
"Ayah … ibu … akan aku pastikan Tengkorak Kegelapan rata dengan tanah olehku. Demi membalaskan dendam terutama kematian ayah dan ibu, aku akan mengantarkan mereka ke neraka …" gumam Shin Shui.
Matanya saat ini merah, rasa kesedihan muncul sesaat sebelum kembali dilahap oleh rasa kemarahan yang teramat sangat. Amarah dalam dirinya sudah benar-benar mendidih bagaikan lava yang siap melahap habis semuanya jika di muntahkan.
Shin Shui melesat dari satu atap bangunan ke atap lainnya. Lalu dia berlompatan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Tepat di hutan itu, Shin Shui melihat seseorang sedang melesat untuk melarikan diri.
"Berhenti …" Shin Shui berteriak dengan sangat keras.
Dia menambah kecepatannya, sehingga tak berselang lama, jarak dirinya dengan sosok yang dia kejar hanya sekitar 50 meter lagi. Dia langsung berteriak kembali, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
"Halilintar … HUAA …"
"DUARR …"
Sebuah halilintar langsung menyambar tepat didepan sosok yang dia kejar. Sosok itu terkejut bukan main, dia langsung berhenti karena tubuhnya mendadak lemas. Kakinya gemetaran.
"Kau tidak akan bisa lari dariku lagi … siapa yang menyuruhmu?" bentak Shin Shui dengan nada sangat tinggi kepada sosok itu.
Sosok itu ternyata seorang pria yang masih terbilang muda, umurnya sekitar 40 tahun. Bahkan kekuatannya baru mencapai Pendekar Surgawi tahap 6.
"Aa-ampun pendekar muda … aku hanya disuruh oleh sekte Tengkorak Kegelapan. Sungguh. Aku dipaksa melakukannya karena anak dan istriku ditawan oleh mereka," jawab pria itu dengan sangat ketakutan.
"Hmmm …" pandangan mata Shin Shui mendadak lebih tajam. Dia mengamati pria itu, tapi tidak terlihat tanda-tanda kebohongan atas ucapannya. "Tunjukan aku dimana markas sekte Tengkorak Kegelapan. Jangan mencoba lari, atau kalau tidak … kupastikan kepalamu terpisah dengan tubuhmu. Jangan takut! Aku akan menyelamtkan anak dan istrimu nanti," kata Shin Shui dengan tegas.
Sosok pria hanya menurut tanpa perlawanan, bagaimanapun juga dia sadar bahwa pemuda yang ada di hadapannya bukanlah pemuda ataupun pendekar muda biasa, terlebih saat dia melihat kilatan halilintar pada bola mata pemuda itu.
"Ba-baik pendekar muda. Silahkan ikuti aku dari belakang, aku akan menunjukkan tempat sekte Tengkorak Kegelapan asalkan pendekar muda menyelamatkan anak dan istriku," jawab pria itu.
Matanya masih menandakan bahwa dia masih ketakutan, bisa saja jika markas sekte Tengkorak Kegelapan sudah ditunjukkan lalu dia dibunuh, pikirnya. Tapi apa boleh buat, tidak ada cara lain.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku tidak akan mengingkari janjiku ini." jawab Shin Shui.
Lalu sosok pria itu kembali melesat diantara dahan-dahan pohon dengan kecepatan sedang. Shin Shui mengikutinya dari belakang. Hutan yang biasanya ramai dengan suara binatang mendadak sepi, seolah mereka mengerti tentang perasaan Shin Shui.
Di arena pertandingan kekaisaran …
Saat ini disana terlihat ratusan pendeka, mereka berada pada tingkatan Pendekar Surgawi dan Pendekar Dewa yang dimiliki istana. Saat ini mereka sedang berjaga di setiap sudut sesuai arahan Shin Shui.
Setelah Shin Shui pergi meninggalkan tempat itu, kaisar langsung menyuruh orang-orang kerajaan untuk segera berjaga-jaga guna mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.
"Silahkan lanjutkan kembali pertandingan ini. Percayalah bahwa semua akan baik-baik saja, aku sangat mempercayai pahlawan muda." kata kaisar kepada wasit.
Lalu sang wasit kembali ke arena pertandingan untuk mengumumkan dilanjutkan kompetisi kekaisaran. Meskipun para penonton masih sedikit trauma karena kejadian tadi, tapi mereka tidak berniat untuk meninggalkan arena pertandingan.
Saat ini para murid sekte kelas atas yang akan bertanding antara lain dari sekte Bulan Perak oleh Ji Tianming, sekte Rajawali Merah diwakili oleh pemuda bernama Jiu Lian, dan sekte Gunung Salju diwakili oleh Lian Fang.
###
Saat ini Shin Shui dan sosok pria itu sedang melesat menuju ke markas sekte Tengkorak Kegelapan. Shin Shui mengikuti dari belakang, tapi karena dia sudah tidak menaruh curiga kepada pria itu, Shin Shui langsung melesat lebih cepat dan beriringan dengan pria tersebut.
"Apakah tempatnya masih jauh? Aku sudah tidak sabar …" kata Shin Shui membuka pembicaraan diantara keduanya.
"Sekitar dua jam lagi perjalanan pendekar muda. Tempatnya ada di pinggir sebuah sungai dekat hutan," jawab pria tersebut.
"Hemmm … baiklah. Yang penting kau bisa pastikan bahwa kita akan sampai ke markas Tengkorak Kegelapan," kata Shin Shui tegas.
"Tentu pendekar muda. Maaf kalau boleh tahu, kau berasal dari mana? Sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya," tanya pria itu, dia merasa asing terhadap Shin Shui, terutama dengan pakaian yang dia pakai.
"Aku berasal dari daerah pinggiran ibu kota kekaisaran. Tapi tidak banyak yang mengetahui karena aku jarang berinteraksi dengan dunia luar. Aku tinggal di pinggiran Hutan Larangan. Aku memang masih baru menginjak dunia persilatan, dan aku juga tidak berasal dari sekte manapun," jawab Shin Shui.
__ADS_1
"Lalu? Kau berasal dari aliran putih atau aliran hitam? Atau … netral?" pria itu masih nampak penasaran dengan sosok pendekar muda yang saat ini bersamanya.
"Aku tidak bisa mengatakan semuanya. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, dan aku menganggap sebuah hal benar yang memang menurutku benar. Yang jelas, intinya guruku mengatakan bahwa aku harus selalu berbuat sesuatu yang aku anggap baik dan membantu orang lain," jelas Shin Shui. Dia mengatakan hal itu karena memang menurutnya tidak perlu disembunyikan dan tidak ada yang mempermasalahkan, pikirnya.
"Lalu kalau aku boleh tahu, siapa nama pendekar muda?" tanyanya lagi. Pria tua itu seolah terus penasaran kepada Shin Shui, sehingga dia terus bertanya sampai mendapat hasil yang memuaskan.
"Aku Shin Shui, orang-orang memanggilku kadang 'pemuda biru' ataupun 'bocah gila'. Tapi sebenarnya aku diberi gelar oleh guruku sebagai Pendekar Halilintar." jawab Shin Shui.
Pria itu langsung mendadak berhenti setelah Shin Shui mengatakan siapa dirinya. Keringat dingin mendadak keluar dan membasahi seluruh punggung serta wajahnya.
Belum sempat Shin Shui bertanya, pria itu langsung mendadak ingin bersujud dan memohon maaf kepada Shin Shui. Tapi Shin Shui segera menghentikan hal itu.
"Ada apa paman? Kenapa kau mendadak seperti ini kepadaku?" tanya Shin Shui keheranan dengan tindakan pria yang bersamanya.
"Ma-maafkan aku tuan. Sungguh … jika di arena pertandingan kompetisi kekaisaran aku tahu ada dirimu disana, aku tidak akan melakukan tindakan bodoh ini. Sungguh … aku meminta maaf dengan sangat." kata pemuda itu memberi hormat, dia tida lagi berani memandang mata Shin Shui.
"Maksudmu? Apakah paman mengenalku?" tanya Shin Shui. Dia kembali melanjutkan perjalanan menuju markas sekte Tengkorak Kegelapan sembari berbicara.
"Tentu saja, semua orang didekat ibu kota kekaisaran tahu siapa itu Pendekar Halilintar. Kontribusimu yang sangat besar saat melawan aliansi aliran hitam yang menyerang istana kekaisaran menjadi sebuah sejarah baru. Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu." jawab pria itu.
Shin Shui akan menjawab pernyataan itu lagi, tapi sebelum sempat dia menjawab pemuda itu mendadak berhenti kembali dan mengatakan bahwa mereka sudah sampai di markas sekte Tengkorak Kehekapan.
Didepan sana terlihat ada sebuah gerbang dengan gambar tengkorak menyeramkan yang terlukis tepat ditengah-tengah gerbang.
"Itu markas sekte Tengkorak Kegelapan. Jumlah anggota sekte itu sekitar empat ratus anggota, tiga ratus Pendekar Bumi, lima puluh Pendekar Langit, empat puluh Pendekar Surgawi dan sepuluh Pendekar Dewa," pria itu menjelaskan tentang sekte Tengkorak Kegelapan kepada Shin Shui.
Di gerbang itu terlihat dua orang Pendekar Bumi tahap tiga sedang berjaga. Shin Shui menanyakan dimana anak dan istri pria itu di sandera. Setelah mengetahui lokasi, Shin Shui berniat untuk segara menuju lokasi yang dimaksud.
"Paman tunggu disini. Aku akan membawa anak dan istrimu kembali sebelum menyatukan sekte ini dengan tanah." kata Shin Shui. Dia langsung melesat dengan kecepatan tinggi untuk menuju lokasi dimana anak dan istri pria itu ditahan.
__ADS_1