Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Tewasnya Petinggi Kerajaan Hutan Perbatasan


__ADS_3

San ong dan Ong dan mundur bersamaan, meskipun pertarungan mereka berjarak lumayan jauh, tapi ternyata keduanya memiliki ikatan. Sehingga satu sama lain bisa saling merasakan.


"Ong san, kita keluarkan jurus terlarang. Hanya dengan cara itu saja kita bisa mengalahkan mereka," kata San ong sambil memejamkan matanya.


Suaranya lirih, tapi bisa didengar oleh Ong san dengan sangat jelas.


"Bukankah efeknya akan berbahaya? Jika kita melakukan jurus terlarang itu, bisa-bisa, tuan muda terkena imbasnya," jawab Ong san.


"Tidak masalah. Jangan melakukannya dengan maksimal, separuhnya saja. Supaya efeknya akan mengenai musuh kita saja. Tidak kepada yang lain," balas San ong.


"Baik …" jawab Ong san dengan singkat.


Kedua siluman kera bersaudara itu lalu mundur lagi beberapa langkah. Mereka mulai mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.


Masing-masing dari lawan keduanya pun bersiap-siap untuk mengeluarkan jurus-jurus mereka.


"Amarah Dewa Kera …" teriak San ong dan Ong san secara bersamaan.


Tanah bergetar hebat. Deru angin menerpa lumayan kencang. Tiba-tiba saja tubuh kedua siluman kera putih itu membesar sehingga mirip dengan raksasa.


Sebuah tongkat emas muncul dari dalam telinga San ong dan Ong san. Tubuh yang tadinya putih, kini berubah menjadi cokelat kemerahan.


Semuanya kaget. Tak terkecuali Shin Shui, pasalnya karena dia baru pertama kali melihat kekuatan seperti ini dari dua hewan peliharaannya tersebut.


Masing-masing dari musuh keduanya tersentak. Padahal jurus gabungan mereka pun sudah terbentuk. Tapi melihat lawannya seperti demikian, para petinggi kerajaan itu gentar juga.


"Tongkat Emas Pembasmi Iblis …"


"WUSHH …"


Tongkatnya dia pukulkan ke bawah dimana terdapat para petinggi kerajaan. San ong dan Ong san bergerak secara bersamaan.


Semua musuh kaget. Hingga pada akhirnya setelah tongkat emas itu menghantam mereka, pertahanan jurusnya hancur. Mereka semua terpental dan langsung tewas dengan luka yang cukup mengerikan. Bahkan ada yang sampai kepalanya pecah.


Setelah pertarungan selesai dan semua musuhnya telah tewas, San ong dan Ong san pun kembali ke wujud normal. Keduanya terlihat sangay lemas, tenaga dalamnya habis.


Dua siluman kera putih bersaudara itu lalu menghampiri burung phoenix biru yang kini masih dalam proses mengumpulkan tenaga dalam.


Berbarengan dengan pertarungan mereka tadi, pertarungan Shin Shui pun tak kalah seru. Bahkan sepertinya pertarungan pemuda biru ini yang paling seru diantara pertarungan hewan peliharaannya tadi.


Keempat petinggi kerajaan yang melawan Shin Shui nyatanya lebih kuat daripada yang lain. Jika dilihat sekilas, mereka nampak biasa saja.


Namun jika lebih teliti, maka menurut penilaian Shin Shui, keempat petinggi tersebut setidaknya berada pada tingkatan setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga.

__ADS_1


Jika pendekar lain pastilah sangat sulit untuk mengalahkannya atau bahkan mungkin mustahil, untunglah yang jadi lawannya Shin Shui.


Dimana seperti yang kita ketahui, dia pernah mencapai Pendekar Dewa tahap tujuh. Jadi setidaknya pemuda biru itu bisa mengeluarkan jurus-jurus mengerikan, meskipun tidak maksimal karena keadaannya yang seperti sekarang ini.


"Bersiaplah untuk menjadi kera hitam panggang …" kata Shin Shui sambil meningkatkan kekuatannya lagi.


Keempat petinggi yang berupa siluman kera hitam mirip manusia sudah bergerak. Mereka menyerang dari empat sisi.


Dengan masing-masing senjata ditangan, keempat petinggi itu yakin bisa mengalahkan manusia yang berani mengacau kerajaannya.


Serangan datang dari empat sisi secara bersamaan, tapi dengan mudahnya Shin Shui menghindari serangan itu. Hanya melompat tinggi lalu mundur ke belakang, serangan mereka pun luput dari sasaran.


Shin Shui tak tinggal diam, pemuda biru itu mencabut Pedang Halilintar yang tersarung rapi di punggungnya. Kilatan halilintar langsung menyelimuti pedang pusaka tersebut.


Kali ini dia memilih menyerang lebih dulu, gerakannya yang cepat dan ringan, cukup untuk membuat keempat musuhnya sedikit kebingungan.


Tapi ternyata itu hanya sebentar saja, karena kini keempat petinggi tersebut bahkan bisa membaca dan dengan mudahnya menahan serangan Shin Shui.


Adu senjata pusaka sudah terjadi. Percikan bunga api dan suara yang nyaring sudah terdengar tiada henti. Perlahan tapi pasti, Shin Shui sedikit merasa kewalahan.


Pemuda biru itu melompat mundur ke belakang untuk mengeluarkan jurusnya.


"Tarian Ekor Naga Halilintar …"


"WUSHH …"


Gerakannya kadang cepat kadang lambat. Lagi-lagi keempat petinggi itu bisa mengimbangi jurus pedang andalannya tersebut.


Hal ini terjadi karena keempat petinggi itu menyerang dengan cara kerja sama yang baik. Dua menyerang dan dua bertahan. Kadang bergantian, tiga menyerang dan satu menjadi pengalih konsentrasi.


Keadaan begitu cukup lama terjadi. Hal ini membuat Shin Shui semakin geram. Karena sudah dua puluh jurus lebih, tapi dia tidak bisa melukai salahsatu dari empat petinggi itu.


Shin Shui kembali mundur. Dia menyarungkan Pedang Halilintarnya kembali. Karena menurutnya, percuma saja dia menyerang jika tidak ada hasil.


"Kalian yang memaksaku untuk melakukan ini," kata Shin Shui.


"Tapak Amarah Dewa …"


"WUSHH …"


Energi berupa tapak raksasa melesat menyerang keempat petinggi itu. Tapi dengan mudahnya mereka menahan serangan Shin Shui.


Kini giliran mereka yang menyerang dengan jurusnya, empat energi bola hitam melesat ke arah Shin Shui dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Pemuda biru itu tidak menghindar, dia masih berdiri menatap keempat bola hitam tersebut.


"Perisai Halilintar …"


"DUARR …"


Ledakan terjadi ketika dua jurus bertemu. Tempat berdirinya Shin Shui berubah menjadi sebuah lubang cukup dalam. Bajunya sedikit koyak.


"Tidak kusangka mereka mempunyai kekuatan seperti ini, andai kekuatanku seperti dulu. Pasti aku takkan merasa kewalahan menghadapi mereka." gumam Shin Shui sambil mengusut darah dari sudut bibirnya.


"Tidak ada cara lain, aku harus mengeluarkan jurus halilintar tingkat tinggi."


Shin Shui memejamkan matanya. Gemuruh halilintar terdengar dan menyambar ke tempat berdirinya pemuda biru tersebut.


"Sayap Halilintar Menutupi Langit …"


"WUSHH …"


Dua buah sayap yang mengeluarkan kilatan halilintar muncul. Semakin lama sayap itu semakin membesar. Shin Shui sedikit terbang ke atas, sayapnya mengepak dengan indah namun mengerikan.


"Kepakaan Sayap Halilintar …"


"WUSHH …"


Gelombang yang kuat melesat ke arah empat petinggi itu diiringi dengan sayapnya yang siap membungkus mereka. Kecepatannya lebih cepat daripada tadi. Ada kilatan halilintar yang keluar dari gelombang tersebut.


Di sisi lain, keempat musuhnya itu pun sudah siap. Jurus-jurus berupa benteng pertahanan terlihat berbeda-beda.


"DUARR …"


Lagi-lagi ledakan terdengar ketika jurus tingkat tinggi beradu. Mereka semua terpental, tak terkecuali Shin Shui.


Dia menabrak dinding kerajaan hingga retak. Tapi keempat lawannya terhempas lebih jauh dan menabrak bangunan istana hingga jebol.


Keempatnya tidak dapat bangun lagi. Mereka bergerak sebentar lalu diam selamanya. Mati.


Shin Shui mulai bangun kembali, punggungnya terasa remuk. Tapi semangatnya telah membuat dia lupa akan rasa sakit yang dideritanya.


###


Maaf kemaren engga up ya, ada urusan hehe. Ini gantiin yang kemaren, yang sekarang nanti ya. Dua lagi🙏


Semoga terhibur😁🙏

__ADS_1


__ADS_2