Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Rasa Rindu Yang Terlaksana


__ADS_3

Pertarungan antara pendekar misterius bertopeng dan salahsatu pendekar legenda masih berlangsung. Orang-orang yang hadir disana nampak antusias sekali. Sangat jarang sekali ada pertarungan seperti ini.


Tapi di sisi lain, rasa khawatir yang ada didalam diri masing-masing semakin besar. Rasa penasarannya pun semakin bertambah. Entah siapa pendekar bertopeng itu, karena hingga sekarang belum ada yang mengetahuinya.


Di arena pertandingan, pendekar bertopeng dan Yashoi terus melakukan adu ilmu silat legendaris. Pendekar bertopeng itu menyerang Yashou dengan gerakan yang tidak jelas. Seperti orang mabuk. Serangannya bahkan sempoyongan, tapi tentunya sangat mematikan.


Di sisi lain, Yashou tak mau kalah. Jurus ilmu silat Belakang Sembah miliknya terus dikeluarkan satu-persatu. Mulai dari yang terendah hingga ke tingkat yang tinggi. Entah sudah berapa lama mereka bertarung, yang jelas sejauh ini belum ada yang kewalahan.


Yashou mulai geram, pendekar tua itu mulai mengeluarkan ilmu silat Belalang Sembah tahap akhir. Yaitu 'Belalang Sembah Menghancurkan Bukit'. Gerakannya semakin cepat, kedua tangannya terus bergerak dan mengincar bagian vital lawannya.


Pendekar bertopeng itu pun tak tinggal diam. Dia juga mulai mengeluarkan ilmu silat Jurus Dewa Mabuk tahap terakhir. Yaitu 'Dewa Mabuk Mengejar Anggur'. Gerakkannya semakin tidak beraturan. Tapi pukulan tenaga dalam yang dihasilkan lebih hebat daripada sebelumnya.


Pendekar bertopeng terus menyerang Yashou. Gerakannya yang tidak karuan itu ternyata efektif untuk menipu musuh. Dia hendak memukul wajah Yashou dengan keras. Yashou sudah siap untuk menangkis pukulan itu.


Sayang, itu hanya tipuan saja. Yang ada pendekar bertopeng menjatuhkan dirinya. Tapi tak lama dia mulai berdiri dengan terbalik. Tangan dibawah, kaki diatas sedang menyerang Yashou. Bahkan serangan itu jauh lebih hebat daripada pukulan kedua tangannya.


Pendekar itu terus berjalan menggunakan tangan sembari menyerang tanpa henti. Yahsou sudah mulai terpojok secara perlahan karena menerima serangan yang tak kunjung usai. Hingga akhirnya …


"Ughhh …"


Sebuah tendangan dengan telak menghantam dadanya. Orang tua itu terpental ke belakang beberapa tombak. Darah segar terlihat sedikit keluar dari ujung mulutnya. Pendekar tua itu segera mengelap darah yang terus keluar. Sedangkan pendekar bertopeng sendiri sudah kembali dengan posisi yang benar.

__ADS_1


Orang-orang yang sedari tadi melihat dengan mata tidak berkedip kembali merasa kaget. Kaget karena salah satu pendekar legenda berhasil dilukai dalam bermain ilmu silat.


Kini Yashou sudah siap untuk melanjutkan pertarungan yang berhenti beberapa saat. Pendekar tua itu berniat untuk mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya kali ini.


Yashou sudah siap. Dia segera berniat untuk kembali menyerang pendekar bertopeng. Tapi sebelum itu terjadi, tiba-tiba pendekar bertopeng yang kini menghentikan pertarungan diantara keduanya.


"Berhenti. Sudah cukup senior," kata pendekar bertopeng tersebut.


Yashou yang kaget dengan perkataan pendekar bertopeng itu langsung menghentikan serangannya.


'Senior? Sepertinya aku kenal dengan suara tersebut. Tapi dimana ya aku sering mendengar orang yang mirip dengan suara barusan.' batin Yashou.


Awalnya pendekar tua itu kebingungan ketika sedang mencari tahu siapa pendekar bertopeng tersebut. Suaranya sangat mirip seperti Shin Shui. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Apa lagi dia sudah menguasai Jurus Dewa Mabuk dengan sangat sempurna dan cukup mengguncangkan dunia persilatan.


Pendekar bertopeng tidak menjawabnya. Dia masih terdiam, terlihat dia melemparkan senyum dibalik topengnya. Dengan segera pendekar bertopeng itu membuka topengnya secara perlahan-lahan.


"Aku memang Shin Shui senior," ucap pendekar bertopeng yang tak lain adalah Shin Shui dengan diiringi senyuman kerinduan.


Yashou langsung mendekat dan segera memegangi wajah serta pundak Shin Shui. Pendekar tua itu belum percaya sepenuhnya. Pasalnya dia sudah melihat kemampuan pemuda biru itu. Ah tidak, bukan melihat. Melainkan merasakannya sendiri.


Bagaimana mungkin dia bisa mengalami peningkatan yang sangat dan sangat pesat hanya dalam kurun waktu tiga tahun? Apalagi sekarang sudah menguasai Jurus Dewa Mabuk. Setiap pendekar berbakat yang mempelajari silat itu setidaknya butuh sekitar waktu minimal empat tahun. Itupun belum sempurna sepenuhnya. Sedangkan Shin Shui? Sulit dijelaskan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Kauuu … kau benar Shui'er?" tanya sekali lagi Yashou. Dia mengira ini adalah mimpi. Tapi ini memang kenyataan yang sedamg terjadi saat ini.


"Benar senior." balas Shin Shui.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Yashou segera menghampiri dan memeluk Shin Shui dengan sangat erat. Rasa rindunya kini sudah tersampaikan, bahkan momennya pun sangat tepat sekali. Momen yang bahagia dan rasa rindu pun terlaksana.


Di sisi lain, para tetua sekte Bukit Halilintar yang menyadari hal ini langsung mendekat ke arena pertandingan. Mereka merasakan hal yang sama, rasa rindu kepada pemuda biru yang merubah segalanya sudah lama disimpan di hati masing-masing.


Secara bergantian mereka berpelukan dengan Shin Shui. Kehangatan di sekte Bukit Halilintar sepertinya akan kembali lagi setelah Shin Shui kini sudah hadir di tengah-tengah mereka.


Bahkan para tetua dan kepala tetua yang mengenal siapa itu Shin Shuin langsung melompat ke arena pertandingan. Semuanya berpelukan dan berjabat tangan dengan Pendekar Halilintar itu. Termasuk Ye Rou.


"Kau sudah besar Shui'er. Bahkan kau lebih tampan dari terakhir kita bertemu. Aku tidak menyangka dalam usia yang masih muda kau sudah memiliki nama di dunia persilatan," ucap Ye Rou sembari memegangi kedua pundak Shin Shui.


"Ahhh … senior Ye terlalu berlebihan. Terimakasih senior sudah sudi datang pada acara ini," kata Shin Shui. Tak lupa senyuman khasnya dilemparkan kepada Ye Rou, sehingga membuat kepala tetua sekte Teratai Putih itu cukup tertegun saat melihatnya.


Kini orang-orang disana sedang berada dalam suasana bahagia. Sangat bahagia, mereka seperti mendapatkan harapan baru. Terlebih karena sudah mengetahui siapa pendekar bertopeng yang membuat semua orang-orang disana kagum atas kekuatannya.


Tapi disisi lain, bagi para penyusup anggota aliran hitam yang hadir ini adalah mimpi yang sangat buruk bagi mereka. Bagaimana tidak, ada seorang pendekar muda yang berkemampuan tinggi.


Bahkan kemampuannya bisa menyaingi seorang salahsatu pendekar legendaris. Tentu saja ini menjadi masalah besar bagi mereka, bisa jadi sekte Bukit Halilintar menjadi incaran para sekte aliran hitam karena adanya Shin Shui.

__ADS_1


__ADS_2