Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Dua Bayangan Dewa


__ADS_3

Shin Shui tidak langsung menjawabnya. Dia seperti menimbang-nimbang terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, ini masalah sekte orang lain. Bisa jadi masalah internal.


Tapi disisi lain, dia juga bingung. Bukankah yang punya masalah sudah terus terang meminta bantuan dia supaya mengulurkan tangannya? Secara tidak langsung, berarti Shin Shui pun sudah diperbolehkan untuk turut andil.


Tapi meskipun begitu, pemuda biru itu tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat. Karena menurutnya, ini merupakan perkara yang cukup rumit.


"Hemmm … untuk itu, kita lihat besok malam saja. Aku tidak bisa membwrikan keputusannya sekarang. Masalah ini bukanlah masalah sepele," kata Shin Shui sambil tersenyum simpul.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih sebelumnya pendekar. Mari kita minum arak wangi ini," kata Pek Ji mengajak Shin Shui untuk minum arak.


Terlihat ada senyuman yang mengandung sedikit kecewa diwajah kepala tetua itu. Tapi dia tidak memaksa, karena ucapan Shin Shui benar. Bahwa masalah ini cukup rumit.


Keduanya lalu minum arak yang sudah tersedia sambil berbincang-bincang membicarakan hal lainnya. Setelah Shin Shui merasa ngantuk, diapun pamit undur diri dari sana.


###


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat bagaikan roda yang berputar. Saat ini hari sudah malam, rembulan memancarkan sinarnya hanya seperempat.


Langit agak sedikit mendung. Bahkan awan-awan yang kelam perlahan menutupi cahaya rembulan. Meskipun keadaan seperti ini, tapi tak dapat dipungkiri bahwa udara begitu sejuk dan menenangkan.


Saat ini, Shin Shui sedang duduk dijendela seperti kemarin malam. Sekarang adalah hari yang dimaksudkan oleh Pek Ji, dimana menurutnya hari ini akan ada serangan dari pasukan Ji Yeon.


Pemuda biru itu sudah bertekad untuk membantu menangani masalah sekte Daun Hijau. Tadinya dia tetap tidak ingin membantu, tapi hatinya selalu berlawanan.


Bagaimanapun juga, sekte Daun Hijau merupakan sekte aliran putih yang cukup besar. Mendengar bahwa namanya hancur, tentu saja Shin Shui takkan tinggal diam.


Apalagi setelah mengetahui siapa yang menghancurkan nama sekte itu. Tadinya Shin Shui berniat untuk menuruti pikirannya supaya tidak ikut campur.


Tapi setelah dia menenangkan diri, akhirnya dia lebih mengikuti kata hati. Karena menurutnya, kita lebih baik mengikuti kata hati. Karena hati letaknya kejujuran.


Hanya saja banyak yang tidak menyadari atau bahkan malu untuk mengakui. Karena hati dan pikiran, selalu saja bertentangan.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya telinga Shin Shui mendengar banyak langkah kaki berjalan ke tempat sekte Daun Hijau. Dia sudah dapat menduga bahwa itu tentu rombongan Ji Yeon.

__ADS_1


"Phoenix biru, kau kesana dulu. Bantu mereka, nanti aku akan menyusul," kata Shin Shui kepada hewan peliharaannya.


"Baik Shui'er." tanpa banyak bicara lagi, burung legendaris itu langsung melesat terbang ke arah sumber suara. Shin Shui masih terdiam disana, menunggu waktu yang tepat untuk mengulurkan tangannya.


Ternyata benar dugaan Shin Shui, suara langkah itu memang suara dari pasukan Ji Yeon. Kurang lebih ada sekitar tiga puluh orang yang ikut dengannya untuk menyerang sekte Daun Hijau.


Di sisi lain, pihak Pek Ji pun sudah menanti kedatangan tamunya ini. Sehingga tak kurang dari dua puluh murid sudah menunggunya didekat sekte.


Tanpa banyak basa-basi, rombongan Ji Yeon langsung menyerbu pasukan itu. Perang antar 'saudara' tak dapat dihindari lagi.


Meskipun Pek Ji masih dalam kondisi terluka karena pertarungan sebelumnya, tapi dia tetap semangat untuk membela sektenya. Bahkan sebagian tetua yang belum pulih sebelumnya juga turut andil.


Malam yang sunyi, mendadak ramai dengan suara riuhnya sebuah pertarungan. Phoenix biru yang daritadi berputar-putar diatas, tiba-tiba turun dan ikut menyerang pasukan yang dibawa Ji Yeon.


Semua orang disana kaget karena ada burung yang tiba-tiba menyerang. Termasuk dari pihak Pek Ji sendiri. Phoenix biri yang sedang 'asyik' menyerang, tiba-tiba mengeluarkan suara yang membuat telinga berdengung saking kencangnya.


Tak lama setelah suara burung itu, tiba-tiba sebuah cahaya biru melesat dan turun di arena pertarungan. Cahaya biru itu berkelebat kesana-kemari menyerang pasukan Ji Yeon.


Hanya beberapa gebrakan saja, lima belas pasukan sudah mengalami sebuah luka yang diakibatkan dari goresan pedang.


"Siapa kau? Cepat pergi, jangan ikut campur urusan kami," kata Ji Yeong sambil menatap tajam ke arah Shin Shui.


"Siapa aku itu tidak penting. Yang terpenting adalah aku tidak akan membiarkan kau menghancurkan nama sekte Daun Hijau," kata Shin Shui sambil membalas tatapan tajam itu lalu menyarungkan kembali Pedang Halilintarnya.


"Bocah sombong. Apakah kau berpihak kepada pengecut dan lemah seperti dia?" katanya sambil menuding ke arah Pek Ji.


"Tidak. Aku hanya membela yang menurutku harus dibela," jawan Shin Shui dengan tenang.


"Hemmm … bagus, bagus. Ternyata kau mau menjadi jagoan supaya dipuji-puji orang, begitu?" tanya Ji Yeon sambil memicingkan matanya.


"Tidak juga. Sudahlah, jika kau takut, maka pertarungan ini lebih baik jangan diteruskan saja," ejek Shin Shui.


Bukan main marahnya Ji Yeon mendengar kata-kata itu keluar dari lawannya,

__ADS_1


"Tutup mulut busukmu bocah …" katanya sambil menerjang Shin Shui dengan gerakan cepat.


"Kepala tetua, kau urus saja tikus yang lebih kecil. Biarlah tikus besar ini aku yang urus," ucap Shin Shui sambil menanti serangan lawan.


"Uitsss …"


Shin Shui menghindari serangan berupa tendangan yang mengarah ke wajah itu. Dia menarik wajahnya ke belakang sehingga serangan barusan luput.


Tak cukup sampai disitu, Ji Yeon pun kembali memberikan serangan susulannya kepada Shin Shui. Gerakannya tak boleh dipandang rendah, karena gerakan itu memang sangat cepat.


Saat ini dua pendekar itu sedang bertarung dengan sengit. Serangan yang diberikannya masing-masing membuat lawan kerepotan.


Di sisi lain, pertarungan yang lain pun tak kalah serunya. Kini yang bertarung hanyalah para petinggi saja. Sedangkan para anggota lainnya sudah berhenti, sebab pasukan dari Ji Yeon sudah habis dibantai phoenix biru dan pasukan Pek Ji.


Ji Yeon mundur ke belakang, ada beberapa pukulan yang dengan tepat bersarang di beberapa bagian tubuhnya. Hal ini bisa terlihat dari pakaiannya yang sedikit robek.


Ji Yeon mengambil sikap kuda-kuda, matanya menatap tajam ke arah Shin Shui. Bagaimanapun juga, dia tidak boleh memandang rendah lawannya itu.


Shin Shui yang menyadari bahwa lawan akan menggunakan jurus, maka pemuda biru itupun tak mau tinggal diam. Dia pun turut melakukan sikap kuda-kuda.


Menurut perkiraan Shin Shui, Ji Yeon ini setidaknya berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap empat akhir, jadi bukanlah lawan yang mudah jika dengan kekuatannya yang sekarang.


"Pukulan Racun Hitam …"


"WUSHH …"


Ji Yeon melesat sambil mengeluarkan jurus berbahaya. Kedua tangannya berubah menjadi menghitam. Bau busuk mulai tercium dari kedua tangannya. Shin Shui tak mau kalah, dia juga mengeluarkan jurus-jurusnya.


"Dua Bayangan Dewa …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba Shin Shui menjadi tiga. Ketiganya sama persis dan masing-masing dari mereka saat ini sudah mengeluarkan kilatan halilintar yang perlahan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Ji Yeon terperanjat melihat hal ini, tapi sayangnya sudah terlambat.


__ADS_2