
Hari sudah siang, para murid sedang beristirahat dan bersiap untuk melakukan makan siang bersama. Keadaan di Perguruan Bukit Awan belum jauh berbeda, tapi yang paling menonjol adalah sekarang orang-orang disana selalu makan bersama ketika jam makan tiba.
Hal ini dikemukakan oleh Shin Shui, tujuannya supaya para guru dan murid bisa lebih akrab nantinya. Hal ini juga bisa menambah erat hubungan antara guru dan murid.
Saat ini semua orang-orang Bukit Awan sudah berkumpul dilapangan tempat latihan, termasuk Shin Shui dan Yun Mei sendiri. Mereka akan kembali melakukan makan siang bersama.
Panasnya terik matahari tidak menyurutkan niat kesemua orang itu, karena makan bersama orang banyak sungguh nikmat sekali rasanya.
Shin Shui berniat untuk segera menyantap makanan, tapi saat dia hendak memasukan makanan itu ke mulutnya, tiba-tiba perasaannya merasakan sesuatu yang buruk.
Pemuda itu tiba-tiba merasakan aura pembunuh yang sangat kuat sedang menuju ke tempatnya berdiam, yaitu Bukit Awan. Dengan segera pemuda itu melangkahkan kakinya menuju keluar gerbang untuk melihat keadaan.
"Ada apa Shui'er? Kenapa kau terlihat seperti panik?" tanya Yashou yang menyadari kepanikan terlukis diwajah Shin Shui.
"Ah tidak senior, lanjutkan saja acara makan siangnya. Aku nanti segera menyusul, diluar sana ada tamu tak diundang sedang menuju kesini," kata Shin Shui seraya tersenyum lembut.
Belum sempat pria tua itu menjawab, Shin Shui sudah melesat ke depan gerbang. Melihat Shin Shui seperti itu, para murid dan yang lainnya penasaran, tapi mereka tidak berani menanyakannya.
Yashou dan yang lainnya kini baru menyadari apa yang dimaksud oleh Shin Shui, mereka semua pun turut menyusul Shin Shui ke pintu gerbang.
Shin Shui cukup kaget ketika melihat rombongan pendekar dengan menunggangi kuda yang jumlahnya cukup banyak. Jarak dirinya dengan mereka kira-kira sekitar seratus meter saja.
Tapi saat Shin Shui menyadari siapa yang menjadi pemimpin dalam rombongan tersebut, pemuda biru itu sudah tidak kaget lagi. Dia sudah mengerti dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Aku tidak menyangka jika dia benar-benar datang kesini. Tapi aku lebih tidak menyangka saat tuan muda bodoh itu membawa pasukan sewaan. Hemmm … memalukan," kata Shin Shui bergumam sendiri seraya menatap tajam ke rombongan tersebut.
Rombongan tersebut kini telah tiba di Bukit Awan, jarak mereka dan Shin Shui mungkin sekitar dua puluh meter saja. Rombongan pendekar itupun segera berhenti ketika mendapat tanda dari sang pemimpin.
__ADS_1
"Heh bocah, cepat kau minta maaf kepada keluarga Liu atas kejadian beberapa hari lalu, kalau tidak maka aku akan membunuhmu sekaligus menghancurkan tempat ini." ucap pemimpin tersebut yang tak lain adalah ayah dari Liu Wu Zen, yaitu Liu Kay Chen.
"Hahaha … minta maaf? Sampai matahari tidak muncul kembali pun aku tidak akan meminta maaf kepada keluarga yang pengecut, terutama kepada anakmu yang tidak bermoral sekaligus tidak bernyali," kata Shin Shui sembari tertawa mengancam.
"Sombong … apa kau pikir aku tidak bisa membunuhmu sekaligus menghancurkan tempat ini?" Liu Kay Chen berkata dengan nada cukup tinggi kepada Shin Shui.
"Apakah kau pikir juga bahwa aku tidak bisa menghancurkan seluruh keluargamu sekaligus pasukan yang kau bawa ini?" Shin Shui balik mengancam dengan alis terangkat.
Di sisi lain, Yashou dan yang lainnya sudah tiba di belakang Shin Shui, mereka cukup kaget ketika melihat rombongan pendekar yang cukup banyak ini. Terlebih karena didalam rombongan itu ada beberapa Pendekar Dewa.
Sebenarnya bukan masalah besar bagi Yashou jika harus menghancurkan rombongan tersebut, tapi jika mereka menyerang secara bersamaan? Maka masalahnya akan berbeda lagi.
"Shui'er, ada apa ini? Kenapa mereka kesini dengan membawa rombongan sebanyak ini?" tanya Yashou.
Kepanikan sudah terlukis di wajah pendekar tua itu, bahkan semua orang-orang Bukit Awan pun merasakan ketakutan yang sama, tapi Shin Shui masih tetap tenang dan bahkan tersenyum lembut.
"Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang akan kau lakukan?" taya Yashou.
"Tenang saja, aku akan membereskan semut-semut ini senior."
"Semuanya, aku minta kepada kalian jangan ada yang ikut campur. Biarkan tanganku sendiri yang membereskan masalah ini. Sekaligus akan aku bereskan keluarga pengecut ini. Aku tidak perduli meskipun keluarga Liu merupakan keluarga bangsawan sekalipun. 'Derajat manusia tetap sama. Hanya posisinya saja yang berbeda," kata Shin Shui menyuruh yang lainnya supaya tidak ikut campur.
"Shui'er, apa kau yakin akan menghadapi mereka seorang diri?" tanya Yashou.
Pendekar tua itu jelas khawatir, sebab meskipun Shin Shui bisa mengalahkan mereka tapi tentunya harus membutuhkan tenaga dalam dengan jumlah besar. Tapi bagi Shin Shui, tenaga dalam bukanlah persoalan karena dia sudah memiliki Kalung Kristal Halilintar.
"Aku yakin senior. Aku meminta tolong padamu, jangan sampai ada yang membantuku meskipun aku harus tewas dalam pertarungan nanti," kata Shin Shui dengan mantap.
__ADS_1
"Tapi…"
Yashou tidak melanjutkan kata-katanya ketika Shin Shui memberikan tanda untuk tidak berkata lagi dengan tangannya.
"Hahhh … baiklah," pendekar tua itu hanya bisa mendesah berat.
"Semuanya, dengarkan apa yang diucapkan oleh Shui'er barusan, jangan ada yang ikut campur!" kata Yashou kepada murid-muridnya.
Di sisi lain Yun Mei merasa cemas, meskipun dia sudah mendengar cerita tentang kehebatan Shin Shui, tapi tetap saja gadis itu merasa khawatir karena belum pernah melihat kekuatan Pendekar Halilintar yang sesungguhnya.
"Mau dimulai sekarang? Kalian mau aku membunuh secara menyakitkan atau bagaimana? Mau mengeroyokku atau satu lawan satu? Hemmm … tapi semua maju pun aku tidak akan mundur walau satu langkah. Aku bukan pengecut seperti keluarga Liu yang tidak memiliki harga diri," kata Shin Shui memanas-manasi Liu Wu Zen dan Liu Kay Chen.
Mendengar ucapan pemuda tersebut ayah dan anak itu merasa darahnya benar-benar mendidih. Bagaimana mungkin ada seseorang yang berani menghina keluarga Liu seperti itu? Apa pemuda itu tidak tahu siapa keluarga Liu?
"Sombong sekali kau bocah. Orang sombong sepertimu pantas mati," kata Liu Kay Chen dengan nada tinggi.
"Hebat, hebat, masih saja bersilat lidah dalam keadaan seperti inipun, ucapanmu manis sekali. 'Ada kalanya kita harus lebih sombong kepada orang yang sombong supaya kalian sadar," kata Shin Shui sembari bertepuk tangan pelan.
"Kauuu … bunuh bocah itu, hancurkan tempat ini," ucap Liu Kay Chen dengan marah.
"Sekali saja kalian membuat goresan Perguruan Bukit Awan, aku pastikan keluarga Liu yang berada dimanapun akan tewas," kata Shin Shui.
Yashou dan para murid yang menyadari Shin Shui sudah sedikit naik darah langsung mundur, mereka tidak ingin terkena imbasnya.
"Hanya dikomandoi oleh Pendekar Dewa tahap dua? Sepuluh Pendekar Dewa tahap dua pun tidak akan mampu membunuhku," ucap Shin Shui memancing amarah musuhnya.
Pemuda itu tidak diam sekarang, dia mulai mengeluarkan kekuatan aslinya. Matanya perlahan mengeluarkan kilatan halilintar, langit yang cerah mendadak mendung, matahari pun mendadak lenyap dari pandangan, suara gemuruh halilintar mulai terdengar menggelar di area itu.
__ADS_1