
Tjie Ai tewas dalam rasa ketidakpercayaan. Sama seperti saudaranya tadi, kepalanya menggelinding terlebih dahulu baru kemudian disusul oleh tubuhnya yang ambruk ke tanah.
Pertarungan sudah selesai, hutan pun menjadi sepi sunyi kembali. Tidak ada lagi suara-suara nyaring beradunya pusaka. Yang ada disana hanyalah bekas-bekas pertarungan yang cukup dahsyat. Tak lupa juga ada jasad kakak beradik yang malang. Dimana keduanya tewas dengan tanpa kepala.
Setelah semuanya selesai, Yun Mei segera menghampiri Shin Shui. "Kau tidak papa Shushi?" tanya Yun Mei sedikit panik.
"Aku tidak papa Memei. Jangan terlalu mengkhawatirkanku," kata Shin Shui diiringi dengan senyuman.
Shin Shui segera mengganti pakaiannya yang tadi robek untuk menutupi Zubah Perang Halilintar kembali. Lumayan, didalam Cincin Ruangnya masih ada pakaian beberapa helai lagi, sepertinya dia harus segera membeli stok baru.
Setelah selesai, dia lalu membuka topengnya. Pemuda itu berniat untuk tidak memakai topeng, toh sudah jauh juga dari sekte Bukit Halilintar. Tak lama, keduanya langsung pergi dari hutan tersebut.
Entah kemana tujuan mereka, yang jelas keduanya akan melakukan pengembaraan untuk menumpas kejahatan. Mereka memilih pergi ke arah utara.
Setelah beberapa waktu menggunakan ilmu meringankan tubuh, Shin Shui dan Yun Mei kini sudah sampai disebuah kota yang besar. Kehidupan disana sangat ramai sekali, bahkan kemajuan kota ini bisa dibilang sangat maju sekali.
Keduanya memilih untuk berjalan santai dan menikmati pemandangan yang ada di kota itu. Sepanjang jalan banyak sekali para pedagang berjejer dengan rapi dan teratur.
__ADS_1
Disebelah kanan semuanya berjualan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Sedangkan disebelah kiri, semuanya menjual kebutuhan yang dibutuhkan oleh para pendekar. Shin Shui dan Yun Mei pun terus berjalan tanpa perduli dengan para pedagang yang terus memanggilnya.
Hingga pada akhirnya, keduanya menjatuhkan pandangan disebuah restoran yang besar dan juga mewah. Letaknya tepat sekali diujung jalan yang kini mereka telusuri. Keduanya langsung berniat untuk menuju ke restoran tersebut.
Setelah sampai didepannya, Shin Shui membaca tulisan yang agak besar dan menggantung diatas pintu masuk restoran. Tulisan itu ditulis diatas kayu hitam yang mengkilap, "Restoran Kota Nan-Ping".
"Hemmm … berarti saat ini aku berada di kota Nan-Ping." kata Shin Shui.
Sebenarnya dia juga tidak tahu kota itu terletak dimana dan sebesar apa. Dia baru pertama kali kesini, tapi meskipun begitu Shin Shui memilih untuk tidak banyak bertanya.
Keduanya lalu memasuki restoran tersebut, mereka disambut oleh dua orang pelayan wanita. Shin Shui dan Yun Mei memilih duduk di pojok sebelah kanan, sengaja dia memilih di pojok karena menurut penglihatannya disini banyak pendekar yang mencurigakan.
Pelayan itu mengangguk, dia lalu pergi lagi untuk memenuhi pesanan Shin Shui. Sedangkan pemuda biru itu sedang mengawasi sekelompok orang yang sedikit mencurigakan.
Jumlahnya empat orang, mereka semua berbadan tinggi, yang dua memakai pakaian pendekar dan yang dua lagi memakai pakaian seperti bangsawan. Mereka sepertinya sedang membicarkan sesuatu yang sangat rahasia.
"Tuan Zhao Ping In, rencana apa lagi yang harus kita lakukan untuk menghancurkan keluarga Chen?" kata salahseorang pendekar berbaju ungu.
__ADS_1
"Hemmm … bunuh semua keluarga Chen, terutama mereka yang seorang pendekar. Dengan begitu, maka tidak akan ada lagi yang bisa menentangku untuk mengambil upeti yang lebih besar lagi dari warga," jawab seorang pria berumur kira-kira lima puluh tahun dengan pakaian yang mewah. Mencerminkan bahwa dia adalah seorang bangsawan.
"Baiklah, kita bicarakan nanti saja. Sekarang, ayo kita kembali." kata pria bernama Zhao Ping In itu mengajak orang-orang yang bersamanya kembali ke rumah.
Shin Shui yang sedari tadi menguping akhirnya sedikit mengerti apa yang dimaksud oleh orang-orang barusan. Ternyata mereka berniat untuk melakukan perbuatan keji, tapi entah apa latar belakangnya.
"Memei, nanti setelah ini kita berdiam saja dulu di kota Nan-Ping ini. Aku ingin menyelidiki apa yang akan dilakukan oleh orang-orang barusan," ucap Shin Shui kepada Yun Mei.
"Baik Shushi. Aku juga sedikit curiga kepada mereka, tapi bagaimana kita bisa mengetahui siapa mereka? Bukankah orang-orang tadi sudah lenyap dari pandangan?" tanya Yun Mei yang kebingungan bagaimana cara untuk mendapatkan informasi.
"Kau tenang saja Memei. Biar aku yang mengurus semuanya." jawab Shin Shui.
Yun Mei hanya mengangguk saja, dia pastinya akan menuruti apapun yang Shin Shui rencanakan. Tak lama berselang, pesanan pun sudah datang. Tak lupa sebotol arak terbaiknya.
Shin Shui dan Yun Mei segera makan dengan lahapnya. Terlebih Shin Shui, mungkin karena dia kelelahan karena habis melakukan pertarungan. Sehingga beberapa kali terdengar dia bersendawa, suaranya bahkan cukup kencang. Agak malu juga dia.
Setelah selesai menyantap makanan, Shin Shui langsung pergi ke kasir untuk membayar biaya makannya. Tapi sebelum itu, Shin Shui bertanya tentang siapa saja keluarga bangsawan di kota ini kepada kasir tersebut.
__ADS_1
"Disini hanya ada dua keluarga bangsawan besar tuan muda, yang satu keluarga bangsawan Chen dan satu lagi keluarga bangsawan Zhao. Keluarga Chen adalah para pedagang hebat, mereka mempunyai jalur perdagangan yang besar bahkan dengan negara tetangga. Sedangkan keluarga Zhao adalah walikota disini, dia juga hebat karena memiliki pendekar sakti yang menjadi anak buahnya," kata kasir itu menjelaskan.
"Hemmm … baiklah, terimakasih informasinya. Ini bayaranku," kata Shin Shui sembari memberikan beberapa keping emas kepada kasir tersebut.