Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Mengobati Yun Mei-Kota Siam-Yang


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa waktu, tapi Yun Mei tetap tidak bangun juga. Shin Shui wajahnya sudah semakin pucat, bahkan tubuhnya sudah merasa lemas melihat semua ini.


"Phoenix biru, apa yang terjadi dengan Memei? Kenapa dia seperti ini?" tanya Shin Shui dengan sangat panik kepada burung phenix biru.


"Tadi Mei'er terkena serangan yang kuat dari salahsatu tetua sekte Siluman ketika dia bertarung. Mei'er terpental hingga menabrak tembok lalu mengalami luka dalam yang cukup parah. Dia pingsan karena mungkin sudah tidak mempunyai tenaga dalam lagi Shui'er," jawab phoenix biru yang kini berdiam didepan Shin Shui.


Betapa panasnya hati Shin Shui setelah phoenix birunya menjelaskan demikian. Dan tiba-tiba saja tubuhnya kembali diselimuti halilintar. Matanya sudah menggambarkan kebencian yang amat dalam.


"Dimana tetua itu? Biar aku hancurkan orangnya," ucap Shin Shui dengan amarah yang sudah menggebu-gebu.


"Tenangkan dirimu Shui'er, tetua itu sudah tewas olehku. Sekarang yang terpenting bawa Mei'er dari sini dan segera obati dia dengan tenaga sejatimu sebelum terlambat. Dia masih bisa tertolong, dan luka dalamnya masih bisa diobati. Mei'er hanya kelelahan karena kehabisan tenaga dalam," kata pheonix biru berusaha untuk menenangkan Shin Shui yang kini sudah tersulut amarahnya.


Setelah mendengar penuturan phoenix biru bahwa Yun Mei masih bisa ditolong dan hanya menderita luka dalam yang masih bisa disembuhkan serta hanya kehabisan tenaga dalam, dengan segera Shin Shui langsung membopong gadis cantik itu lalu melesat pergi dari tempat tersebut. Phoenix biru pun turut mengikuti dari belakangnya.


Beberapa waktu sudah berlalu, Shin Shui pun sudah cukup jauh jaraknya dari sekte Siluman, dia berhenti tepat ditengah-tengah hutan yang keadaannya gelap gulita.


Tapi karena pemuda biru itu mempunyai indera yang tajam walau berada dalam kegelapan, tidak susah bagi Shin Shui untuk melihat keadaan sekitarnya.


Merasa situasinya sudah aman, buru-buru Shin Shui menyenderkan Yun Mei pada sebuah pohon yang besar. Lalu dia memulai prosesnya untuk menyalurkan tenaga sejati.


Dia memgangi pergelangan tangan bagian kanan Yun Mei. Sebuah cahaya biru terang keluar dari kedua telapak tangannya lalu mulai masuk ke tubuh gadis cantik itu.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Shin Shui melihat adanya pergerakan dari tubuh Yun Mei. Kepalanya sudah terlihat mulai bergerak perlahan. Lima menit kemudian, barulah gadis itu bisa membuka mata dan langsung memuntahkan darah kehitaman.

__ADS_1


"Akhirnya … hahh …" kata Shin Shui sambil menghelas nafas. "Memei, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kau sudah bisa menggerakkan seluruh tubuhmu?" tanya Shin Shui.


"Aku masih merasa lemas Shushi. Apa yang sudah terjadi denganku? Dan bagaimana nasib sekte Siluman tadi?" kata Yun Mei langsung mengingat apa yang terjadi sebelumnya dirinya pingsan tadi.


"Syukurlah, tetaplah dalam posisi seperti ini. Aku akan terus menyalurkan tenaga sejati supaya kau cepat pulih kembali," kata Shin Shui sambil terus memegangi pergelangan tangan Yun Mei.


Sebuah energi yang terasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Energi itu bahkan mengandung rasa nyaman yang sulit dijelaskan.


"Kau tidak perlu khawatir Memei. Semua petinggi sekte Siluman sudah tewas, kita sekarang berada ditengah-tengah hutan yang kita lewati. Setelah kau merasa pulih, kita akan melanjutkan perjalanan dan mencari kota terdekat supaya menemukan sebuah penginapan," jelas Shin Shui yang kini merasa lega setelah melihat Yun Mei perlahan mulai membaik.


"Hahhh …" Yun Mei menghela nafas panjang. "Aku ikut apa katamu saja Shushi. Terimakasih sudah menyelamatkan diriku," kata Yun Mei sambil melemparkan senyuman manisnya.


Shin Shui hanya menganggukkan kepalanya sambil membalas senyuman manis itu. Setelah dirasa cukup, pemuda biru itu menghentikan proses penyaluran tenaga sejatinya.


Gadis itu setuju, lalu keduanya pergi dari tempat tersebut. Benar saja, pemuda biru itu menggendong dirinya. Tanpa banyak bicara, Yun Mei pun berniat untuk tidur karena tubuhnya masih terasa sedikit sakit dan lelah.


Dua jam sudah berlalu, dan tanpa terasa malam pun mulai digantikan dengan datangnya pagi. Mentari pagi yang indah mulai menampakkan dirinya di ufuk timur.


Hanya beberapa saat lagi, maka sang mentari siap memberikan sinarnya ke bumi dengan semangat. Burung-burung berkicau tiada hentinya.


Tepat ketika mentari menampakkan sinarnya, kedua pendekar muda itu baru keluar dari dalam hutan. Dan tak lama dia sudah menemukan sebuah kota, kota yang sama sekali tidak mereka kenali.


Karena memang semalam Shin Shui berusaha untuk keluar dari hutan, bahkan melesat dengan cepatnya dibawah gelap malam. Tapi karena hutan itu terlalu luas, dia baru bisa keluar pagi-pagi barusan.

__ADS_1


Kini keduanya sedang mencari sebuah restoran dan penginapan untuk sarapan. Dia tidak berniat untuk langsung melanjutkan perjalanannya lagi, Shin Shui lebih memilih untuk beristirahat sejenak. Terlebih karena dia tidak tega melihat Yun Mei yang belum sepenuhnya sembuh dari lukanya.


Cukup sulit juga ternyata mencari tempat makan yang sudah buka diwaktu pagi hari seperti ini. Tapi tak lama mereka bisa menemukan restoran yang cukup besar. Keduanya pun langsung menuju kesana.


"Selamat datang di restoran dan penginapan Siam-Yang tuan dan nona muda. Silahkan, disini kami menyediakan menu restoran yang bisa memanjakan lidah," kata seorang pelayan wanita menyambut keduanya.


"Aku pesan dua buah kamar dan juga menu sarapan khas restoran ini. Dan tolong nanti antarkan ke kamar kami ya. Kami sangat merasa kelelahan," ucap Shin Shui sambil memasuki restoran Siam-Yang.


Setelah menunjukkan kamar untuk keduanya, pelayan tersebut lalu ke belakang untuk membuat pesanan Shin Shui. Tak butuh waktu lama, pesanan pun sudah datang dan diantarkan ke kamarnya masing-masing. Keduanya pun dengan segera memakannya supaya bisa cepat-cepat untuk beristirahat.


###


Tiga hari sudah berlalu semenjak Shin Shui menyerang sekte Siluman dan selama itu pula dia tinggal sementara di restoran sekaligus penginapan Siam-Yang.


Sekarang ini hari sudah siang, karena kondisi Yun Mei sudah perlahan pulih, saat ini dia akan mengajak Yun Mei untuk mengelilingi kota Siam-Yang ini.


"Kau akan mengajakku kemana Shushi?" tanya Yun Mei.


"Kita akan mengelilingi kota Siam-Yang ini Memei. Ayolah ikut saja, siapa tahu kita akan menemukan sesuatu menarik yang berhubungan dengan misi kita untuk menghancurkan aliran hitam," ucap Shin Shui yang langsung disetujui oleh Yun Mei.


Kini keduanya sedang berjalan santai ditengah keramaian kota Siam-Yang ini. Memang, kota ini tidak seramai dengan kota Nan-Ping yang beberapa waktu lalu pernah di singgahi oleh keduanya.


Di kota Siam-Yang ini keadaannya tak lebih seperti keadaan di pedesaan, hanya saja ukurannya lebih luas. Entah ada apa dengan kota ini sehingga terlihat tidak seramai kota-kota lain yang pernah Shin Shui jumpai. Tapi yang jelas keduanya merasakan ada sesuatu yang sudah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2