Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Amarah Dewi Pedang


__ADS_3

Betapa kagetnya pria tinggi itu ketika menyadari permainan gadis cantik yang kini jadi lawannya amatlah cepat dan begitu lembutnya. Gerakannya sangat indah bagai seorang puteri yang sedang menari sehingga siapapun bisa terhipnotis olehnya.


Tapi dengan cepat pria tinggi itu menguasai dirinya dan segera bersiap menyambut serangan yang datang. Dua senjata kembali beradu, tapi pria tinggi itu sangat terkejut ketika kapak hitam miliknya beradu, seluruh tangannya bergetar.


Hal ini menandakan bahwa gadis itu berada pada tahapan setidaknya setingkat ataupun dibawahnya satu tingkat karena dia sendiri sekarang berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap empat, sedangkan Yun Mei merupakan Pendekar Dewa tahap tiga akhir.


Mungkin jika itu pendekar lain tentulah takkan sanggup menghadapi pria tinggi itu, karena dalam dunia pendekar, beda satu tingkat ibarat langit dan bumi jauhnya.


Tapi berkat semua kitab silat dan jurus yang dia pelajari merupakan termasuk tingkat tinggi, maka melawan musuh yang berbeda setingkat ataupun dua tingkat, maka gadis itu masih bisa mengimbangi. Dengan syarat musuhnya tidak memiliki kitab sakti pula.


Karena sudah mengetahui bahwa gadis cantik itu tak bisa dianggap remeh lagi, pria tinggi itu langsung saja mengeluarkan jurus-jurus kapak dahsyat yang dia miliki.


"Kapak Hitam Membelah Karang …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba saja dia menerjang Yun Mei dengan cepatnya. Bahkan setiap kapak itu diayunkan selalu saja menimbulkan sinar berwarna kuning terang. Geraknnya sungguh tajam, setiap bacokan kapak hitam itu seolah memang mampu membelah batu karang sekalipun.


Cukup lama juga pria tinggi dan gadis cantik bernama Yun Mei itu beradu jurus senjata. Hingga pada suatu ketika, karena sudah bosan dan tenaganya mulai menipis, maka Yun Mei melompat mundur ke belakang dan mengambil ancang-ancang.


Dia mengambil sikap kuda-kuda, kakinya ditaruh sejajar dan agak ditekuk setengah lutut. Pedangnya ditaruh didepan dadanya dengan posisi lurus menunjuk langit.


Di sisi lain, pria tinggi itu ternyata tidak tinggal diam. Dia pun melakukan sikap kuda-kuda sedemikian rupa dengan matang.


"Amarah Dewi Pedang …"


"Kapak Hitam Raksasa …"

__ADS_1


"WUSHH …"


"DUARR …"


Dua jurus tingkat tinggi yang dikeluarkan dari masing-masing pendekar itu beradu sehingga menimbulkan suara yang keras dan mengguncang kediaman keluarga bangsawan Chen.


Tapi siapa sangka, dalam posisi beradu jurus seperti itu, Yun Mei maju kedepan dan melesat dengar cepatnya.


"Tusukan Pedang Bunga Sakura …"


"Ahhh …" mati.


Pria tinggi itu tewas dengan dada tertembus sebuah pedang yang gagangnya bermotif bunga. Matanya melotot tak percaya bahwa dia akan tewas ditangan seorang wanita muda berumur kurang dari dua puluh lima tahun.


Setelah berhasil membunuh pria tinggi itu, Yun Mei dengan segera mencabut pedangnya dan pergi meninggalkan tempat itu berniat untuk membantu yang lainnya.


Karena menurut pandangan mereka, pemuda asing itulah yang paling kuat diantara yang lainnya. Kedua pendekar itu bertubuh gemuk dan kurus, keduanya memakai senjata tongkat besi dan juga trisula.


Shin Shui yang sudah tahu sampai dimana tingkat tahapan mereka kini tak mau buang-buang waktu lagi.


Kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu langsung saja mengeluarkan kembali Pedang Halilintar dari Cincin Ruang setelah tadi dia simpan kembali.


"Siapa yang akan kau pilih menjadi lawanmu?" tanya pria gemuk sedikit dengan nada tinggi.


"Hemmm … meskipun kalian berdua ataupun berlima sekalipun, aku tidak akan takut. Majulah kalian semuanya, terlalu mudah untukku melawan kalian seorang-seorang," kata Shin Shui dengan angkuh. Sifat 'gila' yang dimiliki pemuda itu ternyata sudah mencuat keluar.


"Bocah sombong. Kiranya kau menganggap dirimu paling kuat heh?" bentak pria kurus yang merupakan rekan pria gemuk dengan senjata trisila ditangan kanannya.

__ADS_1


"Hahaha … tentu saja. Kalau tidak percaya, kita buktikan saja. Biar sekalian aku mengantarkan kalian ke alam baka," kata Shin Shui dengan nada menantang.


Tanpa berkata panjang lebar, kedua pendekar tersebut langsung menyerang Shin Shui dengan lihainya. Mereka menyerang dari tengah lalu berpencar menjadi dua arah kanan dan kiri.


Shin Shui yang sudah siap dari tadi langsung saja menyambut serangan dua sisi tersebut dengan Pedang Halilintar.


"TRANGG …"


Ketiga senjata beradu dengan kuatnya sehingga menimbulkan suara nyaring. Kedua pendekar itu kaget bukan kepalang ketika menyadari kekuatan lawannya sehingga tubuh mereka bergetar sangat hebat.


Shin Shui mendorong kedua senjata tersebut dengan pedangnya. Pertarungan antar senjata pusaka kembali berlanjut, sinar-sinar terang dari trisula dan tongkat besi nampak terang dibawah gelapnya malam.


Sementara itu, Shin Shui terus mengimbangi gerakan dan kemanapun arahnya lawan menyerang. Kilatan biru bagai halilintar yang keluar dari pedangnya menjadikan pemandangan tersendiri.


"Tarian Ekor Naga Halilintar …"


"WUSHH …"


Shin Shui langsung bergerak menyerang kedua lawannya dengan jurus pedang ciptaan dia sendiri. Gerakan yang kadang cepat lalu lambat tetapi mematikan ternyata cukup merepotkan kedua pendekar yang menjadi lawannya tersebut.


Berapa kali keduanya terdesak oleh Shin Shui, untung saja kerjasama keduanya terbilang baik. Sehingga saling melengkapi dan melindungi satu sama lainnya. Shin Shui terus menyerang dengan ganas, semakin lama gerakannya semakin cepat dan sulit untuk ditangkis laggi. Hingga pada akhirnya …


"Ahhh …"


Pemuda biru itu berhasil merobek paha kanan pria gemuk. Darah mulai mengalir dari pahanya bersama rasa perih yang teramat sangat. Buru-buru dia meloncat ke belakang dan menotok jalan darah supaya tidak keluar lagi.


###

__ADS_1


Silahkan tinggalkan saran dan komentar dengan bijak, jika ada. Jangan lupa like juga ya😁kalau suka silahkan berikan vote🙏


__ADS_2