Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Disebuah Hutan


__ADS_3

Mentari semakin tinggi saja, orang-orang pun sudah bangun dan mulai menjalani aktivitasnya masing-masing. Sekarang kehidupan warga penduduk kota Siam-Yang sangatlah jauh berbeda dari kemarin, mereka menyambut hari baru ini. Mereka bersuka cita menjalani hari ini.


Seperti yang di bicarakan kemarin, para warga akan pergi ke rumah walikota saat pagi-pagi nanti. Dan sekarang warga sudah berbondong-bondong untuk menuju kesana. Mereka bersorak-sorai selama perjalanan itu.


Dirumah walikota pun sudah sibuk. Para pembantu dan pelayannya mulai menyiapkan sarapan pagi untuk sang tamu dan untuk tuan mereka sendiri. Setelah sarapan sudah di hidangkan, mereka pun mulai makan dengan lahap.


Setelah selesai melakukan sarapan, Shin Shui dan Yun Mei segera bersiap-siap untuk melanjutkan kembali perjalanannya. Selain itu juga, ternyata para warga sudah menunggu didepan dari tadi.


Mereka langsung keluar dan menyambutnya. Betapa bahagianya walikota itu saat kini bisa melihat kembali senyuman kebebasan dari rakyatnya.


"Tuan, sepertinya kami akan pergi melanjutkan perjalanan sekarang. Terimakasih untuk segala jamuannya, aku harap suatu saat nanti aku bisa membalas hutang budi ini," kata Shin Shui sambil membungkuk hormat dan diikuti oleh Yun Mei.


"Ahhh … baiklah-baiklah. Terimakasih atas semua jasamu pendekar muda. Aku tidak akan melupakan kalian, jika melewati kota ini lagi maka singgahlah walau sebentar," ucap walikota membalas hormat Shin Shui.


"Emmm … pasti," ucap Shin Shui.


Keduanya lalu berjalan keluar gerbang dan diikuti sang walikota. Para warga yang daritadi sudah menunggu pun kini bersorak-sorai kembali saat melihat pahlawan mereka keluar.


Sebenarnya Shin Shui merasa risih, lagi pula dia bukanlah tipe orang yang ingin disanjung tinggi. Tapi apa daya, tidak mungkin juga dia bicara seperti itu kepada para warga. Jadi pemuda biru itu hanya tersenyum dan mengangguk saja.


"Hati-hati pahlawan muda…"


"Jaga dirimu baik-baik …"


"Semoga hubungan kalian abadi sampai nyawa lepas dari badan …"


"Semoga dikaruniai seorang anak …"


Banyak sudah teriakan demi teriakan yang ditujukan kepada Shin Shui. Bahkan sampai ada yang mengira bahwa Shin Shui dan Yun Mei adalah pasangan suami istri.


Padahal sama sekali bukan, tapi kalau niat menuju kesana mungkin mereka juga ada. Tapi entahlah. Biarkan waktu yang akan menjawab semua pertanyaan yang timbul itu.

__ADS_1


Shin Shui dan Yun Mei tidak membalas semua ucapan para warga itu. Keduanya hanya mengangguk dan tersenyum manis.


"Semuanya, terimakasih ya. Sampai jumpa lagi, selamat tinggal …" kata Shin Shui sambil melambaikan tangannya ke arah warga lalu diikuti Yun Mei dan segera dibalas oleh mereka.


Keduanya langsung saja berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh, mereka tidak ingin berlama-lama. Shin Shui dan Yun Mei memilih melanjutkan perjalanan ke arah selatan.


Setelah beberapa saat, keduanya sudah tiba disebuah hutan yang luas. Hutan itu begitu teduh, mungkin karena pohon-pohon yang menjulang tinggi itu memiliki daun-daun yang begitu rindang.


Suara-suara burung dan binatang lain pun terdengar riang gembira. Semilir angin menerpa keduanya dengan lembut, tak lupa juga di hutan ini banyak pohon bambu berwarna hijau terjejer rapi.


Tentu saja ini adalah sesuatunya yang cukup menakjubkan, Shin Shui dan Yun Mei tidak mau menyia-nyiakan hal ini. Jadi mereka langsung saja berjalan santai sambil menikmati indah dan sejuknya hutan yang kini mereka pijak.


"Shushi, kita akan melanjutkan perjalanan kemana lagi?" tanya Yun Mei sambil terus berjalan santai.


"Entahlah Memei. Yang jelas aku akan terus mengikuti kemana langkah kakiku membawa. Aku ingin membasmi kejahatan diseluruh tanah airku ini. Mungkin satu atau dua tahun lagi aku baru akan kembali. Kenapa? Apakah kau tidak ingin ikut lagi denganku?" tanya Shin Shui yang langsung berhenti lalu menatap wajah Yun Mei.


Tentu saja Yun Mei salah tingkah ketika lelaki pujaannya menatap begitu tajam. Buru-buru gadis itu menundukkan kepalanya dan pipinya mendadak merah seperti tomat.


"Tentu saja tidak. Malah aku bersyukur karena sekarang hari-hariku tidak sepi lagi," kata Shin Shui sambil tersenyum lembut ke arahnya. Senyumannya begitu menawan, bahkan jantung Yun Mei langsung berdetak kencang. Ah indahnya masa muda.


Yun Mei tak menjawab, dia hanya bisa tersipu malu. Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba Shin Shui menarik tangan kiri Yun Mei dan langsung dicengkeramkan ke tangannya sendiri.


Tentu saja hal ini dia lakukan supaya gadis itu mau menggandengnya. Dan apa boleh buat, Yun Mei pun tidak menolak. Sehingga mereka sekarang berjalan layaknya pasangan pengantin baru.


Keduanya mulai berjalan dengan tenangnya. Seolah mereka menikmati masa-masa ini, dimana tidak ada pertarungan ataupun masalah berarti yang mereka hadapi. Jadi, tidak ada salahnya bukan jika berlama-lama dalam situasi seperti sekarang ini.


Suasana yang begitu sejuk ini sungguh mendukung. Tidak ada yang bicara diantara keduanya. Mereka hanya bisa saling pandang dan saling melempar senyuman. Kalau sudah seperti ini, rasanya dunia pun milik berdua.


Tapi belum lama mereka berjalan layaknya pengantin baru ini, tiba-tiba saja telinga tajam Shin Shui mendengar sebuah pertarungan. Suara itu memang masih samar-samar, tapi bagi telinganya yang begitu tajam, ini menjadi pertanda bahwa didepan sana ada sesuatu yang terjadi.


"Memei, ayo kita segera kesana," kata Shin Shui langsung berusaha melepaskan tangannya dari Yun Mei.

__ADS_1


"Kemana Shushi?" tanya Yun Mei terlihat begitu kebingungan.


"Ikuti saja aku. Didepan sana aku mendengar adanya sebuah pertarungan," ucap Shin Shui menjelaskan.


Meskipun Yun Mei belum mengerti tentang sesuatu yang dimaksud Shin Shui itu, tali gadis itu hanya bisa menurut saja. Keduanya lalu pergi menuju tempat dimana terjadinya pertarungan menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Shin Shui tadi. Didepan sana ada seorang pria tua botak yang memakai baju berwarna jingga dengan selendang lebar berwarna cokelat. dan memegang sebuah tongkat. Dari pakaiannya orang tua itu mirip dengan biksu.


Biksu itu terlihat sedang dikeroyok oleh lima orang yang memiliki pelatihan tinggi. Menurut penglihatan Shin Shui, orang-orang yang mengeroyo


k biksu itu berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap empat. Sedangkan biksu itu sendiri Pendekar Dewa tahap lima.


Sebenarnya jika satu-satu, tentu saja biksu tua itu akan dapat memenangkan pertandingannya. Tapi karena dikeroyok seperti ini, maka dia menjadi kembali kelabakan bukan main. Akan tetapi namanya manusia yang sudah rua renta, semakin lama biksu itu semakin terpojok pula.


Shin Shui dan Yun Mei masih memperhatikan dari balik pohon yang agak besar. Pertarungan itu semakin seru saja, meskipun biksu tua sudah terpojok, tapi dia masih mencoba untuk memberikan perlawanan kepada musuh.


Tapi secara mendadak, satu dari lima orang-orang itu memberikan serangan pedang dengan cepat ke arah biksu tua itu. Tepat di jurus kesepuluh dia tertotok dibagian pergelangan kananya sehingga tongkatnya jatuh.


Dan saat itu, seorang dari mereka sudah siap untuk mengayunkan pedangnya ke arah biksu tua.


"Mati kau biksu tua …"


Biksu itu sudah memejamkan matanya dan pasrah menerima nasib yang akan menimpa dirinya. Tapi disaat-saat genting seperti itu, tiba-tiba sesuatu pun terjadi.


"TRANGG …"


Pedang orang jahat itu tertahan oleh sebuah pedang pusaka berwarna biru terang. Tangannya terasa begitu bergetar hebat saat senjatanya beradu.


Ternyata kini didepan biksu itu telah berdiri seorang pendekar muda memakai pakaian serba biru yang sedang tersenyum dingin kepada mereka.


###

__ADS_1


Hemmm … kalau author nanti buat novel baru tapi kayak cersil mandarin zaman dahulu, kira-kira banyak yang mau baca gak ya?😁🙏


__ADS_2