
Kini semua orang yang menyaksikan pertarungan terkahir barusan bersorak-sorai dengan gembira menandakan kemenangannya. Mereka saling berpelukan dan menangis karena saking bahagianya.
Udara yang tadinya pekat oleh hawa kematian dan energi-energi yang berlawanan, kini berangsur-angsur kembali normal. Langit yang kelam mendadak cerah. Angin yang hilang mendadak datang. Dan burung-burung serta binatang lain yang tadinya bisu, kini sudah kembali terdengar bersuara.
Shin Shui pun tersenyum mendengar kebahagiaan semua orang. Ya, benar. Tersenyum, tersenyum sambil menangis haru. Karena untuk saat ini, hanya itulah yang bisa dia lakukan.
Selain terbaring lemah dan menahan rasa sakit, memang saat ini Shin Shui bisa apa? Tubuhnya terasa remuk. Bahkan seluruh pusat tenaga dalamnya hancur berantakan. Urat-urat syarafnya bergeser ke sembarang tempat.
Darah masih saja keluar dari mulutnya. Ini semua bukan berarti dia lemah, tapi justru karena dia kuat. Jika yang mendapat luka seperti ini adalah orang lain, sudah pasti mereka akan tewas daritadi mula.
Lao Yi membalikkan tubuhnya ke arah Shin Shui. Dia berniat untuk memeriksa luka dalam yang dialami oleh murid yang amat dia sayangi itu.
Tapi niatnya ditunda dulu, karena berbarengan dengan itu, Yashou pun melesat ke arah guru dan murid itu. Tidak ada yang berani mengejar, karena semua orang saat ini sedang merasa bahagia.
"Sahabatku … apakah ini … ini ka-kau? Lao Yi si Pendekar Guntur?" tanya Yashou dengan bibir bergetar ketika memandang sahabat lamanya tersebut.
"Benar kakek belalang. Ini aku, Lao Yi," jawab Lao Yi sambil tersenyum.
"Ka-kau, benar-benar sahabatku. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi kilat listrik," ucap Yashou langsung memeluk Lao Yi dengan haru.
Dua orang sahabat lama bertemu, mereka meneteskan air mata kerinduannya selama ini. Rindu yang sudah dipendam sekian lamanya, rindu yang selama ini kadang selalu mengganggu tidurnya.
__ADS_1
Keduanya berpelukan dengan erat cukup lama. Kehangatan dan kenyamanan dirasakan oleh mereka. Sahabat lama, sahabat setia. Sahabat yang tidak pernah saling melupakan.
Inilah yang dinamakan sahabat sejati. Sahabat sehidup semati. Masih adakah sahabat seperti mereka berdua ini? Yang mulai dari muda hingga tua tidak pernah saling melupakan? Masih ada?
Ataukah saat ini dunia lebih dipenuhi oleh sahabat sesaat saja? Ataukah dunia memang sudah dipenuhi oleh sahabat yang akan lupa ditelan masa? Entahlah.
Tapi mungkin sahabat yang seperti mereka ini sudah jarang sekali ditemui meskipun itu memang ada. Pasti saat ini dunia lebih dipenuhi oleh sahabat tipe kedua daripada tipe pertama.
"Kakek belalang, apa kabar dirimu? Apakah kau baik-baik saja selama ini? Kulihat kau semakin tua renta, berbeda denganku yang kembali seperti muda … hahaha," kata Lao Yi tertawa.
"Aku baik-baik saja. Selama ini Shui'er menjagaku. Ahhh … kau bisa saja kilat listrik, dari dulu sifatmu selalu tidak berubah. Selalu saja tidak sadar diri … hahaha," kata Yashou kembali mengejek.
'Kakek belalang' dan 'kilat listrik' adalah panggilan khas keduanya. Mereka sudah sangat akrab bahkan seperti adik kakak, jadi mau bicara apapun pastilah tahu bahwa itu sebuah candaan atau bukan.
"Orang tua kalau sudah bercanda sama saja," gumam Shin Shui. Ucapannya pelan, tapi bisa terdengar oleh keduanya hingga membuat mereka sadar.
"Hahaha … maafkan kami Shui'er. Beginilah jika kami berdua sudah bertemu dan bercanda. Kadang-kadang kami akan seperti anak kecil," kata Yashou sambil tersenyum.
"Kakek belalang, aku akan membawa muridku dulu. Dia terluka parah, semoga saja aku bisa mengobatinya. Kau uruslah disini sampai selesai, satu minggu kemudian aku akan kesini lagi bersama dengan muridku," kata Lao Yi kepada Yashou.
"Ahhh … baiklah-baiklah. Awas saja kalau kau tidak kesini, aku akan menyirammu dengan air supaya kau tersetrum … hahaha," kata Yashou.
__ADS_1
"Hahaha … aku akan menyentuh tubuhmu pula supaya ikut tersetrum … hahaha. Aku pergi dulu tua bangka," kata Lao Yi sambil mengangkat lalu membopong tubuh Shin Shui.
"Baik. Sampai ketemu kembali …" kata Yashou.
Lao Yi hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian dia pergi dengan membawa Shin Shui. Hanya sekejap mata, guru dan murid itu sudah menghilang dari pandangan.
"Hahhh …" Yashou menghela nafas berat. "Guru dan murid yang sangat mengagumkan. Keduanya sama-sama luar biasa, beruntung aku bisa mengenal mereka," lirih Yashou sambil tersenyum sendiri lalu kembali lagi ke tempat dimana berkumpul semua orang.
Perang besar sudah berakhir. Pada akhirnya aliansi besar aliran putih bisa memenangkan perang ini. Meskipun banyak nyawa yang harus menjadi korban, tapi mereka bahagia karena bisa gugur di medan perang.
Mereka tidak menyesal, justru merasa sangat bangga. Karena mereka sudah termasuk pahlawan yang gugur saat membela tanah airnya. Nama mereka akan dikenang sepanjang masa sebagai seorang "pahlawan sejati".
Saat ini semuanya sedang melamun sambil memandangi lapangan yang begitu luas berubah menjadi tempat bertumpuknya mayat-mayat manusia.
Lapangan yang tadinya asri dan mengandung udara segar. Kini berubah menjadi lapangan yang 'menakutkan' dan berbau tak wajar. Tapi apa mau dikata? Semuanya sudah menjadi takdir. Semuanya memang sudah ditentukan harus terjadi seperti ini.
Tapi setidaknya, perjuangan mereka. Perjuangan orang-orang yang gugur, dan perjuangan orang-orang yang membela negaranya ada hasil. Hasil yang membawa masa depan cerah bagi generasi berikutnya.
Tapi meskipun perang ini sudah berkahir, pasti akan banyak lagi kejahatan-kejahatan yang terlahir kembali. Ada siang ada malam. Ada bulan ada matahari. Ada gelap ada terang. Dan ada kebenaran ada pula kejahatan.
Jika semua ini sudah tidak saling berlawanan lagi, maka hancurlah keseimbangan dunia. Justru yang demikianlah yang menjadi 'pewarna' dalam kehidupan ini. Yang seperti inilah yang membuat hidup menjadi lebih terasa. Yang seperti inilah yang membuat hidup menjadi lebih hidup.
__ADS_1
###
Semoga terhibur ya🙏selamat malam Minggu☕