebuah suara seperti auman seekor harimau menggema diseluruh hutan. Keempatnya menghentikan langkah, mereka lalu mengamati keadaan sekitarnya.


Tidak ada apa-apa. Kecuali hanya semilir angin yang dingin merasuk ke tulang. Sunyi sepi. Suara-suara binatang lain langsung lenyap setelah mendengar suara auman harimau itu.

__ADS_1


"ROARR …"


Suara yang membuat bulu kuduk berdiri kembali terdengar. Kali ini suaranya mirip seekor singa. Shin Shui dan tiga hewan peliharaannya semakin waspada. Mereka mulai merasakan hawa pembunuh yang cukup kuat berada disekitarnya.


Lalu tak berapa lama kemudian, tiba-tiba dari depan sebelah kanan dan kiri mereka, dua ekor raja hutan melompat secara bersamaan. Seekor harimau berbulu biru dan hitam keluar dari sebelah kiri. Sedangkan dari sebelah kanan keluar seekor singa berbulu merah bagaikan api yang membara.


Ukuran kedua raja hutan itu tidak biasa. Hampir dua kali lipat ukuran kerbau dewasa. Keduanya memandang Shin Shui dan tiga peliharaannya secara tajam penuh kebencian.


Menandakan bahwa dua raja hutan itu tidak suka atas kedatangan orang asing.


"***ROARR …"


"ROARR*** …"


Harimau biru dan Singa merah itu mengaum secara bersamaan hingga menimbulkan deru angin yang kencang menerpa Shin Shui dan yang lainnya.


"Hati-hati. Sudah pasti kedua siluman itu tidak suka atas kehadiran kita," kata phoenix biru.


Shin Shui dan dua siluman kera bersaudara itu mengangguk. Mereka pun sudah siap jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Tenanglah kawan. Kami hanya numpang lewat, kami tidak akan mengganggu jika kalian tidak mengganggu," kata Shin Shui sambil melangkah ke depan.


Kedua siluman itu tidak menjawab. Yang ada malah keduanya semakin menatap tajam ke arah Shin Shui.


"***ROARR …"


"ROARR*** …"


Mereka mengaum kembali dengan ganasnya. Seolah ingin menunjukkan taring-taring yang tajam dan kekuatan mereka yang mengerikan.


Shin Shui hanya membalasnya dengan senyuman. Dia melangkah lagi ke depan secara perlahan, tapi ketika semakin dekat jaraknya, tiba-tiba dua raja hutan itu melompat menerkam Shin Shui.

__ADS_1


###


Maaf up nya agak lambat. Nunggu mood dulu soalnya hehe😁🙏satu lagi nanti yah. Kalo engga, pas malem sekalian up tiga. Mohon dimengerti🙏


__ADS_2