
Sekarang Shin Shui sudah berada jauh dari rumah Kwei Moi. Bahkan sebentar lagi pemuda biru itu akan keluar dari kota Qin-Dong. Tepat, dia akan menuju ke gunung San-Ong.
Seperti biasa, Shin Shui tidak sendiri lagi. Melainkan dia ditemani oleh phoenix birunya. Selang beberapa saat kemudian, Shin Shui sudah berada jauh diluar kota Qin-Dong.
Meskipun dia sudah ditemani oleh burung phoenix biru, tapi entah kenapa pemuda biru itu masih merasakan kesepian. Tidak seperti biasanya.
Sepanjang perjalanan Shin Shui terlihat sering melamun saja. Bahkan bicara dengan phoenix birunya pun jarang jika tidak ada hal penting.
Entah kenapa, semenjak kehadiran Kwei Moi, perjalanannya beberapa waktu lalu terasa tenang. Tapi setelah berpisah, dia merasa sepi kembali.
Rasa itu sangat persis ketika dia baru saja berpisah dengan Yun Mei. Apakah karena sifat kedua wanita itu hampir mirip? Ataukah ada perasaan lainnya? Entah … Shin Shui pun tak mengerti akan hal itu.
Waktu terus berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa juga bahwa Shin Shui sudah melakukan perjalanannya selama kurang lebih dua belas hari. Ini artinya, dua hari lagi dia akan sampai di tujuan akhirnya. Yaitu gunung San-Ong.
Selama perjalanan, pemuda biru itu tidak banyak berhenti seperti halnya ketika dengan Kwei Moi. Dia berhenti paling hanya untuk mengisi perut dan juga membersihkan diri saja.
Saat ini hari sudah malam hari. Sepanjang hari dia mencari-cari sebuah desa tapi tak kunjung ketemu juga. Sekarang pun Shin Shui sedang berjalan didalam hutan yang menyeramkan.
__ADS_1
Entah apa namanya hutan itu. Yang jelas, semenjak beberapa hari lalu dia memasuki hutan, belum ketemu ujungnya hingga sekarang ini. Yang dia temukan hanyalah hutan dan hutan lagi.
Terpaksa pemuda biru itu harus menyusuri hutan tersebut dibawah gelapnya malam. Suara binatang malam terdengar saling bersahutan. Bahkan tak jarang suara binatang buas pun terdengar pula.
Tapi itu bukanlah hal yang berarti bagi Shin Shui, gunung Siluman pun dia tak takut. Apalagi hanya hutan seperti ini? Kira-kira begitu isi pikiran Shin Shui saat ini.
Satu hal yang harus Shin Shui akui. Bahwa sepanjang hidupnya, baru kali ini dia menemukan sebuah hutan yang demikian luasnya.
Hari pun sudah masuk tengah malam, rembulan bersinar terang. Awan-awan putih seperti tersenyum padanya. Karena cuaca yang mendukung, Shin Shui pun berniat untuk beristirahat disana.
Dia menncari kayu-kayu kering untuk dijadikan sebuah api unggun dan sebagai penerangan. Atau mungkin untuk menghangatkan suhu tubuhnya. Karena semakin malam, hawa dingin pun semakin menusuk tulang.
Karena semua inderanya sudah terasah dengan baik layaknya pisau yang tajam, maka Shin Shui pun langsung saja waspada. Rasa ngantuknya hilang seketika itu juga.
Matanya yang tajam dikegelapan lalu mengamati keadaan dari semua sudut. Awalnya Shin Shui tidak menemukan apa-apa, tapi tidak berselang lama, pemuda biru itu melihat ada sebuah pergerakan dari semak-semak.
"Siapapun yang disana, harap segera keluar. Karena aku sudah bisa merasakan energimu," kata Shin Shui yang sudah merasakan ada energi cukup besar dari semak-semak tersebut.
__ADS_1
Benar saja, selang beberapa saat saja, ada tiga orang yang keluar dari semak-semak itu. Ternyata mereka juga manusia, tapi penampilannya sangat aneh da berbeda dari manusia pada umumnya.
Tiga orang itu tidak memakai baju. Mereka hanya menggunakan celana yang terbuat dari kulit hewan. Di atas kepalanya ada penutup kepala yang terbuat dari bulu burung merak. Masing-masing dari mereka juga membawa sebatang tombak. Mata tombaknya seperti dibuat dari tulang hewan yang kuat dan sangat tajam.
Ketiga orang itu lalu bersama-sama menghampiri Shin Shui sambil menatap tajam. Bahkan mereka berjingkrak seperti sedang menari. Tombak mereka ditujukan kepada Shin Shui.
"Siapa kalian? Dan apa tujuan kalian?" kata Shin Shui dengan tersenyum. Tapi matanya terus mengamati ketiga orang itu dari atas sampai bawah.
Ketiga orang itu tidak menjawab. Mereka malah tertawa dan menimbulkan suara yang aneh. Suara tawanya terdengar mengerikan hingga suara binatang malam pun lenyap saat itu juga.
"Makan, makan. Sekarang kita akan makan enak. Ada daging yang begitu lezat … hahaha …," kata salahsatu orang itu sambil terus tertawa.
"Ya ya ya … kita akan panggang mangsa kita ini … hahaha,"
Ketiganya terus mendekati Shin Shui lalu mengelilingi pemuda biru itu sambil berjingkrak-jingkrak tanpa henti. Shin Shui yang masih kebingungan hanya bisa mengambil sikap waspada. Dia belum mengambil tindakan lebih karena memang ketiganya belum menyerang.
"Harap katakan siapa kalian dan apa keingin kalian sehingga terus mengelilingiku?" tanya Shin Shui dengan nada sama kepada ketiganya, tubuhnya juga ikut berputar mengikuti ketiga orang aneh tersebut.
__ADS_1
Ketiganya masih saja tidak menjawab. Mereka tetap mengelilingi Shin Shui dan tak mengindahkan pertanyaannya pemuda biru itu. Sehingga timbullah rasa kesal dibenak Shin Shui, pemuda biru itu lalu menghentakkan kakinya ke tanah dan ketiga orang aneh tersebut pun langsung berhenti seketika.