
"Sekali lagi aku bertanya, siapa kalian?" kata Shin Shui dan kali ini suaranya diisi oleh tenaga dalam. Sehingga suara itu mampu membius ketiga orang aneh.
"Kami … kami …"
"Kami ingin memakanmu … hahaha …"
"Ya ya ya benar. Kau akan kami panggang … hahaha," ketiganya lalu kembali tertawa dengan kencang.
"Mari kita tangkap mangsa kita ini …" kata salahsatu diantara mereka.
Lalu dengan gerakan tiba-tiba, ketiga orang aneh tersebut mulai menyerang Shin Shui. Tiga tombak yang amat tajam itu telah terhunus dan siap menusuk tubuh Shin Shui.
Dengan sigap pula Shin Shui melompat mundur lalu mengambil sikap waspada. Pemuda biru itu tidak merasakan tenaga dalam dari ketiga orang aneh tersebut. Tapi menurut penilaiannya, ketiga orang itu mempunyai kekuatan fisik yang begitu kuat. Bahkan lebih kuat sedikit diatas dirinya sendiri.
Dengan gerakan yang tiba-tiba, ketiga orang aneh tersebut lalu menyerang Shin Shui dari tiga arah. Gerakan serangannya pun tak kalah cepat dari para pendekar yang selalu menggunakan tenaga dalam kerika bertarung.
Benar dugaan Shin Shui, kekuatan fisiknya sangat kuat. Terlihat dari setiap serangan yang mengandung tenaga fisik dalam jumlah besar. Sinar-sinar dari tombak tersebut mulai terlihat berkelebat kesana-kemari.
Gerakan silat ketiga orang tersebut sangat aneh dan sangat unik. Meskipun saat ini mereka sedang bertarung, tapi tetap saja mereka masih bisa berjingkrak-jingkrak. Bahkan tak jarang ketiganya menyerang sambil memutarkan tubuhnya.
Karena ketiga orang tersebut tidak memiliki tenaga dalam, Shin Shui pun lalu membalas semua serangan mereka dengan hanya mengandalkan tenaga fisik saja. Tentunya tidak menggunakan Pedang Halilintar. Dia hanya menggunakan tangan kosong saja.
Keempat orang tersebut akhirnya bertarung dengan sengit, suara ketiga tombak yang kadang beradu dengan rekannya pun terdengar nyaring. Sinar putih dari mata tombak terlihat indah.
Di sisi lain, Shin Shui pun terus menahan semua serangan mereka yang ternyata cukup berbahaya tersebut. Dia mengeluarkan salahsatu ilmu silat yang dia pelajari ketika berlatih di gunung Siluman.
Puluhan jurus sudah terlewati, tapi Shin Shui belum bisa merobohkan ketiga orang aneh tersebut. Karena beberapa kali pukulannya berhasil mengenai tubuh lawan dengan telak, tetap saja mereka mampu berdiri kembali. Bahkan seperti tidak merasakan sakit setiap pukulan Shin Shui mendarat pada tubuh mereka.
Karena pemuda biru itu sudah mulai bosan dan cukup lelah, dengan terpaksa Shin Shui mengeluarkan seluruh kekuatan fisiknya.
__ADS_1
Shin Shui tiba-tiba mengubah arah gerak serangannya. Kali ini lebih cepat daripada tadi dan lebih berbahaya. Tepat ketika sampai seratus jurus, Shin Shui berhasil memberikan sebuah totokan pada masing-masing dada ketiga orang aneh.
Sehingga mereka mendadak terdiam seperti patung. Ketiganya tidak dapat bergerak sama sekali kecuali hanya bisa menggerakkan bagian leher ke atas saja.
Setelah berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan seluruh tubuh namun tidak bisa, akhirnya ketiga orang aneh itu terlihat pasrah. Tatapan mata yang tadinya tajam kini menjadi ketakutan. Dari tatapan matanya, mereka seperti ingin bicara minta maaf, namun tidak berani bersuara.
Karena merasa kasihan, akhirnya pemuda biru itu melepaskan totokannya sehingga membuat ketiga orang aneh bisa bergerak leluasa kembali. Tapi meskipun sudah bebas, mereka tidak segera pergi. Melainkan hanya berdiri saling pandang dengan rekan-rekannya.
"Daritadi aku bertanya selalu tidak dijawab oleh kalian. Sebenarnya kalian siapa dan mau apa? Cepat katakan dengan jujur," kata Shin Shui, tapi kali ini nadanya agak tinggi.
"Ka-kami, penunggu hutan ini. Ya ya, kami penunggu hutan ini. Kami ingin makan, kami lapar,"
"Ya ya, kami lapar. Kami ingin makan daging. Maafkan kami dewa," kata mereka lalu bersujud didepan Shin Shui karena mengira pemuda itu adalah dewa.
"Eh sudah, sudah. Tidak perlu seperti itu. Kalau kalian ingin makan daging, nanti aku carikan. Tak perlu seperti ini," kata Shin Shui lalu membangunkan ketiganya.
"Terimakasih dewa, terimakasih,"
"Ah … baik Shin Shui, baik,"
"Nah begitu. Tunggulah, aku akan mencarikan daging untuk kalian," ucap Shin Shui lalu meninggalkan ketiganya.
Setelah cukup jauh, Shin Shui lalu mengeluarkan kembali phoenix biru dari Kantong Siluman. "Phoenix biru, tolong kau carikan seekor kijang untuk dipanggang," kata Shin Shui menyuruh phoenix biru.
Meskipun dalam gelap sangatlah susah untuk mencari seekor kijang, tapi semua itu bukanlah halangan bagi burung phoenix biru. Apalagi burung itu terkenal sebagai burung pemangsa yang sangat handal.
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, kurang dari seratus tarikan nafas saja burung phoenix biru itu sudah kembali sambil membawa satu ekor kijang berukuran besar yang di cengkram dicakarnya yang begitu tajam dan kuat.
Shin Shui dan phoenix biru pun lalu kembali ke tempat dimana ada tiga orang yang mengaku penunggu hutan tersebut. Betapa senangnya mereka ketika melihat Shin Shui kembali dengan membawa seekor kijang.
__ADS_1
Ketiganya pun lalu kembali berjingkrak sambil bernyanyi riang. Shin Shui lalu menyuruh ketiganya untuk mengurusi kijang itu. Setelah selesai, mereka lalu memanggangnya.
Selama memanggang kijang, para penunggu hutan itu pun terus saja berjingkrak-jingkrak sambil bernyanyi riang gembira. Tapi sayangnya, nyanyian yang mereka lagamkan tidak difahami sama sekali oleh Shin Shui.
Setelah kijang matang, mereka pun lalu segera menyantapnya dengan lahap. Shin Shui hanya memakan sedikit saja, sedangkan sisanya diberikan kepada ketiga penunggu hutan.
Tak lupa juga pemuda biru itu mengeluarkan dua guci arak sebagai pelengkap dan juga untuk menghangatkan tubuh.
"Hei, apakah kalian tahu tentang gunung San-ong?" tanya Shin Shui setelah meneguk araknya.
Ketiganya saling pandang dan agak keheranan. Karena menurut mereka, belum pernah ada orang luar yang mencari letak gunung tersebut.
"Ya ya, kami tahu, kami tahu. Tapi, ada keperluan apa kau menanyakannya?" tanya salahsatu dari mereka.
"Ada sebuah urusan yang harus aku selesaikan disana. Kalau kalian tahu, besok pagi antarkan aku kesana ya, apakah kalian mau?"
"Tentu, tentu. Kami pasti mau. Ah … minuman ini enak sekali," ucapnya yang menyebut bahwa minuman yang tak lain adalah arak ternyata memiliki rasa yang enak.
"Hahaha … ini namanya arak. Jika kalian besok mengantarkanku ke gunung San-ong, maka aku akan memberikan kalian arak satu-satu," ucap Shin Shui sambil tersenyum.
Tentu saja mereka merasa girang, kembali ketiganya berjingkrak sehingga Shin Shui tertawa geli melihat tingkah laku mereka. Mungkin jika merasa senang, ketiga penunggu hutan itu akan selalu berjingkrak, pikir Shin Shui.
Setelah semuanya selesai, keempat orang itu pun tertidur didekat api unggun dengan pulasnya. Sedangkan phoenix biru memilih untuk tidur diatas pohon sambil menjaga situasi.
###
Dua lagi nanti ya. Repot ni biasa hehe, semoga kalian terhibur.
Oh iya, mohon maaf lahir batin ya. Apalagi ada salahkata atau yang tidak berkenan dihati para pembaca, author meminta maaf dari hati yang dalam🙏minal aidzin walfaidzin🙏
__ADS_1
Semoga sehat selalu🙏semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Aamiin🙏
Untuk novel selanjutnya nanti bakal diumumkan kapan rilis. Yang jelas ini bakal sedikit berbeda dari LPH. Karena akan menggunakan bahasa hokkien. Seperti halnya cerita silat dahulu🙏