
Shin Shui sudah selesai sarapan, dia menikmati arak sebentar. Setelah merasa cukup, pemuda biru itu lalu membayar dan beranjak pergi dari restoran tersebut.
Shin Shui merasa sudah tidak bisa bersantai lagi. Karena dia mengingat orang-orang yang terluka parah di istana kekaisaran sana, dia merasa bahwa kondisi mereka pasti semakin parah.
Pemuda biru itu kali ini tidak berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh, melainkan memilih untuk terbang bersama burung phoenix biru.
Perjalanan keduanya sama seperti biasa, mereka terbang begitu tinggi dan cepat. Shin Shui jarang berhenti jika bukan untuk melakukan kebutuhan utamanya seperti makan dan membersihkan diri.
Bahkan selama melakukan perjalanan, Shin Shui tidak pernah lagi menginap. Melainkan dia memilih untuk tidur dimana saja. Kadang disebuah hutan, kadang juga dia tidak tidur hingga dua hari.
Sepuluh hari sudah berlalu, selama perjalanannya kembali ke istana kekaisaran, Shin Shui tidak menemui masalah yang berarti. Paling hanya ada kejadian-kejadian kecil saja.
"Phoenix biru, kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai ke istana kekaisaran?" tanya Shin Shui.
"Sekitar dua jam lagi kita akan sampai ke istana kekaisaran Shui'er. Tepat ketika matahari terbenam, kita akan sampai," jawab phoenix biru.
"Baiklah, mari kita percepat …"
"WUSHH …"
Keduanya lalu mempercepat laju terbangnya. Sehingga mereka terlihat seperti bayangan biru yang melesat dilangit yang mulai memerah karena matahari akan terbenam.
Perkiraan phoenix biru memang tidak diragukan lagi. Tepat ketika matahari terbenam, keduanya sudah tiba di gerbang istana kekaisaran.
Mereka langsung disambut penuh penghormatan oleh para penjaga. Shin Shui membalas penghormatan para penjaga lalu masuk ke dalam tanpa banyak bicara.
Kondisi di istana kekaisaran tidak banyak yang berubah. Kecuali bekas tempat perang yang mulai kembali seperti normal. Juga bangunan-bangunan yang rusak, kini sudah kembali seperti semula.
__ADS_1
Keadaan didalam istana kekaisaran pun ramai seperti biasanya. Sudah banyak para penjaga yang melakukan pekerjaan mereka seperti sebelum terjadinya perang besar.
Shin Shui dan phoenix biru sudah sampai digerbang terakhir. Mereka disambut meriah oleh orang-orang yang sudah menunggu kepulangannya.
"Selamat datang pahlawan kekaisaran Wei. Bagaimana kabar anda?" tanya jendral Gui Huo yang menyambut Shin Shui bersama sepuluh pengawal.
"Aku baik-baik saja jendral. Bagaimana denganmu sendiri? Dan bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Shin Shui.
"Akupun baik-baik saja. Yang lain pun sama, hanya saja mereka yang terluka parah keadaannya semakin buruk," kata jendral Guo Huo sambil berjalan bersama Shin Shui memasuki istana.
"Silahkan masuk ke ruangan tempat biasa rapat pahlawan, kaisar dan yang lain sudah menunggu didalam," kata jendral Gui Huo.
"Baik jendral. Terimakasih." kata Shin Shui lalu masuk ke dalam.
Ternyata benar saja, didalam sudah berkumpul orang-orang penting. Diantaranya adalah Kaisar Wei An, adik kaisar, Wei Li, sang ibu dari kaisar. Yashou dan ketiga muridnya, tak lupa juga ada wanita cantik bernama Yun Mei yang paling menunggu kembalinya Shin Shui.
Pemuda biru itu tidak banyak bicara. Dia hanya tersenyum dan mencium kening wanita pujaannya.
"Silahkan duduk pahlawan," kata Kaisar Wei An.
"Terimakasih kaisar."
Shin Shui duduk pada sebuah kursi kehormatan yang dikhususkan untuk dirinya. Mereka semua menyantap makanan terlebih dahulu sebelum melakukan pembicaraan lebih lanjut lagi.
Setelah selesai, barulah pembicaraan yang penting dimulai.
"Kepala tetua, apa kau berhasil mendapatkan Bunga Seribu Khasiat?" tanya Yashou tanpa basa-basi lagi.
__ADS_1
"Tentu tetua Yashou. Aku berhasil mendapatkannya," jawab Shin Shui.
Sambil menjawab, pemuda biru itu sambil melihat ke seluruh isi ruangan. Seperti ada yang tidak hadir, tapi entah siapa. Ah … gurunya. Ya, benar. Gurunya, Lao Yi, tidak ada dalam ruangan itu.
"Tetua Yashou, dimana guruku? Kenapa dia tidak terlihat hadir," tanya Shin Shui penasaran.
"Gurumu sudah kembali lagi. Karena waktunya sudah habis. Baru beberapa hari lalu dia kembali," jawab Yashou.
"Ahhh …" Shin Shui nampak kecewa. Wajahnya sedikit muram, tapi dia tidak bicara lebih. Karena bagaimanapun, dia faham akan gurunya itu.
"Gurumu tidak berkata apa-apa, dia hanya menitipkan sebuah surat dan benda ini untukmu," kata Yashou menghampiri Shin Shui sambil memberikan sesuatu.
Ternyata gurunya menitipkan sebuah surat dan sebuah kalung. Kalung berbentuk kristal. Mirip seperti Kalung Kristal Halilintar, tapi warnanya bukan biru.
Melainkan putih, dan didalamnya ada simbol dua buah halilintar berwarna putih dan biru. Sehingga kalung itu terlihat semakin menarik.
Tanpa banyak bicara lagi, Shin Shui lalu membaca surat yang dikhususkan untuk dirinya itu. Kalung pemberian gurunya dia gengam di tangan kanan.
"Shui'er, guru pergi dulu. Entah kita akan berjumpa lagi atau tidak. Maaf, guri tidak bisa memberikan apa-apa untukmu, guru hanya bisa memberikan kalung ini. Kalung yang guru berikan, guru beri nama Kalung Legenda. Dalam kalung ini, kau bisa menemukan kenangan-kenangan kita berdua. Kalung Legenda ini sudah aku ikatkan antara dirimu dan diriku. Sehingga jika kau dalam bahaya besar, maka akan ada sesuatu yang mengejutkanmu. Ingat selalu pesan guru, jangan pernah menyerah dalam menjalani kehidupan ini."
Dari aku, gurumu, Lao Yi.
Setelah selesai membaca surat tersebut, Shin Shui langsung memasukan surat itu ke dalam Cincin Ruang. Sedangkan Kalung Legenda, langsung dia pakai saat itu juga.
Ada perasaan tenang dan hangat ketika kalung itu sudah dia pakai. Bahkan dia merasa bahwa gurunya berada disisinya.
###
__ADS_1
Dua lagi nanti nyusul ya😁semoga terhibur🙏