
Shin Shui segera pergi meninggalkan tempat tersebut, dia langsung ingin menuju ke hutan tempat Singa Hitam berasal dan segera mengembalikannya.
Pertarungan tadi menyisakan bekas yang mendalam bagi Shin Shui, dia semakin bertekad untuk cepat memperkuat ilmu bela dirinya supaya bisa menguasai semua jurus yang belum bisa digunakan sepenuhnya.
Ditempat pertarungan tadi …
Empat orang datang ke bekas tempat bertarung antara Shin Shui dan Pendekar Rantai Hitam. Mereka nampak sedang memeriksa akibat pertarungan itu.
Empat pendekar itu memakai pakaian berwarna merah dengan simbol kepala macan kumbang dibelakangnya.
"Apa pemuda tadi adalah pemuda yang membunuh tetua Dewi Laba-laba?" salah seorang diantara mereka membuka suaranya.
"Sepertinya begitu, ciri-ciri yang diberikan oleh kepala tetua Lin sama persis dengan pemuda tadi," timpal salah seorang lainnya.
"Baiklah, kita ikuti kemana bocah itu pergi. Jangan sampai buruan kita lepas, sekte Macan Kumbang sudah terkenal dengan kecepatannya mengejar buronan. Jadi … kita jangan sampai mempermalukan sekte dan membuat kepala tetua Lin kecewa," ucap yang lainnya.
"Baik. Aku yakin jika kita menggabungkan kekuatan, pemuda itu tidak akan bisa mengalahkan kita. Jangan harap pemuda sialan itu bisa bertahan setelah merasakan kekuatan tetua sekte Macan Kumbang."
Keempat pendekar yang ternyata merupakan tetua dari sekte Macan Kumbang pergi meninggalkan tempat itu. Mereka akan mengikuti Shin Shui dari belakang dan berniat untuk membunuhnya.
Tentunya mereka akan membalaskan dendam atas kematian sang Dewi Laba-laba dan juga Pendekar Lima Serangkai. Mereka diperintahkan langsung oleh kepala tetua sekte Macan Kumbang, Lin Jun.
###
Saat ini Shin Shui sedang berjalan biasa, dia tidak ingin menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Badannya masih merasakan sisa sakit akibat pertarungan tadi.
Karena situasi disana terbilang sepi, Shin Shui berniat untuk mengeluarkan siluman Singa Hitam dari Kantong Siluman miliknya. Dia mengambil Kantong Siluman yang tersimpan di Cincin Ruang.
__ADS_1
Setelah mengambilnya, Shin Shui lalu membuka penutup Kantong Siluman. Seketika itu juga, tiga buah siluman Singa Hitam keluar dan muncul didepan Shin Shui.
"Hei … apakah rumahmu masih jauh dari sini?" tanya Shin Shui kepada induk Singa Hitam.
"Lumayan tuan muda. Sekitar satu jam perjalanan lagi," jawab Singa Hitam itu.
"Terimakasih karena tuan muda sudah membantu mengembalikan anak-anakku. Aku berhutang budi padamu," induk Singa Hitam menundukkan kepala didepan Shin Shui dan berterimakasih karena sudah mengembalikan anak-anaknya.
"Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membantu sesama makhluk hidup. Tidak perlu seperti itu padaku." jawab Shin Shui diiringi dengan senyuman.
Mereka lalu berjalan beriringan, suasana dihutan sana nampak hening. Binatang-binatang penghuni hutan berlari ketakutan setelah mengetahui kedatangan Singa Hitam.
Alasan binatang-binatang lain berlari karena beberapa waktu terakhir saat anak Singa Hitam dicuri, mereka terkena amarah Singa Hitam tersebut. Ratusan binatang mati olehnya.
Pasalnya, Singa Hitam adalah salah satu penguasa yang ada dihutan itu. Tidak ada yang berani melawan walaupun sudah banyak binatang tak bersalah terbunuh.
Ternyata rumah yang dimaksud olehnya tak lain adalah sebuah goa. Goa itu cukup lebar, tumbuh-tumbuhan sudah banyak yang menempel di dinding goa.
Shin Shui diajak masuk kesana untuk sekedar singgah sebentar. Shin Shui tak menolak, dia juga ingin berisitirahat walau sebentar.
Waktu terus berlalu dengan cepat, tak terasa Shin Shui tertidur di dalam goa yang ditempati Singa Hitam selama satu jam.
Sekarang pemuda itu berniat untuk melanjutkan perjalanan kembali, dia tidak ingin menunda waktu terlalu lama. Baginya 'waktu adalah pedang, jika tidak digunakan dengan baik maka akan membunuh diri sendiri'.
"Singa Hitam, terimakasih kau sudah mengizinkanku untuk beristirahat ditempat ini. Aku pamit akan melanjutkan perjalanan ke Bukit Awan," ucap Shin Shui berpamitan kepada siluman Singa Hitam.
"Ah … baik tuan muda. Terimakasih sudah membantuku, aku tidak akan melupakanmu. Jika ada waktu luang, berkunjunglah kesini," kata Singa Hitam.
__ADS_1
"Tentu, suatu saat aku ingin berkunjung lagi kesini. Jaga anak-anakmu dengan baik."
"Jadilah anak yang baik dan lindungi ibumu singa kecil." ucap Shin Shui sembari mengelus kepala salah satu anak Singa Hitam.
"Selamat tinggal … sampai jumpa lagi." kata Shin Shui sembari berlalu pergi.
Dia langsung melesat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Shin Shui merasa badanya sudah bugar, jadi dia tidak mau berjalan santai seperti sebelumnya.
Suasana disana masih sama seperti tadi. Hening dan sedikit menyeramkan. Tapi bagi dirinya, keadaan ini masih jauh lebih baik daripada keadaan Hutan Kematian.
Shin Shui melesat tanpa henti. Tapi saat ditengah perjalanan, pemuda itu melihat seperti ada sesuatu yang sudah menunggu didepan sana. Semakin dekat sesuatu itu semakin jelas terlihat oleh mata.
Shin Shui menghentikan larinya, dia terdiam disebuah dahan pohon yang cukup besar sembari mengawasi situasi didepan dengan teliti. Jarak antara dirinya dengan sesuatu yang mencurigakan itu sekitar dua ratus meter.
"Hemmm … sepertinya itu adalah sekelompok pendekar. Apakah mereka berniat untuk mencegahku? Tapi kalau iya, aku merasa tidak ada masalah dengan mereka." gumam Shin Shui sembari terus memperhatikan sesuatu yang diduga adalah sekelompok pendekar.
Shin Shui tidak terlalu memikirkan hal itu terlalu jauh, dia kembali melanjutkan perjalanannya. Namun kali ini dal kecepatan sedang sembari mengamati situasi.
Setelah jaraknya hanya tinggal sekitar lima lima puluh meter, Shin Shui turun dari dahan pohon. Dia berjalan perlahan mendekati kelompok pendekar tersebut.
"Lambang macan kumbang? Tidak salah lagi, mereka berasal dari sekte Macan Kumbang." gumamnya pelan setelah mengetahui siapa yang menghadang.
Shin Shui memperkenalkan dirinya kepada kelompok pendekar yang diduga dari sekte Macan Kumbang tersebut. Keempat pendekar tersebut memperlihatkan ekspresi kebencian kepada Shin Shui.
###
Thor kenapa belum ada romantisnya? Kenapa belum menceritakan tokoh lain atau blablabla? Sabar ya … ini baru awal. Beberapa chapter lagi ada sedikit romantisnya. Author gamau ngacak langsung kesana, sebab kalau terlalu bercerita jauh di awal pasti bakal ga nyambung. Semoga ada yang sejalan😊☕
__ADS_1