
Tak terasa satu hari setengah sudah berlalu, Shin Shui dan Yun Mei sebentar lagi akan memasuki Desa Awan Putih. Selama perjalanan menuju Desa Awan Putih, keduanya tidak menghadapi kendala yang berarti.
Keadaan Yun Mei pun sudah semakin membaik saat ini, luka yang diderita gadis itu sebelumnya kini perlahan berangsur pulih. Mereka berdua kini sudah semakin akrab daripada sebelumnya.
Saat ini hari masih siang, matahari kini tepat diatas kepala. Shin Shui dan Yun Mei berniat untuk mencari tempat makan. Mereka sudah merasa lapar karena sebelumnya jarang beristirahat kecuali untuk sekedar makan dan tidur.
"Yun Mei, ayo kita mencari restoran. Aku lapar sekali," kata Shin Shui mengajak Yun Mei.
"Ayo." kata Yun Mei semangat.
Keduanya mulai berjalan santai, saat ini keduanya sedang berada di perbatasan Desa Awan Putih. Suasana disana terlihat sangat ramai dan dipadati penduduk.
Banyak orang berlalu-lalang, tak sedikit juga mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Baik itu pedagang sandang, pangan, maupun lainnya termasuk kebutuhan untuk para pendekar.
Didepan sana sekitar seratus meter dari tempatnya sekarang, Shin Shui melihat ada sebuah restoran. Restoran itu tepat berada ditengah-tengah perbatasan Desa Awan Putih.
Keduanya berniat untuk menuju kesana sembari menikmati desa tersebut. Selang berapa menit, Shin Shui dan Yun Mei telah tiba didepan restoran, didepannya ada sebuah tulisan yang terbuat dari kayu hitam, tulisan itu merupakan nama dari restoran itu.
Sesuai dengan faktanya, nama restoran tersebut adalah "Restoran Perbatasan". Ternyata Restoran Perbatasan merupakan salahsatu tempat makan favorit yang banyak diminati oleh para pedagang dan pendekar.
Terbukti saat ini restoran tersebut dipenuhi pengunjung, Shin Shui dan Yun Mei segera memasukinya. Mereka disambut oleh dua orang pelayan pria dan wanita, umurnya sekitat 27 tahunan.
"Selamat datang tuan muda, nyonya muda. Silahkan masuk, semoga makanan di restoran kami sesuai dengan selera tuan muda dan nyonya muda." kata pelayan wanita sembari membungkukkan badanya tanda memberi hormat.
Shin Shui dan Yun Mei hanya tersenyum, mereka lalu masuk ke dalam dan segera memilih tempat duduk. Keduanya mendapatkan tempat duduk paling belakang di pinggir kelompok orang berbaju Cokelat.
Mereka terlihat seperti layaknya seorang pendekar, jumlahnya ada enam orang. Shin Shui segera memberikan salamnya kepada mereka. "Salam hormat dari junior ini senior, perkenalkan namaku Shin Shui dan ini …." "pasangannya." kata Yun Mei memotong ucapan Shin Shui.
Shin Shui hanya melirik Yun Mei dengan tajam tanpa berkata apapun, sedangkan gadis itu hanya tertawa perlahan sembari ditutupi oleh tangannya.
"Gadis yang cantik … tapi sayang dia mendapatkan pasangan yang kurang cocok … haahaha." kata salah seorang pemuda yang berada diantara kelompok orang itu diiringi dengan suara tawa mengejek.
"Hahahaha … kau benar tuan muda. Gadis itu lebih cocok denganmu yang kaya raya." timpal salah seorang yang mungkin merupakan pengawalnya, sedangkan pemuda yang tadi bicara adalah tuannya.
"Jaga bicaramu!!!" Yun Mei berkata dengan marah sembari menunjuk kepada seseorang yang disebut sebagai tuan muda.
"Sudah-sudah biarkan saja, tidak usah dilayani." kata Shin Shui sembari mengelus pundak Yun Mei supaya tenang.
Akhirnya gadis itu menuruti apa yang dikatakan Shin Shui, dia kembali duduk dan mulai mengatur nafasnya supaya lebih tenang. Tak lama setelah Yun Mei duduk, akhirnya makanan pesanan mereka telah tiba.
"Ini pesanannya tuan muda. Silahkan dinikmati," kata seorang pelayan sembari memberikan pesanan kepada Shin Shui dan Yun Mei.
Mereka dengan segera memakannya, sepanjang mereka menyantap makanan tersebut, kelompok orang-orang tadi tidak berhenti mengejek kepada Shin Shui. Mereka terus berkata kasar bahkan sesekali menghina Shin Shui.
Tapi pemuda itu masih berusaha untuk tenang hingga menyelsaikan makannya, setelah menyelesaikan makannya Shin Shui dan Yun Mei berniat untuk segera membayar lalu pergi dari restoran itu, tapi dengan sengaja tuan muda tadi menghentikannya.
__ADS_1
"Ehhh … mau kemana kalian? Tidak usah dibayar, biar aku yang membayarnya. Orang susah mana bisa membayar harga makanan yang mahal layaknya restoran ini. Sudah-sudah tidak usah, kau boleh pergi asalkan gadis itu dibiarkan disini bersamaku," kata tuan muda tersebut dengan sombong.
Shin Shui tidak menjawabnya, pemuda itu segera berjalan ke depan tempat kasir. Dia lalu membalikkan badan dan berkata dengan suara cukup tinggi.
"Pengumuman buat semuanya, jika kalian ingin makan disini silahkan makan sepuasnya. Kalian tidak usah membayar, biar aku yang membayar semuanya." ucap Shin Shui.
Dia lalu memberikan satu kantong keping emas ke kasir, "ini buat bayaran mereka yang makan disini, apakah kurang?" tanya Shin Shui.
Kasir itu sungguh kaget saat melihat Shin Shui dengan mudahnya memberikan satu kantong keping emas. Tapi dengan segera kasir itu menjawabnya, dia tidak mau menyinggung pemuda yang ada didepannya saat ini.
"Ahh baiklah tuan muda, ini sudah lebih dari cukup." jawab kasir itu dengan sedikit rasa ketakutan.
Melihat hal itu, tuan muda yang bersama pengawalnya tadi sangat marah. Mereka merasa terhina atas perlakuan seorang pemuda tak dikenal.
"Behenti kau bocah sombong. Kau pikir kau siapa disini hah? Apa kau belum tahu siapa aku? Cepat berikan gadis itu sebelum kesabaranku habis," tuan muda itu berseru lantang dengan nada marah kepada Shin Shui.
Shin Shui yang hendak melangkahkan kakinya ke luar mendadak berhenti. "Siapa dirimu aku tidak peduli, aku akan berikan gadis ini. Asalkan kau juga memberikan nyawamu padaku." balas Shin Shui tenang diiringi senyuman.
"Bedebah … bunuh pemuda itu!!!" teriak tuan muda tadi memberikan perintah kepada pengawalnya untuk membunuh Shin Shui.
Mereka lalu menyerang Shin Shui secara bersamaan, Shin Shui menyadari dia akan diserang langsung menuju ke luar restoran. Dia tidak mau membuat kekacauan di dalam restoran tersebut.
Mereka mengikuti Shin Shui ke luar, tapi serangannya tidak berhenti. Mereka tetap berniat mengeroyok Shin Shui. Pemuda biru itu berdiri dengan tenang ke arah orang-orang yang akan mengeroyoknya.
"Ahhhh …"
Satu orang yang terkena Pukulan Halilintar Shin Shui terpental, dadanya gosong dan tak lama dia tewas. Melihat pemuda yang akan di keroyok bisa membunuh temannya dengan sekali pukul, rekannya yang tersisa langsung mendadak berhenti menyerang.
"Jika tuan muda kalian yang bodoh itu masih tetap ingin mencariku. Temui aku di Bukit Awan. Aku tunggu kedatangannya, aku tidak takut … siapapun dia aku tidak perduli," kata Shin Shui.
Setelah berkata demikian pemuda itu segera mengajak Yun Mei untuk melanjutkan perjalanan menuji Bukit Awan. Sebab menurut perhitungannya, sekitar tiga jam lagi mereka akan sampai.
Shin Shui mulai melesai dengan cepat bersama Yun Mei, mereka tidak ingin membuang-buang waktu lagi, terlebih karena tempatnya sudah dekat.
###
Ditempat Restoran Perbatasan …
"Apa yang terjadi?" kata tuan muda tadi.
Tuan muda itu kaget saat melihat kondisi pengawalnya sudah tidak bernyawa dengan kondisi yang mengenaskan. Dia tidak terima dengan hal ini, nafasnya memburu, matanya memperlihatkan kebencian.
"Pendekar muda tadi membunuhnya hanya dengan satu kali pukulan tuan muda," kata seorang pengawal memberitahu tuan mudanya.
"Apa? Apakah kalian bercanda?" tuan muda itu tidak percaya.
__ADS_1
"Tidak tuan muda, kami mana berani berbohong padamu. Pendekar muda tadi benar-benar membunuh hanya dalam satu kali pukul," ucap pengawal sedikit ketakutan.
Siapa yang bisa membunuh Pendekar Surgawi tahap empat hanya dengab sekali pukul? Apakah level pelatihannya sudah melebihi Pendekar Dewa tahap dua? Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepala tuan muda.
"Ayo kita pulang. Bawa jasad temanmu, aku akan melaporkan hal ini kepada ayah," ajak tuan muda itu.
"Tuan muda, tadi pendekar muda itu bilang jika ingin mencari dirinya, tuan muda bisa menemukannya di Bukit Awan," pengawal tadi menjelaskan dimana tuan mudanya bisa menemui Shin Shui.
"Apakah dia akan berlindung dibalik Pendekar Belalang Sembah yang tua itu? Hmmm … aku tidak takut. Aku akan kesana untuk memberikan pelajaran padanya karena sudah berani membuat masalah dengn keluarga bangsawan Liu … hahaha," kata tuan muda tersebut dengan senyuman yang penuh arti.
Setelah berkata demikian mereka lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Tuan muda tadi berniat untuk melaporkan hal ini kepada ayahnya supaya bisa memberikan pelajaran kepada seorang pemuda yang tak lain adalah Shin Shui.
###
Tak perlu lama, hanya sekitar dua puluh menit saja tuan muda dan para pengawal sudah tiba di kediamannya. Ternyata kediaman tuan muda tersebut cukup luas, kira-kira ukurannya satu lapangan.
Bangunan rumah tuan muda tadi dihiasi oleh beberapa kolam ikan dan taman bunga, dipinggiran halaman rumahnya terlihat ada beberapa pohon bunga persik yang tumbuh dengan indah.
Didepan gerbang sebelum masuk kedalam kediamannya ada sebuah tulisan "Keluarga Liu" yang terpampang jelas. Tulisan itu terbuat dari tinta berwarna emas, sehingga membuatnya sungguh menawan dan sangat elok untuk dipandang.
"Ayahh … ayahh …." tuan muda itu memanggil-manggil ayahnya.
Tak lama seorang pria tua keluar dari ruangan, usianya sudah cukup tua. Sekitar berumur 80 tahunan, tapi kondisinya masih sehat dan bahkan pria tua itu terlihat tidak memiliki banyak kerutan layaknya orang yang sudah tua lainnya.
"Ada apa Liu Wu Zhen? Kenapa kau terlihat begitu cemas," ucap orang tersebut yang tak lain adalah ayah dari tuan muda tadi yang diketahui bernama Liu Wu Zhen.
"Ada seorang pemuda yang mencari masalah denganku ayah. Pemuda itu menyuruhku untuk ke Bukit Awan jika aku mempunyai nyali, bahkan dia merendahkanku didepan umum. Dia juga menghina keluarga kita ayah," kata Liu Wu Zhen menjelaskan kepada ayahnya dengan menambah karangan negatif.
"Kurang ajar … siapa pemuda itu? Apa dia belum tahu kebesaran keluarga Liu?" ayahnya berkata dengan marah, siapa yang tidak tahu keluarga Liu? Semua orang di perbatasan pasti tau semuanya, tidak ada yang tidak tahu.
"Ayah, apakah kita akan kesana?" tanya Liu Wu Zhen kepada ayahnya.
"Beberapa hari lagi kita akan pergi kesana. Walaupun Bukit Awan tempat berdiam Pendekar Belakang Sembah, aku tidak takut. Sekarang kau istirahatlah anakku," kata pria tua itu menyuruh anaknya untuk pergi beristirahat.
###
Keluarga Liu adalah salah satu keluarga besar bangsawan yang ada di kekaisaran Wei. Setiap keluarga besar bangsawan berada di perbatasan yaitu timur, barat, utara dan selatan, sedangkan letak istana sendiri berada ditengah-tengah. Keluarga Liu sendiri berada pada bagian barat, keluarga ini dikenal ahli dalam bidang militernya.
Tak sedikit para tentara kekaisaran yang berasal dari keluarga ini, tapi dibalik itu semua keluarga Liu adalah keluarga bangsawan yang terkenal licik dan dipenuhi siasat. Bahkan usut punya usut mereka mengirim banyak anggota keluarga untuk menjadi tentara istana kekaisaran juga ada maksud terselubung.
Keluarga Liu ini sepenuhnya menguasai desa perbatasan, mereka menempatkan beberapa anggota keluarga cabang disetiap sudutnya. Dengan alasan supaya menjaga keamanan, padahal sebenarnya mereka sedang merencanakan niat buruk untuk mengambil alih kekuasaan.
Mereka berniat mengambil alih Desa Perbatasan dan wilayah sekitar lainnya tak lain karena ekonomi disini benar-benar maju, penghasilan para penduduk jauh lebih besar dari wilayah lain yang berdekatan dengan istana kekaisaran.
Jika keluarga Liu berhasil mengambil alih dan menguasai sepenuhnya, tentu saja para penduduk tidak akan langsung menyerahkan pajak ke para petugas istana yang suka berkeliling setiap tiaga bulan sekali, melainkan akan diserahkan kepada keluarga Liu terlebih dahulu. Setelah demikan, keluarga itu bisa mengkorup pajak yang diserahkan para penduduk.
__ADS_1