Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Apakau Kau Benar Pemilik Kitab Halilintar?


__ADS_3

Sementara itu, tak lama setelah para murid selesai menguburkan pendekar Tiga Harimau Dari Utara, Shin Shui dan yang lainnya pun tiba didekat gerbang Kuil Surgawi.


Cukup kaget juga Shin Shui saat melihat Kuil Surgawi yang begitu megah ini, dia jadi teringat kepada sektenya sendiri. Karena pada dasarnya Kuil Surgawi dibangun ditempat yang hampir mirip dengan sekte Bukit Halilintar, yaitu dibawah bukit.


Mereka mulai berjalan perlahan ke arah gerbang Kuil Surgawi. Tapi tiba-tiba biksu To mendadak berlari ketika melihat para murid yang bertugas menjaga gerbang tergeletak tak berdaya.


"Kalian kenapa? Apa yang terjadi?" tanya biksu To dengan cemas.


Tapi tidak ada jawaban dari murid penjaga gerbang itu. Mereka terlihat begitu lemas tak berdaya. Bahkan bisa dikatakan sekarat.


"Biksu, kalau boleh aku minta izin untuk membantunya, mereka masih bisa tertolong," kata Shin Shui meminta izin untuk mengobati para murid tersebut.


"Ahhh … baiklah pendekar muda. Terimakasih," jawab biksu To.


Setelah mendapat izin, Shin Shui lalu menghampiri para murid yang tergeletak tak berdaya itu, dia mulai menyalurkan tenaga sejatinya kepada mereka.


Terlihat ada aura berwarna biru yang perlahan keluar dari tubuh Shin Shui lalu masuk ke tubuh mereka. Hanya beberapa tarikan nafas saja, satu persatu dari murid penjaga gerbang mulai siuman, meskipun dalam keadaan yang masih lemah.


"Apa yang terjadi?" tanya biksu To kepada mereka setelah siuman.

__ADS_1


"Tiga Harimau Utara datang menyerang," kata salahsatu murid, suaranya lemah sekali.


Tanpa banyak bicara, biksu To langsung masuk ke dalam kuil sambil berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Dia sudah tahu siapa pendekat dengan julukan seperti itu.


Saking cepatnya biksu To berlari, hingga kurang dari lima seruput minum teh dia sudah mencapai disana. Biksu To langsung berlari ke dalam mencari maha gurunya.


"Guru, apa yang sudah terjadi? Dimana pendekar Tiga Harimau Dari Utara itu?" ucap biksu To saat berhasil menemui maha guru biksu Cian Lie Bun disebuah ruangan.


Biksu Cian Lie Bun saat itu sedang bersemedi sambil memejamkan mata. Tapi ketika ada suara yang berkata padanya, maha guru itu langsung membuka mata dan menjawab pertanyaan yang tak lain datang dari biksu To Lian Pwe.


"Tidak ada apa-apa muridku. Lupakanlah hal itu, Tiga Harimau Dari Utara sudah menemui balasan dari perbuatannya. Kemana teman-teman barumu? Kenapa tidak kau ajak?" tanya biksu Cian Lie Bun.


Mendengar gurunya berkata demikian, biksu To baru ingat dan dia mendadak terperanjat.


"Astaga, aku lupa," kata biksu itu sambil menepuk jidatnya sendiri.


Tanpa banyak bicara lagi dia buru-buru keluar dari ruangan gurunya lalu berlari keluar untuk menjemput Shin Shui dan yang lainnya. Tapi untungnya saat dia mau kembali ke bawah, tiba-tiba saja Shin Shui dan yang lainnya muncul bersama dengan muridnya yang tadi tak berdaya.


"Maafkan aku pendekar muda, maafkan aku. Sungguh, tadi aku begitu cemas sehingga melupakan semuanya dan berlari lebih dulu," ucap biksi To sambil memberi hormat.

__ADS_1


"Tidak perlu dipermasalahkan biksu, aku mengerti," jawab Shin Shui dengan senyuman.


Lega sudah hati biksu tua itu karena rekan barunya tidak mempersalahkan hal konyol tadi. Shin Shui dan yang lainnya pun diajak masuk ke dalam untuk bertemu dengan maha guru biksu Cian Lie Bun.


Banyak para murid yang memperhatikan Shin Shui dan lainnya, tapi tidak ada yang berani bertanya apalagi menegur. Karena para murid Kuil Surgawi sangat menghormatinya gurunya.


Shin Shui dan yang lain pun kini sudah tiba disebuah ruangan. Ruangan itu letaknya dibelakang Kuil Surgawi. Disana ada seorang biksu tua yang sedang bersemedi.


Suasana disana sangat nyaman, sebab kita bisa dengan gamblang melihat keindahan sebuah bukit yang amat hijau. Udara pun begitu sejuk, bunga-bunga yang sengaja ditanam tumbuh dan mekar dengan indahnya.


"Guru, perkenalkan ini teman baruku. Dan inilah pemuda yang guru cari selama ini," ucap biksu To memperkenalkan Shin Shui.


"Salam hormat maha guru, yang muda ini bernama Shin Shui, gadis cantik ini bernama Yun Mei, dan ini adalah senior Cun Fei," kata Shin Shui.


"Hemmm … terimakasih kalian sudah sudi membantu muridku. Terimakasih juga sudah berseri untuk kemari, kita langsung saja memulai pembahasan yang serius," ucap biksu Cian Lie Bun yang ingin langsung bicara kepada inti.


"Apakah kau benar pemilik Kitab Halilintar?" tanya maha guru itu kepada Shin Shui.


###

__ADS_1


Satu lagi nanti yah. Sebelumnya, silahkan berikan komentar bijak di kolom yang sudah disediakan. Sejauh ini apa saja kekurangan dari novel ini? Berikan saran dan komentar yah, dengan bahasa yang santun. Bukan yang.....😁🙏


__ADS_2