
"He-hebat. Terimakasih guru karena sudah mewarisinya kepadaku," kata Shin Shui sambil bersujud tiga kali sebagai tanda penghormatan.
"Hanya kau yang dapat mewarisi ilmu itu muridku. Shui'er, kapan kau akan kenuju ke perbatasan selatan untuk mencari Bunga Seribu Khasiat?" tanya Lao Yi.
"Secepatnya guru. Aku akan kesana, mungkin nanti pun jika guru mengizinkan aku akan berangkat. Jika benar bisa mengobati segala macam penyakit dan racun, maka aku rela mempertaruhkan nyawa demi mereka yang terluka. Senior Yashou, para kepala tetua lain, para murida berbakat, mereka terkena racun hebat. Jika para kepala tetua dan para murid ketika perang, sedangkan senior Yashou terkena racun pada masa lalunya. Sehingga kadang-kadang ia kumat. Karena itulah, aku sudah tidak sabar ingin menuju kesana, masih banyak sesuatu yang harus aku selesaikan guru," kata Shin Shui.
Lao Yi tertegun mendengar kata-kata Shin Shui. Disaat dirinya seperti ini pun, dia masih memikirkan nyawa orang lain. Rasa tanggungjawabnya begitu besar, bahkan seolah-olah dia melakukan apapun bukanlah demi dirinya sendiri, tapi demi orang lain.
"Tidak kusangka kau mempunyai rasa tanggungjawab sebesar itu Shui'er. Kau benar-benar berhasil membuatku bangga," kata Lao Yi lali kembali memeluk Shin Shui.
"Ini semua atas didikan guru dan kedua orang tuaku," kata Shin Shui sambil tersenyum.
"Baiklah. Kita akan berangkat sekarang ke istana kekaisaran lagi. Maaf, aku tidak bisa menemani perjalananmi Shui'er. Aku akan menanti saja di istana, bukan aku tidak mau membantu mereka yang terluka. Tapi karena aku bukan ahli racun, dan memang benar katamu, racun yang ada dalam tubuh mereka racun hebat yang tak mungkin bisa disembuhkan oleh tenaga sejati saja. Karena aku juga tahu, mendiang Raja Iblis Merah mempunyai banyak sesuatu diluar nalar," kata Lao Yi.
"Tak mengapa guru. Biarlah aku yang menuju kesana, guru tunggu saja kepulanganku," kata Shin Shui.
Setelah semuanya selesai, lalu kedua guru dan murid itu melangkah keluar dari Hutan Kematian. Setelah sampai diluar goa, keduanya lalu melesat dengan kecepatan tinggi.
Tak perlu waktu lama, hanya beberapa saat saja Lao Yi dan Shin Shui sudah tiba di dekat gerbang istana. Mereka lalu berjalan ringan menuju ke pintu gerbang.
Para penjaga yang sudah mengetahui siapa itu Shin Shui, lalu memberikan penghormatan. Setelah melewati tiga gerbang istana, barulah guru dan murid itu sampai ke tujuan utamanya.
"Semuanya, beri hormat kepada pahlawan kekaisaran Wei …" seru salah seorang pasukan.
Mendengar komando itu, serentak semua pasukan istana memberikan penghormatan kepada Shin Shui dan Lao Yi. Keduanya lalu di sambut oleh penasihat Mu Ying dan Jendral Gui Huo.
Kedua petinggi ini pun turut berkontribusi besar dalam perang beberapa hari lalu, entah berapa banyak musuh yang tewas ditangan dua petinggi senior ini.
"Selamat datang pahlawan kekaisaran. Silahkan, mari masuk. Kaisar dan yang lain sudah menunggu didalam," kata penasihat Mu Ying.
"Terimakasih senior," jawab Shin Shui sambil tersenyum.
"Maaf, pahlawan, siapakan gerangan ini?" tanyanya kepada Shin Shui sambil menunjuk ke arah Lao Yo dengan ibu jari.
__ADS_1
"Nanti juga akan tahu," kata Shin Shui kembali tersenyum lalu masuk ke dalam diikuti keduanya.
Didalam ruangan yang besar, Kaisar Wei An dan yang lainnya memang sedang berkumpul untuk membicarakan hal-hal penting sambil menunggu kembalinya Shin Shui.
Apalagi Yashou dan Yun Mei, rasa rindunya kepada Shin Shui sudah melebihi rasa rindu kaisar. Ditambah lagi Yashou yang sangat merindukan sahabatnya, yaitu Lao Yi.
Ketika mereka sedang asyik bicara, tiba-tiba pintu terketuk dari luar.
"Silahkan masuk …" kata Kaisar Wei An.
Pintu terbuka. Terlihat ada penasihat Mu Ying sekaligus Jendral Gui Huo seperti membawa dua orang tamu. Lalu ketika keduanya membuka jalan bagi tamu itu, giranglah semua orang yang ada diruangan tersebut.
Shin Shui dan Lao Yi menampakkan dirinya sambil tersenyum ramah kepada semua yang ada disana.
"Salam hormat buat semua yang ada disini …" kata Shin Shui sambil membungkukan badan.
"Shu-Shushi …" Yun Mei langsung berlari menghampiri pria yang sudah dia rindu dan khawatirkan itu.
Yun Mei memeluk Shin Shui secara erat, air mata menetes dari pipinya yang lembut bagaikan salju. Shin Shui membalas pelukan itu, tapi malu-malu. Karena keduanya diperhatikan oleh semua orang.
"Anak muda selalu membuat yang tua-tua iri …" kata Lao Yi sambil menggoda keduanya.
Mendengar ini semua orang pun tertawa senang. Tak lupa juga dengan Shin Shui dan Yun Mei sendiri.
"Silahkan duduk pahlawan," kata Kaisar Wei An.
"Terimakasih kaisar."
"Pahlawan, siapa gerangan yang terhormat ini?" tanya kaisar sambil memandang Lao Yi dengan tersenyum.
"Ahhh … maaf kalau aku lancang kaisar. Ini guruku, Pendekar Guntur," ucapnya sambil mengenalkan Lao Yi kepada semuanya.
Lao Yi tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
"Deggg …"
Jantung orang-orang yang ada disana terasa copot. Nafas mereka seperti tersedak. Tidak pernah disangkanya oleh semua orang itu bahwa mereka bisa bertemu dengan sosok pendekar yang sangat melegenda di kekaisaran Wei.
Semuanya langsung memberi penghormatan yang dalam. Termasuk kaisar sendiri.
"Salam hormat setulus hati untuk senior legenda. Sungguh, tidak pernah terbayangkan bisa bertemu langsung dengan senior agung. Maafkan kebodohan kami yang tidak bisa melihat kebesaran senior," kata Kaisar Wei An.
"Terimakasih kaisar yang lebih terhormat. Sudah, sudah. Aku tidak pantas menerima penghormatan seperti ini, semuanya hanyalah kisah masa lalu. Berdirilah," jawab Lao Yi sambil tersenyum ramah. Semuanya serempak langsung kembali seperti biasa.
"Kaisar, bagaimana keadaan mereka yang terluka kemarin? Apakah sudah ada tanda-tanda membaik?" tanya Shin Shui ketika semuanya sudah kembali tenang.
"Hahhh …" kaisar menghela nafas. "Yang ada malah sebaliknya pahlawan. Kondisi mereka malah semakin buruk, bahkan sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur. Yang lebih parah lagi, mereka sering tidak sadarkan diri. Menurut penuturan tabib, jika dalam waktu satu bulan tidak bisa menemukan penawarnya … maka nyawa mereka akan terancam," keluh Kaisar Wei An.
"Hemmm … begitu ya. Baiklah, aku akan pergi nanti sore untuk mencari obat penawarnya. Bagaimana dengan pemakaman mereka yang gugur?" tanya Shin Shui.
"Obat penawar apa pahlawan? Apakah tidak bisa jika diwakilkan oleh pasukan istana? Mereka siap untuk mencari obat penawar itu. Pemakaman sudah selesai kemarin. Para pahlawan semuanua, sudah dimakamkan secara khidmat dan penuh penghormatan,"
"Tidak bisa kaisar. Bukan suatu hal yang mudah, lagipula tempatnya sangat jauh. Biar aku sendiri yang pergi kesana. Syukurlah jika semua pahlawan sudah dimakamkan, aku menyesal karena tidak bisa menghadiri upacara pemakaman," kata Shin Shui.
"Ahhh … aku memang kaisar yang tidak berguna. Bisanya hanya menyusahkan orang lain saja," ucapnya sambil tersenuim pahit. "Tidak mengapa pahlawan, kami semua mengerti,"
"Jangan bicara seperti itu kaisar. Bahkan kau kaisar yang sangat bijaksana dalam menjalankan tugas, sore nanti aku akan memulai perjalanan." kata Shin Shui.
###
Waktu begitu berjalan dengan cepat, hari sudah mulai sore. Shin Shui pun sudah bersiap untuk melakukan perjalanannya menuju ke perbatasan selatan.
Pemuda biru itu tidak akan ditemani siapa-siapa, kecuali phoenix biru dan juga dua siluman kera bersaudara, San ong dan Ong san.
"Meimei, maafkan aku karena harus meninggalkanmu kembali. Aku harap kau dapat mengerti," kata Shin Shui kepada Yun Mei.
"Aku mengerti Shushi." jawabnya.
__ADS_1
Meskipun ada rasa tidak mengizinkan, tapi Yun Mei faham bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mementingkan diri sendiri.
Setelah persiapan sudah siap dan sudah pamit kepada semuanya. Shin Shui pun lalu pergi dari istana kekaisaran menuju ke perbatasan selatan untuk mencari Bunga Seribu Khasiat.