
Sekarang Shin Shui dan Yun Mei sudah selesai menyantap makanannya. Mereka sedang asyik membicarakan hal-hal ringan sambil menikmati satu guci arak.
Di sisi lain, pemuda yang mengaku anak tunggal dari kepala tetua sekte Awan Biru yang dari tadi memperhatikan keduanya kini berniat menghampiri. Entah apa yang akan dia lakukan.
Tuan muda itu kini sedang berjalan dengan angkuh ke arah Shin Shui dan Yun Mei, tak lama para pengawalnya pun mengikuti dari belakangnya.
Tuan muda itu kira-kira sepantaran dengan Shin Shui, tubuhnya tinggi tegap. Kulitnya agak kuning dengan pandangan mata yang selalu tajam. Wajahnya memang tampan, tapi dibanding Shin Shui dia masih kalah sedikit dibawahnya.
"Halo kawan, bisa kau perkenalkan nama dan asal kalian?" tanya tuan muda itu yang langsung duduk di atas meja Shin Shui.
Tentu saja Yun Mei marah atas hal ini, tapi dengan segera Shin Shui memberikan tanda untuk diam. Sehingga gadis itu hanya menurut dan tak melakukan apa-apa.
"Namaku Shin Shui, dan ini Yun Mei. Kami berasal dari barat dan sedang mengembara," kata Shin Shui tenang meskipun tuan muda itu sudah terbilang kelewatan.
"Ohhh … jadi kalian bukan penduduk asli sini, pantas tidak mengenalku. Perkenalkan namaku Liong Ki Lok, aku anak tunggal dari kepala tetua sekte Awan Biru, ayahku bernama Liong Hui Hai," jawabnya dengan nada angkuh.
"Baik salam kenal," jawab Shin Shui singkat.
Betapa panasnya dada Liong Ki Lok itu saat pemuda yang dihadapannya masih juga tidak memberikan hormat meskipun dia sudah memberitahu siapa dirinya.
"Permisi aku mau melanjutkan perjalanan lagi," kata Shin Shui lalu menarik tangan Yun Mei.
Meskipun anak dari kepala tetua itu belum menjawab, tapi Shin Shui tidak peduli akan hal itu. Justru dia sengaja karena ingin tahu sampai dimana kelakuannya.
Para pengawal Liong Ki Lok itu hendak mengejar, tapi dengan segera tuan mudanya menahan supaya jangan dulu mengambil tindakan.
"Tahan sebentar, kita ikuti dia saja perginya kemana. Jika dia sudah keluar dari restoran ini, baru kita memberinya pelajaran," ucapnya yang dibalas anggukan oleh para pengawal.
Shin Shui pun sudah selesai membayar biaya makannya di restoran itu, sekarang dia sedang berjalan santai sambil menikmati keramaian kota. Entah kemana tujuannya, yang jelas dia ingin segera kembali ke sekte Bukit Halilintar untuk mempelajari Kitab Bayangan.
__ADS_1
Tapi di sisi lain dia juga merasa dilema karena belum memiliki Kitab Tapak Penghancur. Dimana jika dia sudah berhasil memiliki kitab itu, maka Shin Shui sangat yakin bisa memenangkan perang besar pada era kekacauan yang sebentar lagi akan terjadi.
Sementara itu, Liong Ki Lok beserta para pengawalnya sudah membuntuti Shin Shui sedari tadi, mereka sengaja belum mengambil tindakan karena keadaannya masih ramai.
Tapi sekarang, saat Shin Shui sudah memasuki jalan yang sepi, buru-buru dia berlari dan mencegah dua pendekar muda tersebut.
"Berhenti!!!" salah seorang pengawal memberhentikan Shin Shui dan Yun Mei.
Otomatis keduanya pun berhenti dan pura-pura tidak tahu apa yang akan terjadi, padahal tanpa mereka sadari semua ini sudahlah diatur oleh Shin Shui sendiri.
"Ehhh … ada apa ini?" kata Shin Shui.
"Jangan banyak bicara kau bocah sombong. Cepat ikut kami ke sekte Awan Biru!" bentaknya.
"Tapi … apa salah kami?" Yun Mei angkat bicara dengan wajah dibuat panik.
"Jangan banyak bicara. Cepat ikut kami,"
###
Tak lama mereka telah sampai disebuah bangunan yang cukup luas yang tak lain tempat sekte Bukit Awan, didepan gerbang dijaga oleh tiga orang penjaga yang memiliki kekuatan dengan tingkatan Pendekar Bumi tahap enam.
Ketiganya langsung membuka gerbang setelah melihat siapa yang datang. Shin Shui dan Yun Mei terus di giring untuk masuk ke dalam sekte itu.
Para murid yang sedang berlatih pun berhenti sesaat setelah ada orang asing yang di giring bersama rombongan anak kepala tetu itu.
"Cepat masuk!!!" bentak pengawal yang menggiring Shin Shui.
Mereka lalu membawa keduanya ke sebuah ruangan yang cukup besar. Dimana di ruangan itu ada sebuah kursi yang cukup mewah. Kursi itu merupakan tempat duduk Liong Hui Hai.
__ADS_1
"Ada apa ini, dan siapa mereka?" tanya seorang pria tua yang tak lain adalah Liong Hui Hai sendiri.
"Ayah, mereka adalah orang asing yang berasal dari barat. Mereka aku bawa kesini karena telah berlaku kurang ajar kepadaku," ucap Liong Li Kok.
"Lancang!!! Apa yang dikatakan anakku itu benar?" bentak Liong Hui Hai kepada Shin Shui dan Yun Mei.
"Ahhh … tidak. Dia hanya menyuruhku untuk hormat kepadanya, tapi karena aku tidak tahu, aku tidak hormat padanya. Lagi pula aku bukanlah asli kota ini, jadi menurutku tidak pantas aku memberikan hormat kepada anakmu. Apalagi dia bertindak sesuka hati," kata Shin Shui memancing amarah.
"Hehh … bocah sombong. Kau pikir disini kau siapa? Jangan berlagak sombong didaerah kekuasaan Liong Hui Hai,"
Merasa sudah jengkel, tiba-tiba Shin Shin berdiri dari yang tadinya berlutut.
"Kau yang jangan berlagak sombong didepanku orang tua. Memangnya kau pikir kau siapa? Bertindak sesuka hati seolah kau penguasa. Kau pikir aku takut dengan semua ucapanmu dan anakmu itu? Tidak sedikitpun aku merasa takut," jawab Shin Shui dengan menatap tajam.
"Kau … sebenarnya siapa kau? Cepat katakan sebelum kesabaranku habis dan menghancurkan mulut busukmu," bentak Liong Hui Hai.
Tanpa banyak bicara, lalu Shin Shui melemparkan sebuah lencana yang tak lain tanda bahwa dia kepala tetua sekte Halilintar kepada pria tua itu.
Setelah mengetahui lencana dan siapa pemuda yang ada didepannya, tiba-tiba saja wajah pria tua itu berubah menjadi pucat pasi.
"Ka-kau …"
Betapa kagetnya pria tua itu saat tahu bahwa orang asing yang dibawa oleh anaknya merupakan kepala tetua dari sebuah sekte yang sedang naik daun. Tentu saja dia tahu akan sekte Bukit Halilintar, dimana kepala tetuanya merupakan seorang pemuda yang selalu mengguncangkan dunia persilatan beberapa waktu terakhir.
"Ayah … kenapa wajahmu menjadi pucat seperti itu? Siapa mereka sebenarnya?" tanya Liong Ki Lok yang heran melihat perubahan ayahnya.
"Kau membawa harimau kali ini. Dasar anak bodoh, kenapa kau tidak bisa mengenali siapa pemuda itu? Hancur sudah semuanya," ucap Liong Hui Hai dengan nada kesal kepada anaknya.
"Ma-maksud ayah? Aku tidak mengerti apa maksudmu ayah. Aku belum faham," jawabnya.
__ADS_1
Suanasa disana hening sesaat, tidak ada yang berani bersuara. Sedangkan Shin Shui dan Yun Mei, kini keduanya sedang menatap tajam kepada ayah dan anak itu.