
Sebenarnya Bwe Li dan Linh Zhi bukanlah wanita sembarangan. Keduanya adalah pasangan guru dan murid yang ditakuti oleh sebagian pendekar.
Tapi tak sedikit juga yang benci kepada keduanya jika sudah mengetahui secara pasti siapa mereka.
Bwe Li dan Ling Zhi dijuluki Dua Bidadari Iblis. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya memang sempurna. Siapapun yang melihat mereka, pasti akan menaruh hati pada keduanya.
Tapi jika dilihat dari kelakuannya, maka siapapun juga pasti akan merasa benci. Guru dan murid itu punya kebiasaan aneh yang lain daripada umumnya.
Dimana mereka suka sekali meniduri para pendekar muda yang berhasil menarik perhatian keduanya.
Entah sudah berapa banyak pendekar muda yang jadi korban nafsu bejatnya. Setiap pendekar muda yang sudah mereka tiduri, pasti akan tewas dengan kondisi tubuh kurus kering.
Guru dan murid itu akan menghisap energi kehidupan pendekar muda yang ia tiduri ketika menyalurkan nafsunya.
Selama ini, belum pernah ada yang gagal dan berhasil lolos dari 'cengkramannya'. Semuanya berjalan mulus. Bahkan dengan cara ini pula Bwe Li dan Ling Zhi meningkatkan kekuatan.
Karena itulah pasangan guru dan murid tersebut dijuluki Dua Bidadari Iblis. Cantik bagai bidadari, tapi kejam bagaikan iblis.
Setelah puas meraba-raba mangsanya, Bwe Li mulai membuka pakaian Shin Shui secara perlahan-lahan sambil sesekali menciumi pipinya.
Shin Shui saat ini dalam keadaan serba salah. Mau berteriak tidak bisa. Mau melepaskan mustahil. Bayangan Yun Mei sudah sejak tadi ada dalam pikirannya.
Sehingga Shin Shui mulai merasakan amarah yang sudah memuncak. Ingin rasanya mencabik-cabik mereka. Tapi sayangnya tidak bisa.
Perlahan tapi pasti, pakaian Shin Shui hampir terbuka seluruhnya. Tapi tepat ketika sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi, tiba-tiba pintu kamar jebol.
Entah bagaimana semuanya bisa terjadi, yang jelas ketiganya pun dibuat kaget. Bwe Li dan Ling Zhi menghentikan niatnya ketika melihat ada seekor burung phoenix biru sudah berada dalam kamarnya.
Belum sempat melakukan apa-apa, tiba-tiba tubuh guru dan murid itu terhempas keluar cukup jauh hingga menghancurkan jendela kamar.
"Phoenix biru. Tidak kusangka kau akan datang tepat waktu," kata Shin Shui bahagia karena peliharaannya menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
Siapa sangka, phoenix biru malah terlihat tak senang. Tanpa banyak bicara dia melepaskan ikatan itu dengan cara dipotong memakai ujung sayapnya.
"Kita hadapi mereka dulu, tidak ada gunanya bicara disaat seperti ini. Rapikan dirimu lalu lawan mereka," kata phoenix biru dengan nada dingin.
Shin Shui kebingungan oleh perlakuan hewan peliharaannya tersebut, tidak seperti biasanya dia seperti ini. Tapi sekarang memang bukan waktu yang tepat untuk bicara.
Lalu diapun merapikan dirinya kembali dan langsung melompat keluar dimana ada Bwe Li dan Ling Zhi yang baru saja berdiri akibat hempasan phoenix biru tadi.
"Burung sialan, mengganggu kesenangan orang saja. Cari ****** kau …" bentak Bwe Li.
"Makhluk rendahan, kau tidak pantas disebut manusia. Kalian hanya memperburuk citra wanita saja," jawab burung phoenix biru.
Keduanya sedikit kaget ketika mengetahui bahwa burung itu ternyata bisa bicara. Meskipun sebagian siluman memang bisa bicara, tapi lain kasus dengan burung yang ada didepannya kini.
"Kau cari mati …"
"WUSHH …"
Burung phoenix biru memutarkan tubuhnya seperti gasing, sehingga kesemua jarum beracun itu rontok berjatuhan persis didepannya.
"Mainan anak-anak," ejeknya.
Seketika wajah guru dan murid tersebut merah padam mendengar ucapan phoenix biru itu.
"Ling Zhi, kita habisi mereka. Aku paling tidak suka dipandang rendah," kata Bwe Li sambil mencabut kipas pusaka dibalik pinggangnya.
"Baik guru," Ling Zi pun tak mau kalah. Dia melepas selendang hijaunya.
"Phoenix biru, apakah kita harus bertarung melawan mereka?" tanya Shin Shui sedikit ragu.
"Terserah. Mau membela mereka pun tak masalah," jawab burung legenda itu yang nampak sangat kesal.
__ADS_1
Shin Shui tidak bicara lagi. Dia hanya melirik burung phoenix biru. Dia sudah tahu bahwa hewan peliharaannya itu sedang marah padanya.
"Karena kalian ternyata iblis, maka maafkan aku jika terpaksa harus menurunkan tangan kejam," kata Shin Shui lalu mencabut Pedang Halilintar dari punggungnya.
"WUSHH …"
Pemuda biru itu langsung melesat tanpa banyak bicara lagi. Shin Shui menyerang Ling Zhi secara ganas. Sedangkan phoenix biru menyerang Bwe Li.
Pertarungan ini memang seperti ganjil, sebab yang satu harus melawan seekor burung phoenix. Tapi sebenarnya, pertarungan ini lebih menegangkan daripada pertarungan Shin Shui melawan Tiga Golok Setan beberapa saat lalu.
Saat ini keduanya sudah saling serang. Shin Shui mengayunkan Pedang Halilintar ke Ling Zhi tanpa sungkan lagi. Dia menyerang bagian rawan. Gerakannya cepat dan mematikan, tapi diluar dugaan, Ling Zhi bisa mengimbangi dirinya.
Selendang hijau yang nampak indah itu, ternyata bisa menjadi lemas ataupun keras. Selendang itu bisa dibuat sedemikian rupa olehnya.
Sedangkan phoenix biru, dia menyerang Bwe Li dengan jurus-jurusnya sendiri. Dia mengepakan sayap yang menimbulkan deru angin tajam atau bahkan memberikan serangan cakarnya.
Belasan jurus sudah terlewati oleh keduanya. Tapi belum ada yang terlihat terpojok.
"KEAKK …"
"WUSHH …"
Gelombang angin akibat kepakan sayap phoenix biru dan suara yang sanggup memecah gendang telinga menyerang Bwe Li. Tapi dengan mudahnya dia menghindar sehingga serangan phoenix biru hanya mengenai sebuah pohon yang agak besar.
Akibatnya adalah pohon itu langsung hancur bahkan terlihat gosong. Bwe Li pun kaget melihat hal ini.
"Dia ternyata bukan burung biasa. Aku tidak bisa main-main lagi denganya," gumam Bwe Li sambil memandang tajam phoenix biru.
###
Jangan lupa likenya ya😁
__ADS_1