
"Tunggu dulu," kata Shin Shui sambil memberi isyarat dengan tangannya.
"Ada apa lagi?"
"Apakah kalian yakin?" tanya Shin Shui sedikit tersenyum.
"Tentu saja … hahaha. Apakah kau takut tuan muda yang kaya?" ejek si gendut.
"Hahh takut? Aku takut dengan pendekar bau tanah seperti kalian? Hahaha … silahkan kalian coba satu-satu dan bertarung denganku. Jika dalam sepuluh jurus kalian bisa melukaiku, maka aku akan memberikan Kwei Moi dan harta yang aku punya. Bahkan diriku juga bebas mau kalian apakan," ejek pemuda biru itu dengan sifat 'gila'nya.
"Sombong!!! Baik, aku terima tantangan itu supaya aku bisa merobek mulutmu," ucap si gendut.
"Jangan banyak ngomong kau gendut. Dengan tubuhmu yang seperti bola bagaimana bisa kau melukaiku?"
"Keparat!!!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba pendekar yang memiliki postur tubuh agak gendut dan berkumis baplang itu langsung menyerang Shin Shui dengan gerakan silatnya.
Gerakannya gesit dan tajam. Bahkan tubuhnya yang terbilang gendut seperti itu pun tidak menjadi halangan untuk dirinya supaya bisa bergerak cepat.
"Satu …"
Si gendut terus menyerang Shin Shui dengan gerakan silat yang dia kuasai. Tapi dengan mudahnya Shin Shui bisa menghindari setiap serangannya.
"Dua …"
Dua jurus telah terlewati, tapi sampai sekarang dia belum bisa melukai Shin Shui. Jangankan untuk melukai, mengenai ujung rambutnya saja rasanya belum. Karena memang Shin Shui bergerak lebih cepat darinya.
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya dia sudah memberikan sepuluh serangan kepada Shin Shui. Tapi sayangnya dia benar-benar tidak bisa melukai pemuda serba biru itu.
Merasa kesal karena dipermainkan, rekan si pendekar gendut dan berkumis baplang yaitu si tinggi kurus dengan luka codet langsung turun tangan.
Dia sudah tidak mengindahkan tantangan Shin Shui yang menyuruhnya untuk menyerang satu-satu sampai sepuluh jurus.
Karena melihat lawannya berlaku curang dan serangan yang datang pun semakin gencar, Shin Shui lalu menyuruh Kwei Moi untuk mengambil jarak dan burung phoenix birunya pun disuruh pergi dahulu supaya pemuda biru itu bisa lebih leluasa melayani keduanya.
__ADS_1
Kini kedua murid Dewa Es Sesat mulai menyerang Shin Shui dengan gerakan silatnya masing-masing. Keduanya terus memberikan serangan yang berbahaya.
Untung saja lawanya adalah Shin Shui, sehingga sampai sekarang pun semua serangan lawanya tidak ada yang berhasil mengenainya.
"Memalukan, ternyata seorang murid Dewa Es Sesat sungguh pengecut. Apa mungkin guru kalian pun seperti ini?" tanya Shin Shui disela-sela menghindari serangan mereka.
Dia sengaja memanas-manasi lawanya supaya semakin tersulut emosinya sendiri. Puluhan jurus sudah berlalu, tapi Shin Shui belum juga membalas mereka.
"Diam kau bocah sombong!!! Kalau ada nyali, jangan menghindar terus. Apa kau takut?"
"Hahaha … baik, baik. Aku akan membalas setiap serangan tak berarti kalian. Jangan salahkan aku jika kalian tewas ditangan seorang pemuda," balas Shin Shui.
Tiba-tiba Shin Shui melompat mundur ke belakang. Lalu dia memperlihatkan tingkat pelatihan yang sesungguhnya kepada dua orang murid Dewa Es Sesat itu sehingga keduanya pun merasa kaget.
Alasannya karena mereka baru menyadari bahwa kekuatan pemuda yang kini sedang bertarung dengannya memiliki tingkat pelatihan diatasnya setingkat. Tepat, kedua murid Dewa Es Sesat memang berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap lima awal.
Jadi wajar saja jika hingga saat ini mereka tidak bisa melukai Shin Shui sedikitpun.
Pertarungan pun berlangsung semakin seru, kini Shin Shui sudah tidak hanya menghindar saja. Pemuda biru itu sekarang mulai membalas serangan mereka.
Kedua pendekar itu terus saja memberikan serangkian serangan pukulan dan tendangan yang mengarah kepada bagian vital Shin Shui. Bahkan sekarang setiap serangan mereka mengeluarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
Saat ini keduanya sudah mengganti serangan pukulan menjadi serangan sebuah tapak yang hebat. Inilah kehebatan Perguruan Tapak Es, perguruan itu memang terkenal dengan jurus silatnya yang diberi nama Tapak Salju Menarik Sukma.
Sehingga keduanya kini menyerang dengan tangan membentuk tapak. Setiap serangan mereka lebih hebat daripada tadi sehingga membuat Shin Shui cukup kerepotan.
Karena pemuda biru itu mulai merasa terdesak oleh serangan kedua pendekar suruhan Dewa Es Sesat, pada akhirnya Shin Shui mulai mengeluarkan jurus silat tingkat tinggi, yaitu Jurus Dewa Mabuk.
Shin Shui melompat mundur ke belakang, lalu dia mengeluarkan seguci arak dari Cincin Ruangnya yang selalu dia sediakan jika butuh disaat seperti ini.
Dia langsung menenggaknya sekaligus sehingga ketika minum pun terdengar suara arak yang masuk ke tenggorokannya. Hanya beberapa saat saja wajah Shin Shui tiba-tiba berubah semerah tomat.
Pandangan matanya mulai kabur. Bahkan dia mulai cegukan. Shin Shui mulai berjalan sempoyongan ke arah kedua lawannya.
"Mari kita lanjutkan pertarungan lagi tua bangka," kata Shin Shui dengan tatapan kabur.
__ADS_1
Kedua pendekar murid Dewa Es Sesat cukup kaget apa yang dilakukan pemuda biru itu. Pasalnya karena mereka belum mengetahui tentang kehebatan Jurus Dewa Mabuk.
Sehingga saat mendengar ucapan Shin Shui, mereka merasa geram sekali dan langsung menyerang dengan tiba-tiba.
Tapi di sisi lain, Shin Shui pun sudah siap dengan kuda-kudanya sehingga ketika serangan kedua pendekar datang, dia bisa menangkis dengan mudah.
Pertarungan dilanjut kembali, tapi betapa kagetnya kedua pendekar itu saat menyadari bahwa serangan balasan dari lawannya amat sukar dibaca.
Shin Shui terus menangkis sambil sesekali membalas serangan dengan gerakan tubuh aneh tapi mematikan. Dia menyerang sambil melangkahkan kakinya sehingga kedua lawannya itu terpaksa harus menahan sambil terpundur.
"Dewa Mabuk Mengincar Arak …"
Shin Shui menambah kecepatan serangannya. Dia terus mengejar walau lawannya selalu menghindar, pukulan yang dikira tidak mengandung tenaga itu ternyata malah sebaliknya. Setiap pukulan yang diberikan Shin Shui mengandung deru angin yang kuat.
Hanya beberapa saat saja keadaan sudah berbalik. Kini giliran kedua murid Dewa Es Sesat yang merasa kewalahan akibat serangan Shin Shui yang sulit untuk ditebak kemana arahnya.
Tak hanya tangan, kali ini kaki Shin Shui pun turut memberikan serangan mematikan kepada lawan. Dia mengincar ulu hatinya, menyerang ke tengah lalu lari ke atas lalu ke bawah, kembali ke tengah dan begitu seterusnya sehingga kedua lawannya bingung.
Semakin berjalannya waktu, Shin Shui semakin mendominasi pertarungan. Karena dia sudah menguasai Jurus Dewa Mabuk sepenuhnya, kali ini pemuda biru itu berniat untuk mengkombinasikannya dengan jurus halilintar.
Tepat ketika melihat celah dari kedua lawan, Shin Shui memberikan sebuah pukulan dari gabungan dua jurus.
"Pukulan Dewa Mabuk Halilintar …"
"WUSHH …"
"Ughhh …"
Shin Shui tepat memberikan pukulan itu pada ulu hati lawan. Kedua murid Dewa Es Sesat itu terpental tiga tombak ke belakang hingga bergulingan. Mereka merasakan sangat sakit dibagian ulu hati, bahkan keduanya merasa sulit untuk bernafas. Tak lama, perlahan darah pun mulai keluar dari mulut mereka.
###
Mohon maaf kalau Cakra Buana belum up ya, karena agak repot mengingat LPH akan mencapai klimaks😁tapi pasti diusahakan supaya Cakra Buana bisa kembali up🙏
Terimakasih yang sudah setia sampai sekarang ini🙏
__ADS_1