
Melihat ekspresi bocah dihadapannya semakin mengejek membuat para pendekar itu bertambah jengkel sekaligus terasa gemas ingin mencabik-cabik tubuhnya. Mereka berniat untuk menyerang bocah itu, yang tak lain adalah Shin Shui.
Tapi saat mereka hendak menyerang, Shin Shui segera bangun dari duduknya. Dia berjalan mendekati orang-orang walikota itu dengan santainya, seolah tak ada masalah apapun.
"Tunggu para senior. Jika ingin mengajakku bermain jangan disini, restoran ini tidak bisa ikut bermain dengan kalian. Lagi pula … restoran ini tempat makan, bukan tempat bermain. Dasar orang tua. Ehhh … haishh… maaf aku keceplosan. Maksudku senior … hehe," Shin Shui mengajak semua orang-orang walikota untuk keluar dari restoran itu dengan sedikit bercanda. Dia ingin memancing emosi orang-orang yang akan dia hadapi itu.
"Kauuu … cepatlah keluar, aku sudah tidak sabar ingin mencabik-cabik dan merobek mulutmu yang tidak sopan." ucap salah seorang pendekar itu.
Mereka semua langsung menuju keluar, mereka berhenti di sebuah lahan terbuka yang cukup luas. Karena situasi disana saat ini sedang ramai, tentu saja banyak orang yang mendadak mendekati lahan itu karena penasaran ada apa sebenarnya.
Shin Shui dan para pendekar suruhan walikota Huan Xi sudah berada ditengah-tengah lahan. Mereka sudah berhadap-hadapan. Orang-orang pun semakin ramai, seolah bahwa semua ini bisa menjadi tontonan yang menarik.
Satu-persatu berbagai komentar pun mulai keluar dari kerumunan orang itu. Jelas, mereka tahu belasan pendekar itu adalah orang-orang walikota yang kejam.
"Siapa anak muda itu? Kasihan sekali nasibnya".
"Akhirnya ada juga yang berani mencari masalah dengan walikota sialan itu".
"Semoga saja kekuatan bocah itu sesuai dengan nyalinya".
Berbagai komentar mulai terdengar disana. Sebagian warga berharap bahwa pemuda berpakaian serba biru itu akan keluar menjadi pemenang.
__ADS_1
"Bagaimana senior? Apa bisa kita mulai permainan ini? Siapa yang akan maju terlebih dahulu? … Kau? Kau? Kau? Atau kau? Atau semuanya?" Shin Shui berlagak sombong sambil menunjuk mereka satu-satunya supaya emosi musuh semakin meluap-luap.
"Tutup mulumutmu bocah. Kita lihat, apakah mulutmu sesuai dengan kemampuanmu?" lima orang Pendekar Surgawi nampak menyerang Shin Shui secara bersamaan.
Shin Shui bersiap untuk menyambut serangan lima orang Pendekar Surgawi, dia sudah berada dalam posisi kuda-kuda. Lawan mengepungnya dari semua arah, mereka seolah tidak akan membiarkan Shin Shui kabur.
"Tenang saja, menghadapi tikus got seperti kalian, aku tidak akan kabur." kata Shin Shui sembari mengejek. Perjuangan Shin Shui berhasil, musuhnya mulai terbakar emosi, sehingga mereka mulai tidak berfikir melakukan formasi serangan. Yang ada di hati mereka saat ini adalah keinginan untuk merobek mulut Shin Shui.
Dua orang Pendekar Surgawi mulai menyerang dengan ganas. Yang satu menggunakan pedang, satu lagi menggunakan kapak. Senjata mereka merupakan senjata tingkat menengah.
Suara angin menderu saat mereka mengayunkan senjata masing-masing ke arah Shin Shui. Awalnya Shin Shui merasa sedikit kewalahan, tapi karena dia terus mengejek dan mempermainkan lawannya, gerakan mereka jadi tidak karuan.
'WUSHH*** …'
Suara angin tidak beraturan terdengar saling bersahutan, hingga pada satu kesempatan, Shin Shui menjepit pedang dari salah satu pendekar itu.
'KRAKK …' patah.
Pedang itu patah menjadi dua, tak lama Shin Shui langsung menghantam dada pendekar itu dengan telapak tangannya. Pendekar itu terpental cukup jauh dan muntah darah.
'Ughh …' mati.
__ADS_1
Pendekar itu tewas dengan dada gosong. Melihat temannya tewas, empat pendekar lainnya langsung berinisiatif untuk menyerang Shin Shui. Mereka semua menggunakan pedang yang terbuat dari baja hitam. Gerakan ketiganya lumayan sulit dibaca.
Tak berfikir lama, Shin Shui langsung mengeluarkan Pedang Naga Emas yang disimpan di punggungnya, sedangkan pedang halilintarnya dia simpan di cincin ruang. 'Senior, bantu aku'. 'Dengan senang hati Shui'er'. Roh pedang naga emas yang tak lain adalah Cun Fei, menjawab lewat alam pikirnya.
'SRING .…' sebuah cahaya emas terpancar ketika pedang itu dicabut.
'ROARRR …' suara auman seekor naga terdengar jelas di telinga semua orang.
Empat orang yang tadi menyerang Shin Shui nyalinya menjadi ciut, mereka pusing tujuh keliling harus mengambil sikap bagaimana. Tapi sebelum mereka mengambil tindakan, dengan cepat Shin Shui melesat ke arah empat orang pendekar itu dengan berlari zig zag.
'1 2 3 4 … '
"Ahhh …" mati. Satu persatu dari mereka mati, kepala mereka menggelinding ke arah temannya yang menunggu giliran menyerang.
"Ti-tidak mungkin … bocah itu bisa membunuh lima Pendekar Surgawi dengan mudah." ucap salah seorang pendekar disana. Ketakutan mulai menghantui mereka saat ini.
"Haishh … kepalanya malah jatuh kesana. Senior, bolehkah kepala temanmu aku bawa? Aku ingin menjadikan mainan, aku akan menendang-nendang mereka … hahaha …" Shin Shui sengaja berkata demikian supaya rasa takut dihati musuhnya semakin menjadi.
"Bocah itu gila." salah seorang penonton bicara cukup keras sehingga terdengar oleh beberapa orang, Shin Shui termasuk didalamnya.
"Tidak, pemuda itu tidak gila. Dia sengaja bicara layaknya orang gila dari tadi tidak lain adalah untuk memancing emosi musuhnya. Sekarang dia berkata lebih gila supaya musuhnya menjadi semakin ketakutan." salah seorang menimpali pernyataan warga yang sebelumnya menganggap Shin Shui gila.
__ADS_1